Makanan Minuman
Makanan Minuman
Makanan Jawa Tengah Ambal, Kebumen
Sate Ambal
- 11 Agustus 2018

     Sate, kuliner khas yang menjadi salah satu makanan favorite para pecinta makanan di Nusantara ini. Berbagai macam jenis sate ada di Indonesia, salah satunya adalah sate Ambal yang berasal dari kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Kebumen merupakan salah satu daerah pesisir pantai selatan yang berjarak kurang lebih 100 km dari Yogyakarta.

     Nama Ambal sendiri diambil dari daerah asal sate ini, yaitu di Kecamatan Ambal Kabupaten Kebumen. Bila anda datang ke daerah Kebumen pasti tidak akan sulit menemukan warung makan yang menyediakan kuliner khas Ambal ini.

     Yang membedakan sate Ambal dengan kebanyakan sate yang lainnya adalah dari bumbunya yang tidak menggunakan kacang ataupun kecap seperti yang lainnya. Sate Ambal disajikan dengan bumbu yang terbuat dari tempe. Bumbu sate Ambal yang berwarna coklat tersebut terbuat dari tempe rebus yang ditumbuk halus dengan beragam bumbu rempah-rempah dan tambahan cabai serta bawang goreng. Cita rasa bumbunya gurih, manis dan sedikit pedas. Sebenarnya , tanpa bumbu tempe, rasa sate ambal juga sudah enak. Karena sebelum dibakar, daging ayam direndam dalam bumbu rempah selama tiga jam agar meresap sempurna.Bumbu tersebut yakni pala, merica, ketumbar, jahe, kunyit, bawang merah, bawang putih, garam, dan gula jawa. Perpaduan rasa manis dan gurihnya rempah sate ambal ini hampir sama dengan citarasa dendeng.

     Sate Ambal sendiri biasa disajikan dengan sepiring lontong. Biasanya satu porsi sate ambal terdiri dari 20 tusuk sate. Memang sate ambal ini per porsinya lebih banyak dari kebanyakan sate yang biasanya hanya berisikan 5 sampai 10 tusuk sate. Potongan daging ayam dalam setiap tusuknya pun cukup besar dan tanpa lemak berwarna kekuningan nan cantik.Untuk harga, seporsi sate ayam Ambal dapat anda nikmati dengan harga Rp.34 ribu. Tentu bukan harga yang mahal karena porsinya yang begitu banyak dan bisa dinikmati berdua. Untuk harga, seporsi sate ayam Ambal dapat anda nikmati dengan harga sekitar Rp 34.000,00. Tentu bukan harga yang mahal karena porsinya yang begitu banyak dan bisa dinikmati berdua.

#OSKMITB2018

Sumber : Tribunjogja.com (http://jogja.tribunnews.com/2016/08/01/sate-ambal-sate-khas-kebumen-dengan-bumbu-tempe?page=2.)

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker