Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Nusa Tenggara Barat lombok
Sandubaya dan Lala Seruni
- 13 Desember 2014

Sandubaya dan Lala Seruni adalah sepasang suami istri yang tinggal di wilayah Kerajaan Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Paras Lala Seruni yang cantik membuat Raja Lombok tergila­gila pada istri Sandubaya itu dan bermaksud merebutnya. Berhasilkah rencana keji Raja Lombok tersebut? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Sandubaya dan Lala Seruni berikut ini.

Dahulu, saat Kerajaan Lombok dipimpin oleh Prabu Kertajagat atau Prabu Kertajaya, hiduplah sepasang suami istri muda, yaitu Sandubaya dan Lala Seruni. Kecantikan Lala Seruni tiada duanya di negeri itu. Wajahnya bagaikan bulan purnama, putih bersih dan cemerlang bersinar. Suatu malam, Sandubaya bersama istrinya sedang beribadah di Pura Kayangan. Dengan khusyuk, keduanya duduk di atas sehelai tikar sambil mengatupkan kedua telapak di depan ubun­ubun dan ujung jari­jari mereka menjepit sehelai bunga. Di depan mereka tampak sebuah dupa sebagai pengantar sembah mereka kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Usai berdoa, keduanya pun bersiap­siap untuk pulang. Ketika mereka hendak meninggalkan pura, tiba­tiba Prabu Kertajaya datang bersama rombongannya juga bermaksud untuk bersembahyang. Melihat kedatangan sang Raja, Sandubya dan Lala Seruni segera memberi hormat. Prabu Kertajaya pun membalasnya dengan senyum dan tatapan penuh kekaguman kepada Lala Seruni. Ia terus memperhatikan istri Sandubaya itu saat berjalan meninggalkan pura hingga hilang dari pandangannya.

“Hai, Patih! Siapa wanita cantik itu? Apakah kamu mengenalnya?”

“Hamba, Baginda Prabu! Wanita itu bernama Lala Seruni, sedangkan pemuda yang bersamanya itu adalah suaminya. Mereka baru saja menikah beberapa hari yang lalu,” jelas sang Patih. Rupanya, Prabu Kertajaya terpikat pada kecantikan Lala Seruni. Wajah cantik wanita itu terus berbayangbayang dan mengganggu konsentrasinya saat bersembahyang. Pada saat itu, timbullah niatnya untuk memperistri Lala Seruni, walaupun wanita cantik itu telah bersuami.

“Aku harus mendapatkan wanita cantik itu,” kata Prabu Kertajaya dalam hati. Usai sembahyang, sang Prabu segera mengajak rombongannya kembali ke istana dan mengumpulkan para penasehatnya di ruang sidang untuk membicarakan rencana tersebut. “Lala Seruni adalah wanita tercantik yang pernah aku lihat di negeri ini. Aku harus merebutnya dari tangan Sandubaya,” kata sang Prabu kepada para penasehatnya, “Apakah di antara kalian ada yang tahu caranya?”

Semua pembesar kerajaan yang hadir terdiam sejenak. Mereka sedang berpikir keras untuk menjawab pertanyaan raja mereka. Tak berapa lama kemudian, sang Patih angkat bicara untuk menyampaikan isi pikirannya kepada sang Prabu.

“Ampun, Baginda Prabu! Hamba tahu caranya,” kata sang Patih.

“Apakah itu, wahai Patih? Ayo, cepat katakan!” desak Prabu Kertajaya dengan tidak sabar.

“Menurut hamba, sebaiknya kita mengajak Sandubaya berburu ke hutan lalu kita lenyapkan nyawanya dengan seolah­olah diterkam binatang buas. Dengan cara ini, Lala Seruni tidak akan mencurigai kita,” saran sang Patih.

“Wah, kamu memang cerdas, Patihku,” puji sang Prabu, “Aku terima usulan itu.” Keesokan harinya, Prabu Kertajaya segera mengutus beberapa orang prajuritnya ke rumah Sandubaya untuk mengajaknya berburu ke hutan Gebong. Setiba di sana, para utusan segera menyampaikan perintah sang Prabu kepada Sandubaya. Sementara itu, betapa terkejutnya Sandubaya dan Lala Seruni saat melihat kedatangan mereka yang secara tiba­tiba. Apalagi, baru kali mereka didatangi oleh para prajurit kerajaan.

“Maaf, ada apa gerangan tuan­tuan datang ke mari?” tanya Sandubaya penasaran.

“Begini, Sandubaya. Kami diutus ke mari untuk mengajak kamu pergi berburu ke hutan Gebong bersama sang Prabu,” ungkap salah seorang utusan, “Besok pagi sang Prabu menunggumu di istana untuk kemudian berangkat bersama­sama ke hutan.’ Sandubaya tak kuasa menolak ajakan sang Prabu. Ia adalah rakyat yang amat taat kepada rajanya. “Baiklah, Tuan! Hamba siap memenuhi titah sang Prabu,” jawab Sandubaya. Setelah para utusan tersebut pergi, Lala Seruni mendekati suami tercintanya. “Kakak, sejak kedatangan prajurit tadi, Adik merasakan firasat yang buruk dengan ajakan raja itu. Sebaiknya Kakak mengurungkan niat itu,” bujuk Lala Seruni.

“Adikku, relakanlah Kakak pergi. Semoga saja tidak akan terjadi sesuatu pada diri Kakak,” kata Sandubaya menenangkan hati istrinya.

“Bila besok kuda Kakak Gagar Mayang pulang sendirian, itu berarti Kakak telah tiada. Kakak menunggumu di pantai Manganga Baris,” pesan Sandubaya lebih lanjut. Keesokan harinya, Sandubaya memacu kudanya yang bernama Gagak Mayang menuju istana dan diikuti oleh anjing kesayangannya yang bernama Getah. Setiba di istana, ia bersama dan rombongan Prabu Kertajaya pun berangkat ke hutan Gebong dengan membawa alat perburuan seperti tombak, golok, dan panah. Setiba di hutan Gebong, semua anggota rombongan segera mencari binatang buruan. Sementara itu, Sandubaya terlihat seorang diri menunggang kudanya sedang mengincar seekor babi hutan yang bersembunyi di balik rerimbunan semak belukar. Dengan konsentrasi penuh, ia perlahan­lahan menarik tombak yang ada di tangannya lalu melemparkannya ke arah babi hutan itu. Apa yang terjadi?

“Aduuuuh….!” Sandubaya menjerit kesakitan karena sebuah tombak menancap di punggunngnya. Ia pun terjatuh dari atas punggung kudanya dan tewas seketika. Rupanya, bersamaan dengan ia melemparkan tombaknya ke arah babi hutan itu, seorang prajurit menombaknya dari belakang. Melihat tuannya tak bergerak lagi, si Getah menyalak dan segera menyerang prajurit itu. Namun, anjing kesayangan Sandubaya itu pun ditombak oleh para prajurit hingga mati. Kuda Gagar Mayang yang melihat peristiwa itu segera berlari pulang. Sementara itu, di rumah, Lala Seruni sudah gelisah sejak kepergian suaminya. Ia terus berdoa agar lakilaki yang dicintainya tetap selamat. Namun, semua harapan itu pupus saat melihat Gagar Mayang pulang sendirian.

“Oh, Kakak! Kamu benar­benar telah pergi meninggalkan Adik,” kata Lala Seruni.

Tanpa berpikir panjang, Lala Seruni segera menunggangi kuda Gaga Mayang lalu memacunya menuju hutan Gebong. Setibanya di sana, ia pun tak kuasa menahan tangis saat melihat mayat suaminya. Prabu Kertajaya pun dengan kepura­puraannya berduka cita atas kematian Sandubaya di hadapan Lala Seruni.

“Maafkan kami, Lala Seruni! Kami tidak dapat menyelamatkan nyawa suamimu dari amukan babi hutan,” bujuk Prabu Kertajaya. Meskipun tahu bahwa suaminya meninggal bukan karena kecelakaan, Lala Seruni tidak berkata apa­apa. Ia hanya pasrah atas nasib yang menimpa suaminya. Dengan bantuan para prajurit, mayat Sandubaya pun dibawa pulang untuk dikuburkan. Keesokan hari, Prabu Kertajaya pun mengirim utusannya untuk menjemput Lala Seruni untuk dibawa ke istana. Mulanya, istri Sandubaya itu menolak. Namun, ia tidak kuasa melawan puluhan prajurit yang memaksanya. Kuda Gagak Mayang milik Sandubaya yang juga akan dibawa serta pun menolak dan menyepak para prajurit yang hendak menariknya. Malang nasib kuda itu, ia terpaksa ditombak oleh para prajurit tersebut hingga mati. Setelah Lala Seruni tiba di istana, sang Prabu mulai membujuknya untuk dinikahi. Namun, janda muda itu menolaknya. Ia pun semakin yakin bahwa suaminya mati bukan karena kecelakaan tetapi memang sengaja dicelakai oleh sang Prabu yang ingin sekali menikahi dirinya. Hal itulah yang membuat sedih Lala Seruni. Berhari­hari ia mengurung diri di dalam kamar serta tidak mau makan dan minum. Walaupun Prabu Kertajaya telah berkali­kali menjenguk dan membujuknya, ia tetap menolak untuk menikah dengan raja yang bengis itu. Setelah hatinya mulai tenang, Lala Seruni mulai terbuka pikirannya.

“Kini saatnya aku harus bertindak,” katanya dalam hati. Ketika sang Prabu datang lagi untuk membujuknya, Lala Seruni pun berkata. “Baiklah, Baginda Prabu. Hamba mau menikah dengan Baginda tapi dengan satu syarat,” ungkap Lala Seruni.

“Apa pun syarat itu, akan kupenuhi wahai calon permaisuriku yang cantik,” kata Prabu Kertajaya dengan nada merayu.

“Sebelum kita menikah, izinkan hamba mandi di pantai Menanga Baris,” pinta Lala Seruni.

“Oh, tentu. Itu syarat yang amat mudah,” jawab Kertajaya, “Besok aku akan mengantarmu ke sana.” Pada esok hari, Prabu Kertajaya bersama para punggawanya mengantar Lala Seruni ke Pantai Menanga Baris. Setiba di sana, mereka pun mandi dengan bersuka ria. Lala Seruni tampak gelisah menunggu kedatangan suaminya. Agar gelagaknya tidan dicurigai oleh sang Prabu, ia sesekali menyelam dan memercikkan air pada wajahnya. Tak berapa lama kemudian, tiba­tiba sekuntum teratai berwarna merah dan besar muncul dari tengah laut.

“Baginda, tolong ambilkan teratai itu untuk hamba!” pinta Lala Seruni. Prabu Kertajaya pun segera memerintahkan beberapa prajuritnya untuk mengambil teratai itu. Ketika salah seorang dari mereka hendak memetiknya, tiba­tiba sekawanan ikan datang menyerang mereka hingga terluka parah. Melihat kejadian itu, sang Prabu segera turun tangan. Namun, ia pun diserang oleh kawanan ikan yang ganas itu hingga terluka. Sementara itu, bunga teratai yang besar itu terus bergerak menuju ke tempat Lala Seruni berdiri. Begitu mendekat, Lala Seruni pun naik ke atasnya. Dengan cepat, teratai itu bergerak ke tengah laut dan mengantarkan Lala Seruni ke tempat penantian suaminya. Menyaksikan kejadian itu, sang Prabu dan para prajuritnya hanya bengong. Mereka tidak mampu mencegahnya. Lala Seruni pun semakin jauh ke tengah laut hingga dari pandangan mereka. Menurut cerita, Lala Seruni dikabarkan hilang dan bertemu dengan suaminya di alam arwah. Sementara itu, kakak Sandubaya yang bernama Demung Brangbantun murka mendengar kesewenangwenangan Prabu Kertajaya terhadap adik dan iparnya. Ia pun menyiapkan pasukannya untuk menyerang Prabu Kertajaya. Menurut cerita, pertempuran tersebut berlangsung cukup lama. Suatu hal yang menarik dalam peperangan ini adalah pasukan Kertajaya menggunakan senjata berupa binatang laut, sedangkan pasukan Demung Brangbantun menggunakan jajanan dan makanan lainnya. Penggunaan senjata yang demikian diusulkan oleh Prabu Rangkasari untuk menghindari korban jiwa. Akhirnya, pasukan Demun Brangbantun berhasil mengalahkan pasukan Kerajaan Lombok. Kekalahan itu membuat Raja Kertajaya malu sehingga ia membenturkan kepalanya ke batu hingga akhirnya tewas di tempat. Sepeninggal Kertajaya, tahta Kerajaan Lombok diduduki oleh Prabu Rangksari. Raja Lombok yang baru itu amat cinta kedamaian. Ia pun mengajak Demung Brangbantun berdamai. Kakak Sandubaya itu pun menyetujuinya. Akhirnya, Kerajaan Lombok kembali aman dan tenteram di atas kepemimpinan Prabu Rangksari yang adil, arif, dan bijaksana.

Demikian cerita Sandubaya dan Lala Seruni dari daerah Nusa Tenggara Barat. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa kesetiaan dalam rumah tangga harus selalu dijaga sampai akhir hayat, seperti halnya Sandubaya dan Lala Seruni. Pesan lain yang dapat dipetik adalah bahwa pemimpin yang suka bertindak sewenang­wenang seperti Prabu Kertajaya pada akhirnya akan mendapatkan balasan yang setimpal. Sebaliknya, pemimpin yang cinta kedamaian seperti Prabu Rangkasari akan dicintai dan dihormati oleh rakyatnya.

 

http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/252-Sandubaya-dan-Lala-Seruni

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu