Memanjatkan doa, memuja kebesaran Sang Khalik. Abdi Dalem Kesultanan Ngayogyakarta dan Surakarta seakan tak ingin lepas dari ketakziman.
Sosok raja diagungkan. Arwahnya pun didoakan dengan khusyu. Orang-orang di lingkaran dalam Kesultanan itu percaya bahwa dengan berdzikir di beranda makam keluarga Kerajaan Mataram adalah bentuk pengabdian tertinggi untuk para leluhur Tanah Jawa.
Ritual di pemakaman keluarga kerajaan, baik di kawasan Kota Gede maupun Imogiri, disebut sebagai prosesi sadran. Momentumnya jatuh menjelang bulan suci Ramadhan, bulan Ruwah dalam kalender Jawa atau bulan Sya`ban dalam penanggalan Arab.
Bila ditelusur ke belakang, jejak sadran di Tanah Jawa terekam jelas di era Majapahit sekitar penghujung abad ke-13 atau ketika tradisi Hindu-Buddha melekat kuat. Sadran pada masa itu disebut sadra.
Kata sadra berasal dari bahasa Sansekerta yang secara ilmu asal usul suatu kata (ttimologis) bermakna ziarah kubur. Dalam bahasa Kawi disebut sraddha atau peringatan kematian seseorang.
Awalnya, sadran memang dikenal sebagai peringatan hari kematian raja yang telah mangkat. Kematian penguasa ketiga Kerajaan Majapahit Tribhuwana Wijayatunggadewi pada 1350 menorehkan sejarah digelarnya upacara sraddha.
Satu dekade kemudian, upacara sraddha kembali digelar di Kerajaan Majapahit oleh Raja Prabu Hayam Wuruk, untuk memperingati kematian istri Raja Pertama Majapahit Raden Wijaya, yakni Gayatri.
Kala itu dalam tlatah Jawa hidup sebuah keyakinan leluhur bahwa yang sudah meninggal dunia, sejatinya masih ada dan turut mempengaruhi kehidupan anak cucu dan keturunannya. Seiring pergeseran sejarah, sekitar abad ke-15, ketika beberapa tokoh Walisongo mulai menyiarkan agama Islam di Pulau Jawa.
Beberapa tradisi Hindu-Buddha dibiarkan tetap hidup di masyarakat. Kendati begitu, ada perubahan makna seperti ritual sadran, misalnya. Jika sadran dikenal untuk memperingati kematian seseorang dan memuja arwah leluhur, pada abad 15 sadran hanya ziarah kubur yang dihiasi dengung tahmid dan dzikir.
Saat bulan Ramadhan tiba, tradisi sadran digelar. Sederhananya, tradisi nyadran adalah ziarah kubur yang diisi dengan pesta syukur hasil bumi. Ritual nyadran bahkan mampu menjadi magnet yang menarik warga di perantauan untuk pulang.
Hal itu seperti terjadi di Desa Mendak, Klaten, Jawa Tengah. Lebih dari seribu warga menyesaki kampung dan bergerak ke areal pemakaman yang menjadi sentral nyadran. Inti dari prosesi itu adalah mendoakan mereka yang telah tiada.
Prosesi nyadran yang digelar di Klaten dibuka dengan mengarak tumpeng robyong dan sesaji keliling desa. Prosesi tersebut menandakan kebersamaan, karena dilaksanakan dari warga dan untuk warga.
Di Klaten, makam Kyai dan Nyi Bogowonto dipercaya warga sebagai tempat yang cocok untuk berdoa. Mereka juga memanjatkan syukur kepada Yang Kuasa atas hasil panen, sekaligus memohon untuk kepentingan pribadi masing-masing. Ya, mimpi sejahtera dari seluruh warga diharapkan terwujud melalui ritual nyadran.
Seperti diketahui, Tanah Jawa dikenal sebagai tanah ritual yang sebagian masyarakatnya punya cara tersendiri untuk berterimakasih kepada yang Maha Kuasa, yakni dengan menggelar pesta. Hal itu seperti terjadi di Sendang Sinongko, Klaten, Jateng, yang menggelar pesta potong kambing untuk mensyukuri karunia dari Tuhan.
Sendang sinongko sendiri mempunyai sejarah dan daya tarik tersendiri. Warga percaya Raja Surakarta Sinuwun ke VII pernah singgah ketika dalam perjalanan ke Yogyakarta. Di situ sang raja sempat beristirahat sambil menyantap buah nangka sehingga kawasan tersebut diberi nama sendang sinongko.
Tak hanya nyadran, ritual membersihkan sendang atau kolam di pegunungan disebut syahdanjuga berawal dari sebuah legenda. Saat itu diceritakan, ada seorang petani yang bermimpi bertemu seseorang yang memintanya bersedekah dan memberi sesaji, berupa nasi tumpeng dan kambing dimasak becek serta minuman dawet. Usai menjalankan tradisi itu, panen petani melimpah.
Sampai sekarang warga percaya dan mengikuti jejak petani dalam cerita yang dipercaya memberikan kemakmuran hidup bagi mereka. Upacara yang dilaksanakan tiap tahun itu ditutup dengan makan bersama seluruh warga desa.(BJK/SHA)
Sumber: https://www.liputan6.com/news/read/289649/sadran-tradisi-turun-temurun-warga-jawa
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...