Ritual
Ritual
Ritual Sulawesi Tengah Luwuk
Ritual Tumpe
- 15 Mei 2018

Luwuk - Di Luwuk, Sulawesi Tengah ada ritual adat Tumpe yang menarik untuk dilihat traveler. Lebih menarik lagi, ada kisah anak ajaib nan mistis yang menyelimutinya.

Ritual adat Tumpe adalah ritual adat tahunan yang diselenggarakan oleh masyarakat Batui dan Banggai. Tumpe adalah telur pertama dari burung Maleo. Awal mula diadakannya ritual adat Tumpe ini ternyata diselimuti nuansa mistis.

Dikumpulkan detikTravel, Kamis (10/8/2017), kisah ini berawal dari perjalanan Adisoko dari tanah Jawa ke Sulawesi Tengah, dan kemudian menjadikannya sebagai Raja Pertama di Banggai. Sebutannya adalah Mumbu Doi Jawa yang artinya Tuan dari Jawa.

Adisoko pun menikah dengan perempuan gaib yang memberikannya anak ajaib yaitu Abu Kasim. Saat Abu Kasim di dalam kandungan, Adisoko memutuskan untuk kembali ke tanah Jawa. Selama 10 tahun, rakyat Banggai hidup tanpa adanya kepala pemerintahan. Masyarakat pun jadi resah karena menginginkan sosok pemimpin untuk Keraton Banggai.

Telur burung Maleo (Bonauli/detikTravel)Telur burung Maleo (Bonauli/detikTravel)

Pada saat itu muncul lah seorang nenek ajaib yang mengatakan kepada masyarakat bahwa mereka bisa mendapatkan kembali raja mereka dengan cara menangkap seorang anak ajaib yang memiliki tali gasing dari emas. Anak itu adalah Abu Kasim.

Ditangkap di tengah hutan, Abu Kasim diminta untuk menjemput kembali Adisoko ke tanah Jawa. Abu Kasim mengajukan syarat dalam penjemputan itu, ia meminta 40 anak bayi laki-laki beserta gendongan kayunya untuk menemaninya berlayar menjemput Adisoko.

Sesampainya di kawasan bernama Kibit, tiba-tiba sebuah kilat menyambar dari langit. Dengan kekuatan ajaib Abu Kasim dan kilat tersebut anak-anak bayi yang berada di dalam kapal berubah menjadi pemuda.

Abu Kasim akhirnya tiba di tanah Jawa menemui ayahnya. Ketika itu Adisoko sudah tidak ingin kembali ke Banggai. Namun Abu Kasim merasa belum sanggup untuk memerintah rakyat Banggai.

Selama ritual pengantaran telur, akan ada keturunan leluhur yang kesurupan untuk memimpin jalan (Bonauli/detikTravel)Selama ritual pengantaran telur, akan ada keturunan leluhur yang kesurupan untuk memimpin jalan (Bonauli/detikTravel)

Akhirnya Abu Kasim diminta untuk menjemput kakak tirinya yang bernama Mandapar di Ternate. Bersamaan dengan itu, Adisoko menyerahkan sepasang burung maleo miliknya kepada Abu Kasim.

Setelah itu Mandapar akhirnya memerintah di Keraton Banggai bersama Abu Kasim. Lama berselang burung maleo pemberian Adisoko tidak menghasilkan telur karena di Banggai tidak ada pasir.

Burung maleo akhirnya dikirim ke Batui supaya bisa bertelur. Namun dengan satu syarat, telur pertamanya harus diberikan kepadanya di Keraton Banggai. Setelah itu baru masyarakat Batui boleh menikmati telurnya.

Telur diantar ke Keraton Banggai naik kapal (Bonauli/detikTravel)Telur diantar ke Keraton Banggai naik kapal (Bonauli/detikTravel)

Sejak saat itulah, Ritual Tumpe ini dilakukan di Banggai sampai sekarang. Masyarakat Batui sudah menjaga ritual ini selama ratusan tahun lamanya. Ritual ini tidak boleh diadakan terlambat atau tidak dilaksanakan. Nanti masyarakat akan kena bala atau suatu musibah.

Percaya tidak percaya memang, tetapi ini adalah tradisi yang setiap tahun diselenggarakan. Bagi traveler yang ingin ikut serta mengambil gambar atau video dari ritual ini juga harus memberikan sesajen berupa kemenyan. Jika terlambat atau tidak memberikan sesajen, diyakini gambar yang diambil akan hilang atau traveler sendiri yang akan terkena musibah.

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUDON TANO (PERIUK TANAH)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
BENDA MAGIS MASYARAKAT BATAK
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
Cara menghubungi call center ayopinjam
Seni Pertunjukan Seni Pertunjukan
DKI Jakarta

Hubungi Call Center AyoPinjam Resmi Di Nomor ☎ 0831•6926•5049, Kontak WhatsApp Cs AyoPinjam 📞0857•5833•7054 Layanan Bantuan Kendala. Live Chat AyoPinjam Menyediakan Layanan Kontak Percakapan Atau Live Chat Yang Terdapat Pada Aplikasi AyoPinjam. Layanan Ini Tersedia Setiap Hari Online 24 jam.

avatar
Pinjamflexi1999