Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Sumatera Selatan Sumsel
Raden Alit
- 17 Juli 2012

Diceritakan kembali oleh Samsuni

Raden Alit adalah putra seorang raja dari daerah Tanjung Kemuning, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (OKUT), Sumatera Selatan. Suatu ketika, kakak perempuannya yang bernama Dayang Bulan diculik oleh Malim Hitam, putra Ratu Ageng dari Negeri Salek Alam. Mengapa Malim Hitam menculik Dayang Bulan? Lalu, berhasilkah Raden Alit menyelamatkan Dayang Bulan? Berikut kisahnya dalam cerita Raden Alit.

* * *

Alkisah, di Negeri Tanjung Kemuning, Sumatera Selatan, tersebutlah seorang raja bernama Ratu Ageng yang menikah dengan seorang Dewa Kahyangan. Mereka tinggal di langit dan telah dikaruniai dua orang putra, yaitu Raden Kuning dan Raden Alit, serta seorang putri bernama Dayang Bulan. Ketiga anak raja tersebut saling menyayangi satu sama lain. Raden Kuning dan Raden Alit adalah orang yang sakti mandraguna. Sejak kecil hingga dewasa, mereka berguru berbagai macam ilmu kesaktian kepada Nenek Dewi Langit.

Setelah hampir dua puluh tahun menjalani kehidupan di Langit, Ratu Ageng merasa rindu ingin kembali ke Bumi. Oleh karena itu, ia bermaksud mengajak seluruh keluarganya pindah ke Bumi.

"Wahai, permaisuri dan anak-anakku! Entah kenapa, tiba-tiba Ayah merasa rindu pada tanah kelahiran Ayah. Ayah ingin sekali kembali ke bumi dan hidup di sana. Apakah kalian merasa keberatan jika Ayah mengajak kalian turut serta ke Bumi?" tanya Ratu Ageng.

"Tentu tidak, Ayah! Aku akan ikut bersama Ayah ke Bumi. Bukankah kami semua anak-anak Ayah belum pernah melihat tempat kelahiran Ayah?" kata Raden Alit.

"Benar, Ayah! Kami juga ikut!" sahut Raden Kuning dan Dayang Bulan serentak.

Ratu Ageng tersenyum gembira mendengar jawaban putra-putrinya. Ia sangat memahami perasaan mereka karena ketiga anaknya tersebut dilahirkan di Langit sehingga sejak kecil mereka tidak mengetahui tentang kehidupan di bumi.

"Baiklah kalau begitu! Besok pagi-pagi sekali kita berangkat ke Bumi," ujar Ratu Agung.

Keesokan harinya, berangkatlah Ratu Ageng bersama keluarga serta sejumlah pengawalnya ke Bumi. Di Bumi, mereka membangun sebuah istana yang tidak begitu megah sebagai tempat tinggal mereka. Ratu Ageng beserta keluarga dan para pengikutnya hidup layaknya manusia bumi pada umumnya.

Selang beberapa tahun tinggal di Bumi, malapetaka menimpa keluarga Ratu Ageng. Putrinya Dayang Bulan meninggal dunia lantaran digigit ular lidi. Kematian putrinya itu membawa duka yang dalam bagi Ratu Ageng dan permaisurinya. Namun, Raden Kuning dan Raden Alit tidak dapat menerima kematian saudara perempuan mereka itu. Mereka yakin bahwa Dayang Bulan belum saatnya meninggal. Oleh karena itu, keduanya memohon izin kepada sang ayahanda untuk pergi mencari Dayang Bulan.

"Ampun, Ayah! Kami yakin Dayang Bulan belum meninggal, Ayah! Izinkanlah Ananda dan Raden Kuning untuk pergi mencarinya!" pinta Raden Alit.

"Wahai, Anakku! Bukankah kalian menyaksikan sendiri bahwa Dayang Bulan telah meninggal dan dimakamkan di kebun bunga?" ujar Ratu Ageng.

"Benar, Ayah! Tapi kami yakin bahwa yang dimakankan pada saat itu hanya bayangannya saja. Wujud aslinya telah diculik oleh seseorang yang sakti mandraguna," sahut Raden Kuning.

Pada mulanya, Ratu Ageng tidak begitu yakin dengan apa yang dikatakan oleh kedua putranya itu. Namun, karena Raden Kuning dan Raden Alit terus mendesaknya, akhirnya Ratu Ageng mengizinkan mereka untuk mencari Dayang Bulan.

Setelah berpamitan kepada kedua orangtuanya, berangkatlah Raden Kuning dan Raden Alit mencari Dayang Bulan. Mereka berjalan selama berbulan-bulan tanpa tentu arah. Begitu mereka tiba di sebuah pantai, terlihatlah sebuah rejung, yaitu kapal besar dan megah, yang sedang berlabuh. Seketika itu pula mereka langsung melompat ke atas rejung itu karena mengira Dayang Bulan berada di dalamnya. Namun, setelah memeriksa seluruh ruangan di kapal itu mereka hanya menemukan dua orang laki-laki sedang tidur di dalam sebuah kamar. Raden Kuning pun membangunkan kedua orang itu seraya bertanya kepada mereka.

"Wahai sahabat, siapakah kalian ini! Mengapa rejung kalian berhenti di pantai ini?"

"Maaf, sahabat! Kami tertidur karena kelelahan setelah cukup lama dalam perjalanan mencari saudara perempuan kami yang bernama Dayang Ayu," jawab salah seorang pemilik kapal yang bernama si Ulung Tanggal.

"Kalau kami boleh tahu, bagaimana saudara perempuan kalian bisa hilang?" tanya Raden Alit.

"Begini, sahabat," sahut adik si pemilik kapal yang bernama Serincung Dabung. "Saudara perempuan kami telah meninggal karena digigit ular lidi. Namun, kami yakin bahwa dia sebenarnya tidak meninggal. Ia diculik oleh putra raja Negeri Salek Alam yang bernama Malim Putih."

"Hai, sahabat! Bagaimana kamu bisa tahu kalau putra raja itu yang menculik saudara perempuan kalian?" tanya Raden Kuning penasaran.

Rupanya, Serincung Dabung adalah seorang ahli nujum. Raden Kuning dan Raden Alit pun meminta bantuan kepadanya untuk mencari tahu keberadaan Dayang Bulan. Setelah Serincung Dabung melakukan nujum, akhirnya diketahui bahwa Dayang Bulan juga diculik oleh putra raja Negeri Salek Alam yang bernama Malim Hitam.

Keempat orang tersebut ternyata memiliki tujuan yang sama, yaitu mencari saudara perempuan mereka yang diculik oleh kedua putra Raja Negeri Salek Alam. Namun, karena Serincung Dabung tidak dapat menerawang letak Negeri Salek, akhirnya mereka pun berpencar. Si Ulung Tunggul berjalan di atas Kahyangan, Raden Kuning terbang di angkasa bagai burung, dan Serincung Dabung berjalan di dalam air.

Sementara itu, Raden Alit berjalan di daratan dengan menyusuri hutan belantara serta menaiki dan menuruni bukit. Dalam perjalanannya, Raden Alit bertemu dengan seorang nenek yang berpakaian sangat rapi.

"Nenek hendak pergi ke mana?" tanya Raden Alit.

"Nenek hendak ke pesta pernikahan, Cucuku!" jawab nenek itu.

"Siapa yang akan menikah, Nek?" tanya Raden Alit ingin tahu.

"Putra Raja Negeri Salek Alam, Malim Hitam dan Malim Putih," jawab nenek itu.

"Maaf, Nek! Kalau boleh saya tahu, mereka menikah dengan siapa?" tanya Raden Alit penasaran.

"Malim Hitam akan menikah dengan Dayang Bulan sedangkan Malim Putih akan menikah dengan Dayang Ayu," jawab nenek itu.

Mendengar jawaban nenek itu, Raden Alit pun semakin yakin bahwa Dayang Bulan dan Dayung Ayu masih hidup. Maka dengan kesaktiannya, Raden Alit menyamar menjadi budak banden, yaitu merubah bentuk wajahnya. Setelah itu, berangkatlah ia ke Negeri Salek Alam.

Setibanya di negeri itu, Raden Alit bertemu dengan Raja Jin dan menceritakan maksud kedatangannya ke negeri itu. Raja Jin itu sangat baik hati dan dan mempunyai seorang putri yang cantik jelita bernama Salipuk Jantung Pandan. Raden Alit pun langsung jatuh hati kepadanya pada saat pandangan pertama. Dalam waktu singkat, mereka langsung menjalin hubungan kasih dan berjanji akan menikah. Dengan hubungan itu, Raden Alit pun semakin dekat dengan keluarga Raja Jin. Raden Alit kemudian meminta pertolongan kepada Raja Jin untuk membebaskan Dayang Bulan dan Dayung Ayu.

Dengan kesaktiannya, Raja Jin merubah bentuk Dayang Bulan dan Dayung Ayu menjadi dua tangkai bunga sebelum mereka naik ke pelaminan. Kemudian, tanpa sepengetahuan Malim Hitam dan Malim Putih, Raden Alit berhasil menyelinap masuk ke dalam kamar Dayang Bulan dan Dayung Ayu. Begitu ia masuk ke dalam kamar tersebut tampaklah dua tangkai bunga yang tergeletak di lantai. Tanpa berpikir panjang, Raden Alit segera mengambil kedua tangkai bunga yang merupakan perwujudan Dayang Bulan dan Dayung Ayu tersebut.

Namun, begitu Raden Alit keluar dari kamar, tiba-tiba Malim Hitam dan Malim Putih datang menghadangnya.

"Hai, siapa kamu dan mau dibawa ke mana calon istri kami!" seru Malim Hitam dengan wajah memerah.

"Serahkan kedua tangkai bunga itu! Atau kami akan menghajarmu!" tambah Malim Putih dengan geramnya.

"Tidak! Aku tidak akan menyerahkan kedua tangkai bunga ini. Kalian telah menculik saudara perempuan kami," bantah Raden Alit.

Pertempuran sengit pun tak terelakkan lagi. Pada mulanya, Raden Alit masih mampu mengimbangimbangi kesaktian kedua putra Raja Negeri Selak Alam tersebut. Namun, setelah pertempuran tersebut berlangsung selama berhari-hari, akhirnya Raden Alit kewalahan dan terlempar ke langit. Untungnya, pintu langit ketika itu terbuka sehingga ia tidak jatuh terhempas ke bumi. Akhirnya, Raden Alit menemui Nenek Dewa Langit untuk meminta pertolongan.

"Ampun, Nenek Dewa! Tolonglah aku agar bisa mengalahkan kedua musuhku, Malim Hitam dan Malim Putih, yang ada di Bumi!" pinta Raden Alit.

"Wahai, Cucuku Raden Alit! Kedua musuhmu itu tidak dapat dibunuh. Akan tetapi, kamu bisa melemparkannya ke langit. Setibanya di langit, aku akan memasukkan mereka ke dalam sangkar besi," ujar Nenek Dewa Langit.

"Baiklah, Nek! Izinkanlah aku kembali ke Bumi!" pamit Raden Alit.

Setibanya kembali di Bumi, Raden Alit mengeluarkan seluruh kesaktiannya sehingga mampu melemparkan kedua musuhnya tersebut ke langit. Begitu mereka tiba di langit, Nenek Dewa segera memasukkannnya ke dalam sangkar besi yang telah disiapkan sebelumnya sehingga mereka tidak dapat lagi kembali ke bumi. Sementara itu, Dayang Bulan dan Dayung Ayu kembali berwujud manusia.

Tak berapa lama kemudian, datanglah Raden Kuning, Si Ulung Tanggal, dan Serincung Dabung. Raden Alit kemudian menceritakan semua yang telah terjadi.

"Terima kasih, Sahabat! Engkau telah menyelamatkan saudara perempuan kami Dayung Ayu," ucap si Ulung Tanggal usai mendengar cerita Raden Alit.

"Sama-sama, Sahabat! Keberhasilan ini tidak terlepas dari kerjasama kita dan bantuan Raja Jin," kata Raden Alit.

"Hai, siapa Raja Jin itu?" tanya Serincung Dabung.

"Dia adalah Raja Jin di negeri ini dan sangat baik hati," jawab Raden Alit.

Akhirnya, Raden Alit dan Si Ulung Tanggal bersaudara segera menemui Raja Jin untuk menyampaikan ucapan terima kasih karena telah membantu mereka mengalahkan kedua putra Raja Negeri Selak Alam. Setelah itu, mereka berpamitan untuk kembali ke negeri masing-masing.

Sementara itu, di istana, Ratu Ageng dan permaisurinya sudah berbulan-bulan diselimuti perasaan cemas menunggu kepulangan anak-anak mereka. Namun, begitu melihat Raden Kuning dan Raden Alit kembali bersama Dayang Bulan, keduanya tidak sanggup menahan rasa haru. Untuk menyambut kepulangan ketiga anaknya, Ratu Ageng mengadakan pesta besar-besaran selama tiga hari tiga malam.

Usai pesta, Raden Alit datang menghadap kepada kedua orangtuanya dan mengatakan bahwa sebenarnya ia telah mengikat janji untuk menikah dengan putri Raja Jin yang cantik itu. Akhirnya, Ratu Ageng beserta seluruh keluarganya datang ke tempat Raja Jin untuk mengadakan pesta perkawinan Raden Alit dengan Salipuk Jantung Pandan. Selanjutnya, Raden Alit dan istrinya pun hidup bahagia.

* * *
Demikian kisah Raden Alit dari daerah Sumatera Selatan. Sedikitnya ada tiga pelajaran yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu pertama, sesama saudara harus saling menyayangi seperti yang ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Raden Alit dan Raden Kuning, kedua, dengan kerjasama yang baik, maka kejahatan dapat ditumpas dengan mudah, dan ketiga, orang yang berbuat jahat akan menanggung sendiri akibatnya, seperti Malim Hitam dan Malim Putih yang mendapat hukuman dari Nenek Dewa karena mereka telah menculik Dayang Bulan dan Dayung Ayu.

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno Candi Miri merupakan salah satu situs candi Hindu yang menjadi bagian dari warisan arsitektur religius Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penyebaran pusat-pusat keagamaan yang strategis pada periode klasik Jawa. Sebagai candi Hindu, Candi Miri mencerminkan adaptasi tradisi arsitektur India yang dikembangkan dengan karakteristik lokal Jawa Kuno, berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Sejarah & Latar Belakang Candi Miri didentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Sumber 4). Letaknya berada di wilayah administratif Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah peradaban Jawa klasik. Terdapat variasi dalam pencatatan lokasi spesifik candi ini. Beberapa sumber merujuk lokasi Candi Miri di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo (Sumber 1, Sumber 2, Sumber...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak Di tengah kekayaan kuliner Indonesia yang tak terhingga, Babi Panggang Karo (sering disingkat BPK) muncul sebagai sebuah mahakarya rasa yang menghadirkan jejak budaya dan tradisi dari tanah Sumatera Utara. Lebih dari sekadar hidangan, BPK adalah manifestasi dari identitas masyarakat Karo, sebuah sajian yang kaya akan aroma, rempah, dan cerita. Mengapa BPK begitu istimewa, dan bagaimana ia menjadi simbol kebanggaan kuliner bagi suku Karo? Mari kita telusuri keunikan dan daya pikatnya. ## Andaliman: Jantung Rasa BPK Rahasia di balik kelezatan BPK terletak pada penggunaan rempah-rempah khas, dan yang paling menonjol adalah andaliman. Dikenal juga sebagai "merica Batak" atau "sichuan pepper"-nya Indonesia, andaliman memberikan sensasi rasa yang unik dan tak tertandingi: pedas, sedikit asam, dan yang paling khas adalah efek kebas atau "getar" di lidah (Sumber 2). Rasa yang identik dan aroma yang kuat dari andal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis
Motif Kain Motif Kain
Papua

Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis batik khas Papua yang dikenal dengan corak unik dan makna mendalam. Berbeda dengan batik dari daerah lain di Indonesia, batik Papua, termasuk Kamoro, memiliki ciri khas motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya suku asli di sana (Sumber 1, Sumber 3). Batik ini secara spesifik menampilkan corak khas Timika, yang terinspirasi dari suku Kamoro dan keindahan alam sekitarnya (Sumber 1). Batik Kamoro tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga merupakan representasi semangat dan keberanian penduduk asli Papua (Sumber 2). Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya merefleksikan kehidupan masyarakat adat, menjadikannya salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan. ## Motif dan Makna Batik Kamoro Motif utama batik Kamoro sangat khas dan mudah dikenali. Corak yang sering ditemukan pada batik ini meliputi: ### Simbol Patung Salah satu motif yang paling menonjol pada batik Kamoro adal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Dendam Rajo sang Manusia Harimau Putih
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...

avatar
Mahlil Azmi
Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...

avatar
Kianasarayu