Sate Karang merupakan makanan khas JogJakarta, khususnya disekitar daerah Kotagede. Makanan ini juga memiliki nama yang sangat unik sehingga tak heran banyak orang yang jadi penasaran dibuatnya. Sate ini dibuat dari daging sapi yang sudah dipotong kecil-kecil.
Sewaktu saya berkunjung ke Jogjakarta, saya menyempatkan untuk berkunjung ke tempat ini, karena menurut saya, sate karang merupakan sate yang paling enak dari sekian sate yang saya coba.
Dari kampung saya tidaklah terlalu jauh. Hanya dengan berkendara tak lebih dari 15 menit, saya sampai di lokasi Sate Karang tersebut. Setibanya saya di lokasi, warung ini telah dipadati oleh pengunjung. Popularitasnya memang telah terdengar dimana-mana, jadi tak heran jika warung ini selalu ramai pengunjung. Saya pun memesan satu porsi sate dan satu porsi lontong sebagai santap malam saya kali ini. Memang, sate ini cocok sekali jika dipasangkan dengan lontong.
Tak lama menunggu, pesanan saya pun datang juga. Seperti biasanya, potongan daging sapinya benar-benar lembut, dan bumbu kacangnya mantap. Sedangkan lontong sayurnya terasa gurih dan pedas.
Ketika disantap bersamaan, kelezatannya berlipat ganda. Kelezatan dan kekayaan rasanya seolah tidak bisa ditolak. Rasa gurih, pedas, manis, dan segar seolah berpadu menciptakan satu kesatuan rasa yang istimewa. Dengan keunikan serta kelezatan seperti ini, tak heran jika sate ini bisa menjadi sangat terkenal, dan ikon kuliner dari Kotagede. Untuk harga, satu porsi sate dan lontongnya seharga Rp. 25.000. Jelas lebih mahal dari sate pada umumnya. Tapi. dengan rasanya yang lezat, saya tidak keberatan dan saya biasanya memesan untuk dibawa pulang sehabis makan disana. Sekian.
#OSKMITB2018
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara