Kabupaten Nganjuk memiliki makanan khas sate yang oleh masyarakat lebih kerap menyebutnya dengan "Sate Kenul" bentuknya yang unik pasti akan membuat Anda yang belum pernah mencoba, tentu jadi penasaran, bukan ? salah satu warung tak jauh dari jalan raya Jatikalen, tepatnya di sebelah timur Kantor Desa Lumpangkuwik menyediakan sate kenul yang biasanya dilengkapi dengan sayur usik.
Sate kenul ini memang cukup populer. Semuanya buatan sendiri. Dan malah menjadi menu khas yang menjadi menu favorit di warung tersebut. Sebenarnya sate kenul ini terbuat dari bahan daging kambing. Namun pada perkembangannya, juga ada yang dibuat dengan bahan daging sapi.
Pemilk warung menyediakan kedua jenis sate kenul dari daging kambing dan sapi karena permintaan pelanggan warungnya. Rasa sate kenul ini sangat istimewa yaitu rasa pedas dan manis begitu terasa saat digigit.
Sebenarnya tak sulit membuat sate kenul ini daging kambing muda dipotong ukuran satu centimeter atau lebih besar sesuai selera atau pesanan. Selanjutnya daging tersebut ditusuk dengan Tusuk sate dari bambu yang telah disiapkan.
Baru langkah berikutnya kita menyiapkan bumbu sebagai penyedap (cabe, gula, garam dan kelapa muda yang telah diparut). Bahan bumbu tersebut lalu dikepel-kepel agar semua bahan menyatu antara daging dan kelapa. Setelah itu sate kenul digoreng dengan minyak goreng hingga mengeluarkan aroma khas sate kenul. Setelah berwarna kekuning-kuningan matang , sate jenul diangkat dan tiriskan.Tapi tunggu dulu. Sate kenul akan lebih asyik dan nikmat bila disantap dengan sayur usik. Ya, masakan berkuah ini juga menjadi menu pelengkap sate kenul. Rasa khas dari masakan ini adalah rasanya yang asam dan pedas. Sayur usik ini dibuat dari campuran potongan kecil-kecil daging kambing dan dicampur balungan sapi (tulang sapi) lalu diberi bumbu-bumbu tertentu agar tampak bening kekuning-kuningan. Tapi bila Anda, ingin rasa manis, sayur usik bisa dikombinasikan dengan kecap.
Untuk satu porsinya, lezatnya sate kenul dengan sayur plus es teh bisa Anda nikmati dengan merogoh kocek Rp. 4.500,-. Tapi bila Anda ingin menambah 10 tusuk sate kenul, cukup membayar dengan Rp. 8000,-..
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara