Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Jawa Timur Ponorogo
Reog Ponorogo
- 10 Juli 2018
Dewi Sanggalangit, putri Raja Kediri tampak berduka. Ia bingung memilih siapa yang tepat menjadi suaminya. Sementara, puluhan raja menantikan kepastian dari sang Dewi.
 
Sore itu datang dua pelamar lagi. Mereka adalah Patih Iderkala dan Patih Bujang Ganong. Patih Iderkala melamarkan Raja Singabarong dari kerajaan Ladoya, Blitar. Patih Bujang Ganong mewakili Raja Kelana Suwandana dari Kerajaan Wengker, Ponorogo.
 
"Kali ini kau harus bisa menentukan pilihanmu. Kedua raja itu amat sakti. Mereka akan menyerang kita kalau mereka kau buat malu," nasehat ayah Dewi Sanggalangit. 
 
"Beri hamba waktu sepuluh hari Ayahanda, agar hamba bisa menimbang dengan bijaksana," sahut Dewi Sanggalangit. 
 
"Baik. Janjimu itu akan Ayah teruskan kepada raja pelamarmu," ujar ayah Dewi Sanggalangit lega. 
 
Dewi Sanggalangit masuk ke kamarnya. Ia bersemedi dengan khidmat. Ketika genap sepuluh hari, Dewi Sanggalangit memperoleh bimbingan dari Dewata. Ia lalu menghadap ayahnya. 
 
"Bagaimana, anakku? Siapakah pilihanmu? Tanya ayah Dewi Sanggalangit dengan sedikit tegang. 
 
"Hamba belum bisa menentukan sekarang, Ayah, sebab Hamba punya beberapa syarat untuk calon suami hamba itu," Jawab Dewi Sanggalangit. 
 
"Cepat sebutkan syaratmu itu!' seru ayah Dewi Sanggalangit penasaran. 
 
"Pertama calon suamiku harus bisa menyediakan 144 kuda kembar yang ditunggangi oleh pemuda-pemuda rupawan. 
Kedua; Ia harus membawa seekor binatang berkepala dua.   
Ketiga; Ia harus bisa menyajikan sebuah tontonan menarik yang belum pernah disaksikan orang," jelas Dewi Sanggalangit.
 
"Hm, aneh sekali permintaanmu itu, Sanggalangit. Akan tetapi, aku akan menyampaikannya kepada mereka." kata Ayah Dewi Sanggalangit. 
 
"Terima kasih, Ayah." 
 
Raja Kediri mengumpulkan para pelamar Dewi Sanggalangit di balairung istana. Ia menyampaikan keinginan putrinya. Para raja nampak putus asa, karena merasa tak sanggup memenuhi syarat yang diajukan Dewi Sanggalangit. Namun, tidak demikian dengan Patih Iderkala dan Patih Bujang Ganong. 
 
Patih Iderkala cepat kembali ke Blitar. Lalu, ia segera menghadap Raja Singabarong. Raja Singabarong amat sakti. Wajahnya amat menyeramkan. Ia adalah manusia yang berwajah harimau. 
 
Di bahu Raja Singabarong bertengger seekor burung merak. Burung cantik ini tadinya milik patih Iderkala. Kemudian, oleh Iderkala burung sakti itu dihadiahkan kepada Raja Singabarong, karena Raja Singabarong telah berbaik hati mengangkatnya menjadi patih Kerajaan Lodaya.

Sebaliknya, Raja Singabarong merasa beruntung mendapat burung merak itu. Selain sakti, burung itu pintar mencari kutu di rambut raja yang berkepala harimau itu.

Ya, banyak kutu! Ini memang merupakan penyakit yang meresahkan Raja Singabarong. Namun berkat burung merak mematuki kutu-kutu di rambutnya, penderitaan Singabarong menjadi agak ringan. Kepalanya serasa dipijit-pijit kalau burung itu sedang mematuki kutu-kutu di rambutnya.

"Apakah lamaranku diterima, Iderkala?" tanya Raja Singabarong.

"Pelamar Dewi Sanggalangit banyak sekali, Gusti. Ia mengajukan tiga syarat untuk calon suaminya," lapor Patih Iderkala. Lalu Patih Iderkala menyebutkan ketiga syarat itu.

"Dari semua pelamar Dewi Sanggalangit , siapa yang merupakan saingan terberatku?" tanya Raja Singabarong pongah.

"Raja Kelana Suwandana dari Kerajaan Wengker, Gusti. Ia terkenal sakti mandraguna!" jawab Patih Iderkala.

"Hm, Kelana Suwandana memang sakti. Apakah kau sudah mengatur siasat untuk mengalahkannya?" tanya Raja Singabarong ingin tahu.

"Hamba akan menyebar mata-mata ke Kerajaan Wengker. Bila Raja Kelana Suwandana berhasil memenuhi ketiga syarat itu. Hamba akan merampasnya di tengah jalan," jelas Patih Iderkala licik.

"Bagus! Lakukan siasatmu itu, Iderkala!" ujar Raja Singabarong senang.

Patih Iderkala berpamitan. Ia segera bertindak. Ia dan beberapa orang prajurit menyamar menjadi pedagang keliling. Kemudian, mereka berangkat menuju Kerajaan Wengker.

Sementara itu, Raja Kelana Suwandana sedang mempersiapkan diri. Ia dibantu oleh Patih Bujang Ganong yang setia. Berkat kesaktiannya, seratus empat puluh empat kuda kembar siap dipersembahkan untuk sang Dewi.

Hal itu akhirnya diketahui Patih Iderkala. ""Raja Kelana Suwandana memang benar-benar sakti!" gumam Patih Iderkala kagum.

Sialnya, dua anak buah Patih Iderkala tertangkap. Lodra dan Ardawalika dibawa menghadap Raja Kelana Suwandana. Berkali-kali Raja bertanya kepada kedua utusan Kerajaan Lodaya itu. Namum, mereka tetap membungkam.

"Cambuk mereka! Jangan berhenti sebelum mereka mau mengaku siapa dirinya!" perintah Raja Kelana Suwandana pada algojo.

Lodra dan Ardawalika sangat menderita. Akan tetapi mereka tetap tak mau mengaku. Lama-lama Ardawalika berteriak,"Hentikan! Aku akan mengaku!"

"Cepat katakan siapa kamu!" bentak algojo.

"Jangan,Ardawalika! Bukankah kau seorang prajurit sejati?" bujuk Lodra mengingatkan.

"Aku sudah tidak tahan Lodra, maafkan aku!" sahut Ardawalika. Lalu, ia berkata pada Raja Kelana Suwandana," Hamba berasal dari Kerajaan Lodaya, Gusti!"

"Kenapa kau memata-matai aku?" tanya Raja Kelana Suwandana.

"Kami ditugaskan untuk mengetahui persiapan Gusti dalam rangka peminangan Dewi Sangalangit," tutur Ardawalika.

"Cuma itu?" bentak Raja Kelana Suwandana.

Ardawalika mengangguk. Raja Kelana Suwandana pun berteriak lantang,"Algojo! cambuk dia sampai mau mengaku lagi.

"Tunggu...! Kami juga disuruh merampas kuda-kuda kembar dan binatang berkepala dua milik Paduka. Oh, saya telah mengatakan semuanya. Tolong bebaskan saya, Gusti ...!" rengek Ardawalika.

"Sayang sekali aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu, Ardawalika. Aku benci pada kelakuanmu. Kau adalah seorang pengecut hina. Cis! Aku jijik melihatmu!" Raja Kelana Suwandana kemudian berkata pada Algojo," penjarakan dia seumur hidup.!"

Raja Kelana Suwandana lalu menghampiri Lodra. "Aku kagum pada keteguhan hatimu. Kubebaskan kau meskipun sebenarnya kau adalah musuhku!'

"Terima kasih, Gusti!" jawab Lodra girang. Lalu, ia bergegas pulang ke Blitar.

Ternyata, Patih Iderkala pun bernasib sial. Ia dihadang Patih Bujang Ganong di perbatasan Kerajaan Wengker. Kedua patih itu saling berhadapan. Mereka lau mengadu kesaktian. Dalam pertarungan itu, Patih Iderkala terbunuh oleh keris Patih Bujang Ganong.

Sementara itu, Raja Singabarong tak sabar menunggu kedatangan Patih Iderkala. Lalu ia menyusul ke Kerajaan Wengker. Ia amat marah sewaktu menemukan mayat Patih Iderkala. Lalu, ia menantang Patih Bujang Ganong, "Keparat! kau telah membunuh Patihku ! Ayo sekarang lawan aku, Bujang Ganong!"

Pertarungan antara Raja Singabarong dan Patih Bujang Ganong berlangsung tidak seimbang. Raja Singabarong jauh lebih sakti dibading Patih Bujang Ganong. Ketika Patih Bujang Ganong nyaris kalah, tiba-tiba Raja Kelana Suwandana muncul di situ.

"Mundur, Bujang Ganong! dia bukan tandinganmu!" seru Raja Kelana Suwandana. Lalu Raja Kelana Suwandana berkata marah,"kau sungguh tak tahu malu, Singabarong! kau utus orang-orangmu untuk merampas milikku, Cis! Langkahi dulu mayatku sebelum kaujalankan niatmu!"

"Bedebah ....! teriak Raja Singabarong dengan muka merah padam."Ayo kita bertarung !"

Kedua raja itu saling mengadu kesaktian. Beberapa jurus kemudian, Raja Singabarong kelihatan semakin lamban gerakannya. Hal itu disebabkan oleh kutu-kutu di kepalanya yang mulai beraksi, sehingga ia tak bisa memusatkan pikiran.

"Kutu sialan! Lebih baik aku lari daripada dikalahkan Kelana Suwandana!' umpat Raja Singabarong. Lalu, secepat kilat ia memacu kudanya pulang ke Blitar.

"Dasar pengecut! Kuhabisi nyawamu kalau sempat bertarung lagi!" teriak Raja Kelana Suwandana bersumpah. Lalu ia memacu dan diam-diam mengikuti Raja Singabarong ke Blitar.

Setibanya di istana, Raja Singabarong segera memerintahkan burung merak untuk mencari kutu di rambutnya.

"Ayo terus! Ayo terus!' teriak Raja Singabarong keenakan. Tiba-tiba sesosok bayangan muncul di belakang Raja Singabarong. Ternyata ia adalah Raja Kelana Suwandana.

"Hm, mungkin inilah binatang berkepala dua yang diinginkan Dewi Sanggalangit," gumam Raja Kelana Suwandana ketika melihat burung merak itu sedang mematuki kutu-kutu di rambut Raja Singabarong.

Raja Kelana Suwandana mengheningkan cipta. Ia memohon kekuatan dari dewata.
"Jadilah kau binatang berkepala dua, Singabarong!" kutuk Raja Kelana Suwandana.

Tiba-tiba, tubuh burung merak itu menyatu di bahu Raja Singabarong, sehingga manusia berkepala harimau itu seolah-olah berkepala dua. Kepalanya yang satu adalah kepala burung merak itu!

"Kurang ajar! Kubunuh kau ....!" pekik Raja Singabarong marah. Ia menyerang Raja Kelana Suwandana. Dengan gesit Raja Kelana Suwandana menangkisnya. Lalu ia mengeluarkan cemeti saktinya. "Daar....darr....!" Cemeti itu menghajar tubuh Raja Singabarong hingga ia berguling-guling di tanah.

Ajaib! Sekujur tubuh Raja Singabarong seketika berubah menjadi binatang. Binatang berkepala dua!

Beberapa hari kemudian, Raja Kelana Suwandana pergi ke Kerajaan Kediri. Ia hendak melamar Dewi Sanggalangit. Iring-iringan panjang terlihat di belakang kudanya. Seratus empat puluh empat kuda ekor kuda kembar yang ditunggangi pemuda-pemuda rupawan. Nampak pula sekelompok penari dan seekor binatang berkepala dua, yang tak lain adalah jelmaan Raja Singabarong.

Raja Kelana Suwandana disambut dengan meriah oleh seluruh rakyat Kediri. Kemudian ia dinikahkan dengan Dewi Sanggalangit. Untuk meramaikan upacara pernikahan itu, di alun-alun Kediri diadakan tari-tarian yang diiringi dengan berbagai tetabuhan. Tontonan itu kemudian dinamai reog. Karena asal reog dari Ponorogo maka reog itu disebut Reog Ponorogo.

Kesimpulan
Cerita ini disebut legenda, karena Reog Ponorogo masih bisa kita tonton sampai sekarang. Biasanya atraksi ini ditampilkan pada suatu upacara atau keramaian. Dari legenda ini kita bisa mengambil pelajaran: "Kelicikan bisa menimbulkan petaka buat kuta."
 
 
 
Sumber: Buku Ceri Rakyat Dari Jawa Timur 
Oleh: Dwianto Setyawan 
Penerbit PT. Gramedia Widisarana Indonesia, Jakarta 1997
 
Sumber: https://blog-oblok2.blogspot.com/2015/02/reog-ponorogo-cerita-rakyat-jawa-timur.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno Candi Miri merupakan salah satu situs candi Hindu yang menjadi bagian dari warisan arsitektur religius Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penyebaran pusat-pusat keagamaan yang strategis pada periode klasik Jawa. Sebagai candi Hindu, Candi Miri mencerminkan adaptasi tradisi arsitektur India yang dikembangkan dengan karakteristik lokal Jawa Kuno, berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Sejarah & Latar Belakang Candi Miri didentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Sumber 4). Letaknya berada di wilayah administratif Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah peradaban Jawa klasik. Terdapat variasi dalam pencatatan lokasi spesifik candi ini. Beberapa sumber merujuk lokasi Candi Miri di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo (Sumber 1, Sumber 2, Sumber...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak Di tengah kekayaan kuliner Indonesia yang tak terhingga, Babi Panggang Karo (BPK) muncul sebagai sebuah mahakarya rasa yang menghadirkan jejak budaya dan tradisi dari tanah Sumatera Utara. Lebih dari sekadar hidangan, BPK adalah manifestasi dari identitas masyarakat Karo, sebuah sajian yang kaya akan aroma, rempah, dan cerita. Mengapa BPK begitu istimewa, dan bagaimana ia menjadi simbol kebanggaan kuliner bagi suku Karo? Mari kita telusuri keunikan dan daya pikatnya. Andaliman: Jantung Rasa BPK Rahasia di balik kelezatan BPK terletak pada penggunaan rempah-rempah khas, dan yang paling menonjol adalah andaliman . Dikenal juga sebagai "merica Batak" atau "sichuan pepper"-nya Indonesia, andaliman memberikan sensasi rasa yang unik dan tak tertandingi: pedas, sedikit asam, dan efek kebas atau "getar" di lidah (Sumber 2). Rasa yang identik dan aroma yang kuat dari andaliman inilah yang membuat BPK berbeda dari hid...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis
Motif Kain Motif Kain
Papua

Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis batik khas Papua yang dikenal dengan corak unik dan makna mendalam. Berbeda dengan batik dari daerah lain di Indonesia, batik Papua, termasuk Kamoro, memiliki ciri khas motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya suku asli di sana (Sumber 1, Sumber 3). Batik ini secara spesifik menampilkan corak khas Timika, yang terinspirasi dari suku Kamoro dan keindahan alam sekitarnya (Sumber 1). Batik Kamoro tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga merupakan representasi semangat dan keberanian penduduk asli Papua (Sumber 2). Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya merefleksikan kehidupan masyarakat adat, menjadikannya salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan. Motif dan Makna Batik Kamoro Motif utama batik Kamoro sangat khas dan mudah dikenali. Corak yang sering ditemukan pada batik ini meliputi: Simbol Patung Salah satu motif yang paling menon...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Dendam Rajo sang Manusia Harimau Putih
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...

avatar
Mahlil Azmi
Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...

avatar
Kianasarayu