“Mencintai kuliner Indonesia, menginspirasi dunia!”
Oleh: Yolanda Victoria Rajagukguk, Marcellus Arnold, Tri Oktaviani, Emely, dan Rio Lawandra
Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Ilmu Hayati, Universitas Surya, Tangerang 15810
Jika Anda berkunjung ke Yogyakarta, ada salah satu kuliner yang menarik yang harus Anda coba, yaitu Sangga Buwana. Sangga Buwana ini menjadi salah satu makanan favorit Sri Sultan Hamengkubuwono VIII (HB VIII). Makanan yang biasanya disantap sebagai makanan pembuka ini terdiri dari kue sus, rogut daging, telur ayam rebus, selada, mayones, dan acar. Sangga Buwana terdiri dari kata “Sangga” yang artinya menyangga, dan “Buwana” yang artinya bumi/alam semesta. Secara harafiah makanan ini dapat diartikan sebagai simbol penyangga dunia beserta segala isinya. Bahan makanan yang menyusun makanan ini memiliki arti tersendiri, misalnya kue sus sebagai simbol bumi, selada sebagai simbol tanaman yang menyangga bumi, dan rogut daging melambangkan rakyat dan keanekaragaman di dalam bumi. Kemudian ada telur ayam rebus sebagai gunung, mayones sebagai langit, dan acar sebagai bintang (Sunjata, 2016).

Gambar 1. Sangga Buwana (sumber: ramadan.liputan6.com)
Memahami permasalahan rakyat dan menyejahterakan rakyatnya merupakan kewajiban dari seorang raja. Dalam melaksanakan kewajibannya, raja keraton Surakarta sering kali meluangkan waktu untuk melihat kondisi rakyatnya dari tempat yang tinggi. Tempat ini dinamakan panggung Sangga Buwana yang berada di keraton Surakarta. Sebagai sarana komunikasi dengan masyarakat luas, panggung ini merupakan simbol penting bagi keberadaan raja yang hadir untuk menyangga kehidupan rakyatnya. Keberadaan raja di panggung Sangga Buwana ini diharapkan agar raja selalu ingat akan tugas mulianya, yaitu menyejahterakan rakyatnya (Yuwono, 2016).
Pada keraton Yogyakarta, simbolisasi kewajiban raja tersebut dihadirkan melalui sebuah menu makanan hasil akulturasi budaya lokal dengan budaya Eropa dan Asia (Yuwono, 2016). Pada masa pemerintahan HB VII, makanan di dalam keraton didominasi oleh makanan khas Jawa. Akulturasi budaya makanan (khususnya menu makanan dengan aroma Barat) banyak terjadi ketika keraton mulai dipimpin oleh HB VIII (Budi, dkk., 1996). Pencampuran budaya tersebut tersimbol dari jenis bahan makanan yang digunakan. Kue sus yang berasal dari Belanda, mayones dari Perancis, serta rogut dan acar dari negara-negara di Asia (Sunjata, 2016). Makanan Sangga Buwana sendiri diciptakan oleh R.W Hendrobudjono yang memimpin Pawon Prabeyo di keraton pada masa pemerintahan HB VIII (1921-1939) (Gardjito, dkk., 2010). Pada masa pemerintahan HB VIII, makanan juga diinterpretasikan sebagai simbol keadaan politik dalam keraton. Pencampuran budaya dalam sepiring Sangga Buwana merupakan simbol kesultanan Yogyakarta yang siap beradaptasi terhadap perubahan situasi politik kesultanan akibat keberadaan Belanda (Yuwono, 2016).

Gambar 2. Sri Sultan Hamengkubuwono VIII (sumber: collectie.tropenmuseum.nl)
Sangga Buwana yang dulu hanya dapat dinikmati sebagai kudapan oleh tamu-tamu penting kerajaan dan saat hajatan atau resepsi pernikahan kerajaan di keraton, kini sudah tidak asing lagi bagi masyarakat luas, khususnya masyarakat Yogyakarta. Sangga Buwana dan makanan keraton lainnya dapat dengan mudah ditemukan di restoran khas keraton seperti Gadri Resto dan Bale Raos ataupun di pasar-pasar sekitar wilayah Yogyakarta (Sholekhudin, 2008). Sangga Buwana kini juga sering kali disajikan sebagai hidangan khusus dalam resepsi pernikahan masyarakat Yogyakarta. Di dalam resepsi pernikahan, makanan ini hadir sebagai simbol kemandirian sepasang manusia yang baru saja menikah. Pasangan yang telah menikah harus mampu menyangga kehidupannya dengan tidak bergantung pada orang tua, dan siap menghadapi asam, manis, dan garam kehidupan yang disimbolkan dari rasa yang ada dalam makanan Sangga Buwana (Wahyuni, 2016).
Tahapan dalam membuat makanan Sangga Buwana ini dibagi menjadi dua, yaitu pembuatan kue sus dan pembuatan rogut daging. Berikut adalah bahan-bahan yang digunakan dalam membuat kue sus dan rogut daging ayam (5 porsi) beserta cara memasaknya:
Bahan pembuatan kue sus (5 porsi):
Bahan pembuatan rogut daging ayam (5 porsi):
Bahan tambahan lain yang perlu disiapkan:
Proses pembuatan kue sus Sangga Buwana (5 porsi):
Proses pembuatan rogut daging ayam (5 porsi):
Dalam menyajikan Sangga Buwana, selada diletakkan sebagai alas dari kue sus Sangga Buwana. Hal ini melambangkan tanaman yang menyangga bumi. Kemudian kue sus diletakkan di atasnya, di mana kue sus ini diisi dengan rogut daging (baik daging ayam maupun daging sapi) yang melambangkan bumi dan segala isinya (termasuk penduduk bumi atau rakyat). Setengah butir telur ayam rebus kemudian diletakkan di atas kue sus sebagai simbol gunung, dan ditambahkan acar timun serta disiram mayones yang secara berturut-turut melambangkan bintang dan langit.
Seiring terjadinya perubahan kondisi sosial dan ekonomi, makanan Sangga Buwana yang hadir di masyarakat kebanyakan telah mengalami modifikasi dari segi resep dan bahan baku. Sebagai contoh substitusi daging ayam sebagai pengganti daging sapi untuk bahan baku rogut. Kemudian untuk memaksimalkan penggunaan bahan baku lokal, digunakan tepung sukun sebagai bahan baku kue sus dan buah sukun untuk mayones. Penambahan bahan makanan seperti emping juga dilakukan untuk menambah kenikmatan hidangan Sangga Buwana ini (Wahyuni, 2016).
Referensi:
Budi NS, Adrianto A, Mudjijono, Sumarno, Maharkesti RA. 1996. Tradisi Makan dan Minum di Lingkungan Kraton Yogyakarta. Kasniyah N (Ed.). Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Gardjito M, Indrati R, Amaliah. 2010. Menu Favorit Para Raja: Potret Kekayaan Kuliner Yogyakarta “Kersanan Ndalem”. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Sholekhudin M. 2008. Intisari: Wisata Jajan Yogyakarta. Jakarta: Penerbit Majalah Intisari.
Sunjata WP. 2016. Makanan Keraton Sangga Buwana. Wawancara dilakukan oleh Arnold M, Lawandra R, Rajagukguk YV, Emely, dan Oktaviani T pada tanggal 21 Oktober 2016, pukul 08.30 WIB.
Wahyuni N. 2016. Makanan Keraton Sangga Buwana. Wawancara dilakukan oleh Arnold M, Lawandra R, Rajagukguk YV, Emely, dan Oktaviani T pada tanggal 1 November 2016 pukul 14.05 WIB.
Yuwono P. 2016. Kuliner Keraton Masa Pemerintahan Sultan Hamengkubuwono VII, VIII, dan IX. Wawancara dilakukan oleh Arnold M, Lawandra R, Rajagukguk YV, Emely, dan Oktaviani T pada tanggal 25 Oktober 2016, pukul 13.30 WIB.
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...