Makanan Minuman
Makanan Minuman
kuliner Jawa Timur Jawa Timur
Rujak Kikil Saus Petis - Jawa Timur - Jawa Timur
- 14 Maret 2018

BAHAN:
• 250 gr kikil sapi
• 200 gr cingur sapi
• 100 gr tempe
• 100 gr tahu
• 100 gr kangkung
• 100 gr tauge
• 1000 ml air untuk merebus
• 300 ml minyak goreng
• Lontong untuk pelengkap
SAUS:
• 100 g kacang tanah
• 50 g gula merah 0 1 sdm gula pasir
•2 sdm petis udang
•3 siung bawang putih
• 1/2 sdt garam
• 50 ml air asam jawa
CARA MEMBUAT RUJAK KIKIL SAUS PETIS:

  • Bersihkan kikil dan cingur dari bulu-bulu yang tertinggal lalu cuci bersih. Didihkan 750 ml air dengan api besar lalu rebus kikil dan cingur secara terpisah hingga matang dan empuk. Angkat dan tiriskan. Setelah agak dingin, kikil dan cingur dipotong-potong kecil, sisihkan. Tahu dan tempe dipotong dadu kecil. Panaskan minyak dengan api sedang, lalu goreng potongan tempe dan tahu secara terpisah hingga matang berwarna kecokelatan. Angkat dan tiriskan, sisihkan.
  • Cuci kangkung dan tauge. Kangkung , dipetiki daunnya dan tauge dibuang akarnya, sisihkan. Didihkan sisa air dengan api besar lalu rebus daun kangkung selama 10 menit. Angkat dan tiriskan, sisihkan. Didihkan lagi air bekas kangkung lalu rebus tauge selama 5 menit. Angkat dan tiriskan, sisihkan.
  • Saus: sangrai kacang tanah hingga kering dan bawang putih hingga kekuningan, lalu tumbuk kasar keduanya. Sisihkan. Haluskan gula merah, gula pasir, petis, dan garam. Tambahkan kacang tanah dan bawang putih. Haluskan lagi hingga lembut, lalu tambahkan air asam jawa. Aduk-aduk hingga rata. Sisihkan
  • Lontong dipotongpotong dan taruh dalam beberapa mangkuk saji. Lalu berturut-turut susun kangkung, tauge, tahu, tempe, kikil dan cingur. Kemudian siram rujak kikil dengan saus kacang dan sajikan segera dengan kerupuk udang atau emping.

https://hobimasak.info/resep-rujak-kikil-saus-petis/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker