Makanan Minuman
Makanan Minuman
Makanan khas Tangerang Selatan Banten Kota Tangerang Selatan
Resep Legendaris Laksa khas Kota Tangsel

Pernahkah kamu mencoba mencicipi kuliner legendaris khas Kota Tangerang Selatan? Laksa! Ya,makanan lkal khas Tangerang Selatan tersebut tidaklah jauh berbeda dengan resep khas Kota Tangerang. Lezatnya racikan kuah masakan kekuningan ini menjadi santaoan favorit masyarakat Kota Tangerang dan Tangerang Selatan. Para pecinta kuliner khas lokal di Tangerang Selatan sudah pasti tidak asing lagi dengan makanan legendaris ini. Berikut tata cara pembuatan Laksa khas Kota Tangerang Selatan.

 

Bahan Laksa Tangerang Selatan:

200 gr mi putih atau bihun

1 ekor ayam kampung, dipotong kecil

Air secukupnya

1000 ml santan

100 gram kelapa yang disangrai halus

200 gram kentang, potong dadu

Tauge basah sesuai selera

20 gram atau sesuai selera kacang hijau, direbus dahulu

2 tangkai daun bawang, dipotong kecil

3 lembar daun salam

3-4 sdm minyak goreng

 

Bumbu-bumbu:

2 buah cabai merah besar

5 buah cabai merah keriting

10 siung bawang putih

5 siung bawang merah

Kunyit bakar ukuran sesuai selera

Jahe bakar ukuran sesuai selera

Lengkuas

2-3 sdt ketumbar

1-2 sdm garam

1 sdt gula tebu

1 sdt merica halus

 

Cara membuat:

  • Campurkan sebagian bumbu, lalu aduk dengan halus beserta ayam kampung hingga berubah warna
  • Tambahkan air secukupnya dan masak hingga mendidih
  • Lalu bakar ayam hingga berwarna keemasan, suirkan
  • Tumis sisa bumbuhalus, masukkan kentang, daun bawang, kelapa, dan santan sembari diaduk perlahan hingga matang
  • Siapkan mangkuk
  • Plot mi dan siuran ayam dalam mangkuk
  • Siram mi dan siuran ayam dengan kuah yang tadi dimasak
  • Sajikan selagi hangat

Demikian tata cara singkat membuat Laksa khas Kota Tangerang Selatan, cukup mudah bukan?

Selamat mencoba! :)

 

 

sumber: Wawancara orangtua

#OSKMITB2018

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker