Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Sulawesi Barat Mandar
Sayoang dalam Lontaraq Pattodioloang
- 19 Januari 2018

Sayoang, daerah pegunungan yang berada dalam wilayah kecamatan Alu kabupaten Polewali Mandar, saat ini menjadi salah satu desa di kecamatan Alu bersama-sama dengan desa Alu, desa Kalumammang, desa Puppuring, desa Mombi dan kelurahan Petoosang. Wilayahnya yang berada jauh dari ibukota kecamatan dan letaknya yang cukup sulit dijangkau membuat Sayoang jarang disebutkan. Warga di desa Sayoang terkenal dengan komoditas penghasil  gula aren terbaik di kecamatan Alu.

Jika berbicara mengenai Sayoang zaman dahulu kala maka wilayah ini juga cukup terkenal dan berbatasan dengan wilayah kerajaan Alu. Sayoang memiliki Tomakaka, yang biasa disebut “Tomakaka Sayoang”, jauh sebelum munculnya istilah Maraqdia di wilayah Mandar maka sebelumnya dikenal Tomakaka, Tomakaka sendiri adalah orang yang dituakan dan dianggap sebagai pemimpin di wilayah tersebut. Entah mengapa tidak pernah didengar tentang “Maraqdia Sayoang” mungkin ini ada kaitannya dengan penaklukan kerajaan Alu dan Balanipa pada sayoang saat kedua kerajaan ini dahulu masih berjaya.

Membuka buku Lontarak 1 karya M. T. Azis Syah di halaman 48 maka anda akan menemukan bahwa Sayoang disebutkan dalam lontarak pattodioloang di Mandar. Dalam bagian ini dijelaskan bahwa Sayoang pernah diserang oleh dua kerajaan yang bersekutu, yaitu kerajaan Balanipa dan kerajaan Alu (tidak dijelaskan tahun berapa peristiwa penyerangan ini terjadi), oleh karena “ I Kaiyyang Palasang” pemimpin Sayoang tidak memiliki kearifan dalam membawahi Sayoang. Ia diketahui memiliki budi pekerti yang tak mencerminkan figur seorang pemimpin masa itu. tidak dijelaskan secara rinci siapa “ I Kaiyyang Palasang” ini,  namun besar kemungkinan ia adalah salah satu penerus dari Tomakaka Sayoang.

Dalam lontarak pattodioloang di Mandar disebutkan bahwa “Apa ditingara boi sajoang, siola bomi Alu to Balanipa. Apa masonga-songai  I Kaiyyang Palasang, kawatta-wattai tammasselaqlang. Katagga-taggalani. Rumpaq bomi Sajoang, nauwwang bomo litaq di Balanipa: “O ia jangan-jangan manriqba soqnaimo uala annaq ia urunganna naubeio saicco annaq dipandangnganang litaq di Balanipa annaq litaq di Alu. Napelitaq bomi alu Petoqosang ingganna buttu Pundanga, madroro naung di Bungaan” (MT Azis Syah, 1992)

Terjemahan dari  kutipan lontarak diatas yaitu “pada waktu sajoang diserang, Alu bersatu dengan Balanipa. karena I Kaiyyang Palasang kasar perangainya suka memerangi tidak pilih bulu, suka memegang perempuan. Sajoang kalah, berkata pula adat di Balanipa: “Rakyatnya kami ambil seluruhnya dan tanahnya saya berikan kami sekedarnya yaitu pada batas negeri Balanipa dengan perbatasan negeri di Alu. Maka menjadilah negeri Petoqosang bagian dari kekuasaan Alu sanpai ke buttu Pundanga lurus ke arah bawah Bungaan” (MT Azis Syah, 1992)

Dari petikan lontaraq pattodioloang di Mandar tersebut motif penyerangan terhadap suatu daerah di wilayah Mandar adalah dipengaruhi oleh sifat dari para pemimpinnya, jika diketahui pemimpinnya tidak memihak pada rakyat atau tidak mencerminkan sikap seorang pemimpin maka ia kemungkinan akan ditaklukkan. Dan wilayah-wilayah kerajaan di Mandar masih merupakan hal yang penting pada batas-batas wilayah kerajaan yang harus dipertegas, hal ini semakin menjelaskan bahwa kerajaan-kerajaan yang ada di Mandar masing-masing berdiri sendiri di atas kekuasaannya, tidak saling mengklaim wilayah, namun menghormati batas-batas wilayah tersebut. Peranan kerajaan Balanipa yang berstatus sebagai “bapak” di konfederasi kerajaaan “Pitu Baqbana Binanga” pada masa itu cukup strategis dengan persekutuannya dengan kerajaan Alu, satu kerajaan yang tidak termasuk dalam konfederasi kerajaan di pesisir.

Pusat kerajaan Alu dahulu saat ini terdapat di desa Allu, desa yang asri dibalik bukit tinggi dengan jalan setengah beton dan aspal serta beberapa jalan dengan kerikil lepas. Desa Allu  berjarak sekitar 10-15 km dari kecamatan Tinambung kabupaten Polewali Mandar. Jika berdasar pada isi lontaraq pattodioloang Mandar wilayah Sayoang dahulu sampai pada Petoqosang, namun setelah penaklukan yang dilakukan oleh Balanipa dan Alu, wilayah ini jatuh ke tangan Alu. Perbatasan ini dijelaskan dari Petoqosang sampai ke wilayah buttu Pundanga, lurus ke arah bawah Bungaan.

Source: http://www.kompadansamandar.or.id/sejarah/429-jejak-sayoang-dalam-lontaraq-pattodioloang-di-mandar.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker
Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu