Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Sulawesi Selatan Sulsel
Putri Tandampalik
- 19 September 2014

Alkisah, pada  zaman dahulu kala, di sebuah daerah di Provinsi Sulawesi Selatan,  berdiri  sebuah kerajaan yang bernama Kerajaaan Luwu. Kerajaan ini  dipimpin oleh seorang  raja atau datu yang bernama La Busatana  Datu Maongge, atau sering  dipanggil Raja Luwu atau Datu Luwu. Ia adalah  seorang raja yang adil, arif dan  bijaksana, sehingga rakyatnya hidup  makmur dan sentosa. Datu Luwu mempunyai seorang  putri yang cantik  jelita dan berperangai baik, namanya Putri Tandampalik. Berita   kecantikan dan perangai baiknya tersebar sampai ke berbagai negeri di  Sulawesi  Selatan.

Pada  suatu hari, Raja Bone ingin  menikahkan putranya dengan Putri  Tandampalik. Ia pun mengutus beberapa pengawal  istana ke Kerajaan Luwu  untuk melamar sang Putri. Sesampainya di istana Luwu,  utusan tersebut  disambut dengan ramah oleh Datu Luwu. “Ampun, Baginda! Kami  adalah  utusan Raja Bone,” lapor seorang utusan sambil memberi hormat kepada   Datu Luwu. “Kalau boleh aku tahu, ada apa gerangan kalian diutus oleh  Raja  kalian ke istana kami?,” tanya Datu Luwu dengan penuh wibawa.  “Ampun, Baginda! Perkenankanlah  kami untuk menyampaikan lamaran Raja  Bone untuk putranya kepada putri Baginda  yang bernama Putri  Tandampalik,” jawab utusan itu memberi hormat.

Mendengar  lamaran itu, Datu Luwu  terdiam sejenak. Ia bingung untuk mengambil  keputusan, menerima atau menolaknya,  sebab dalam adat Kerajaan Luwu,  seorang gadis Luwu tidak dibenarkan menikah  dengan pemuda dari negeri  lain. Akan tetapi, jika lamaran itu ditolak, ia  khawatir akan terjadi  perang yang sangat dahsyat antara dua kerajaan, sehingga  membuat rakyat  menderita. Setelah beberapa saat berpikir, Datu Luwu masih  kebingungan  untuk memberikan jawaban. “Wahai, Utusan! Perlu kalian ketahui, bahwa   di Kerajaan Luwu ini berlaku sebuah hukum adat, yaitu seorang putri  Luwuk tidak  boleh menikah dengan pemuda dari negeri lain. Untuk itu,  tolong sampaikan  kepada raja kalian, supaya aku diberi waktu beberapa  hari untuk memikirkan  lamarannya tersebut,” ujar Datu Luwu. Utusan Raja  Bone memahami dan mengerti  keputusan Datu Luwu. Mereka pun kembali ke  Kerajaan Bone untuk menyampaikan berita  tersebut kepada Raja Bone.

Keesokan  harinya, tiba-tiba negeri Luwu geger. Putri Tandampalik terserang penyakit  kusta. Sekujur   tubuhnya mengeluarkan cairan kental yang berbau anyir dan sangat  menjijikkan.  Para tabib istana mengatakan bahwa Putri Tandampalik  terserang penyakit menular  yang sangat berbahaya. Berita  tentang musibah yang menimpa sang Putri  sudah tersebar ke seluruh  negeri. Rakyat negeri Luwu sangat bersedih atas  penyakit yang diderita  oleh sang Putri yang mereka cintai itu. Setelah berpikir  dan  menimbang-nimbang, Datu Luwu memutuskan untuk mengasingkan putrinya ke   suatu tempat yang jauh. Ia   khawatir penyakit putrinya akan menular ke seluruh rakyatnya.  “Putriku! Demi  keselamatan seluruh rakyat di negeri ini, relakah engkau  jika Ayah mengasingkanmu  ke daerah lain?” tanya Raja Luwu pada  putrinya. “Jika itu adalah jalan yang  terbaik, Ananda menerima  keputusan Ayah dengan senang hati,” jawab sang Putri menerima  keputusan  ayahnya dengan tulus.

Dengan  berat hati, Datu Luwu  terpaksa harus berpisah dengan putri yang sangat  dicintainya itu. Berangkatlah sang  Putri dengan perahu bersama  beberapa pengawal istana. Sebelum berangkat, Datu  Luwu memberikan  sebuah keris pusaka kepada Putri Tandampalik sebagai tanda  bahwa ia  tidak pernah melupakan, apalagi membuang anaknya. Setelah  mempersiapkan  segala perbekalan yang dibutuhkan, berangkatlah mereka ke suatu  daerah  yang jauh dari Kerajaan Luwu. Berbulan-bulan sudah mereka berlayar  tanpa  arah dan tujuan.

Pada  suatu hari, tampaklah bagi mereka  sebuah pulau dari kejauhan. “Lihat,  Tuan Putri!” seru seorang pengawal sambil  menunjuk ke arah pulau itu. “Akhirnya,  kita pun menemukan pulau,”  jawab sang Putri dengan perasaan lega. Para  pengawal pun semakin cepat mengayuh  perahunya mendekati pulau itu.  “Wah, indah sekali pemandangan itu. Sepertinya  pulau itu belum terjamah  oleh manusia,” sahut pengawal yang lain dengan kagum.

Tak  berapa  lama, sampailah mereka di pulau itu. Seorang pengawal yang  lebih dahulu  menginjakkan kakinya di pulau itu menemukan buah wajao. Pengawal itu  kemudian memetik beberapa biji buah wajao untuk sang Putri. “Pulau ini  kuberi nama Pulau Wajo,”  kata  sang Putri saat menerima buah itu. Sejak saat itu, Putri  Tandampalik beserta  pengawalnya memulai kehidupan baru. Mereka hidup  dengan penuh kesederhanaan. Meskipun  demikian, mereka tetap bekerja  keras penuh dengan semangat dan gembira. Hari  berganti hari, minggu  berganti minggu, bulan berganti bulan, tak terasa satu  tahun sudah  mereka berada di tempat itu.

Suatu  waktu,  Putri Tandampalik duduk di tepi danau yang terletak di tengah  pulau itu. Tiba-tiba  seekor kerbau putih menghampiri dan menjilati  kulit sang Putri dengan lembut. Semula,  sang Putri hendak mengusirnya.  Tetapi, hewan itu tampak jinak dan terus  menjilatinya. Akhirnya, ia  diamkan saja. Sungguh ajaib! Setelah berkali-kali  dijilat oleh kerbau  itu, kulit sang Putri yang mengeluarkan cairan tiba-tiba  hilang tanpa  bekas. Kulit sang Putri kembali halus, mulus dan bersih seperti   sediakala. Sang Putri terharu dan bersyukur kepada Tuhan, karena  penyakitnya  telah sembuh. Ia kemudian berpesan kepada para pengawalnya,  “Mulai saat ini,  aku minta kalian untuk tidak menyembelih atau memakan  kerbau putih yang ada di  pulau ini, karena hewan itu telah  menyembuhkan penyakitku.” Permintaan sang  Putri itu langsung dipenuhi  oleh seluruh pengawalnya. Hingga kini, kerbau putih  yang ada di Pulau  Wajo dibiarkan hidup bebas dan beranak pinak. Kemudian oleh  masyarakat  setempat, kerbau putih tersebut disebut sebagai sakkoli. 

Pada  suatu  hari, pulau Wajo kedatangan serombongan pemburu. Mereka adalah  Putra Mahkota  Kerajaan Bone yang didampingi oleh Anreguru Pakanranyeng, Panglima Kerajaan Bone, dan beberapa pengawalnya. Saking  asyiknya  berburu, Putra Mahkota Raja Bone tidak sadar kalau ia sudah  terpisah dari  rombongannya dan tersesat di hutan. Ia terus berteriak  memanggil panglima dan  para pengawalnya. “Panglimaaa...! Pengawaaal...!  Aku di sini, kalian di mana...?”  Berkali-kali sang Putra Mahkota  berteriak, namun tidak ada jawaban. Menjelang  malam, ia pun memutuskan  untuk berstirahat di bawah sebuah pohon besar, karena  kelelahan  seharian berburu.

Malam  semakin  larut, Putra Mahkota tidak dapat memejamkan matanya.  Suara-suara binatang malam  membuatnya terus terjaga dan gelisah. Di  tengah gelapnya malam, tiba-tiba ia  melihat seberkas cahaya dari  kejauhan. Semakin lama, pancaran cahaya itu  semakin terang. Ia sangat  penasaran ingin mengetahuinya. Ia kemudian  memberanikan diri untuk  mencari sumber cahaya itu. Dengan tertatih-tatih, Putra  Mahkota  berusaha berjalan mengikuti kaki melangkah menelusuri gelapnya malam.  Akhirnya,  sampailah ia di sebuah perkampungan yang ramai dengan  rumah-rumah penduduk. Setelah  ia memasuki perkampungan itu, sumber  cahaya itu semakin jelas terdapat di  sebuah rumah yang nampak kosong.  Dengan melangkah pelan-pelan, Putra Mahkota  mendekati dan memasuki  rumah itu. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat  seorang gadis yang  cantik sekali bak bidadari sedang menjerang (memasak) air di  dalam  rumah itu. Gadis   cantik itu tidak lain adalah Putri Tandampalik. “Ya, Tuhan! Mimpikah  aku.  Selama hidupku, baru kali ini aku melihat gadis secantik itu,”  kata Putra  Mahkota dalam hati dengan perasaan kagum.

Putri   Tandampalik yang merasa kedatangan tamu, tiba-tiba menoleh. Sang Putri   tergagap, “Tampan sekali pemuda ini. Tetapi, siapa dia dan dari mana  asalnya? Sepertinya  dia bukan penduduk sini,” kata sang Putri dalam  hati. Kemudian mereka berdua berkenalan.  Dalam waktu singkat, keduanya sudah akrab. Putri   Tandampalik sangat kagum dengan kehalusan tutur bahasa Putra Mahkota.  Meski ia  seorang calon raja, ia sangat sopan dan rendah hati.  Sebaliknya, bagi Putra  Mahkota, Putri Tandampalik adalah seorang gadis  yang anggun dan tidak sombong. Kecantikan  dan penampilannya yang  sederhana membuat Putra Mahkota kagum dan langsung  menaruh hati. Namun,  Putra Mahkota tidak bisa berlama-lama di Pulau Wajo  menemani Putri  Tandampalik, karena ia harus kembali ke negerinya untuk  menyelesaikan  beberapa kewajibannya di Istana Bone.

Sejak   perjalanan dari Pulau Wajo sampai ke Kerajaan Bone, Putra Mahkota  selalu  teringat pada wajah cantik Putri Tandampalik. Ingin rasanya  Putra Mahkota  tinggal di Pulau Wajo. Anreguru Pakanyareng yang lebih  dulu tiba di negeri Bone  setelah berpisah dengan Putra Mahkota di Pulau  Wajo, mengetahui apa yang  dirasakan oleh putra rajanya itu. Ia sering  melihat Putra Mahkota duduk  termenung seorang diri di tepi telaga. Oleh  karena tidak ingin melihat tuannya  terus bersedih, maka Anreguru  Pakanyareng segera menghadap dan menceritakan  semua kejadian yang  pernah mereka alami di Pulau Wajo. “Ampun, Baginda Raja! Hamba   mengusulkan agar Paduka Raja segera melamar Putri Tandampalik,” usul  Anreguru  Pakanyareng. Setelah mendengar semua cerita dan usulan  Anreguru itu, Raja Bone  segera mengutus beberapa pengawalnya  mendampingi Putra Mahkota untuk melamar  Putri Tandampalik di Pulau  Wajo.

Sesampainya  di  pulau itu, Putri Tandampalik tidak langsung menerima lamaran Putra  Mahkota. Ia  hanya memberikan keris pusaka Kerajaan Luwu yang diberikan  ayahnya ketika ia  diasingkan. “Maaf, Tuan-tuan! Aku belum bisa menerima  lamaran kalian. Bawalah  keris ini kepada Ayahandaku. Jika Ayahandaku  menerima keris ini berarti lamaran  kalian diterima,” ujar sang Putri  seraya menyerahkan keris pusaka itu. Setelah  bermusyawarah dengan  pengawalnya, Putra Mahkota memutuskan untuk berangkat  sendiri ke  Kerajaan Luwu. Perjalanan berhari-hari ia jalani penuh dengan  semangat.  Setibanya di Kerajaan Luwu, Putra Mahkota menceritakan pertemuannya   dengan Putri Tandampalik dan menyerahkan keris pusaka itu pada Datu  Luwu.

Datu  Luwu dan  permasuri sangat gembira mendengar berita baik tersebut. Datu  Luwu sangat kagum  dengan perangai Putra Mahkota. Datu Luwu merasa  bahwa Putra Mahkota adalah  seorang pemuda yang gigih, bertutur kata  lembut, sopan dan penuh semangat. Tanpa  berpikir panjang lagi, Datu  Luwu menerima keris pusaka itu dengan tulus. Hal  ini berarti bahwa  lamaran Putra Mahkota diterima. Tanpa menunggu lama, Datu  Luwu dan  permaisuri datang mengunjungi Pulau Wajo untuk menemui putri   kesayangannya. Pertemuan Datu Luwu dengan putri tunggalnya sangat  mengharukan.  “Maafkan Ayah, Nak! Ayah telah membuangmu ke tempat ini,”  Datu Luwu minta maaf  sambil memeluk putrinya. “Tidak, Ayah! Justru Ayah  harus bersyukur, karena  rakyat Luwu terhindar dari penyakit menular  yang menimpa diriku,” kata Putri  Tandampalik.

Beberapa  hari  kemudian, Putri Tandampalik menikah dengan Putra Mahkota Raja  Bone di Pulau Wajo.  Pesta pernikahan mereka berlansung sangat meriah.  Seluruh keluarga dari dua  Kerajaan Besar di Sulawesi Selatan itu sangat  gembira dengan pernikahan  tersebut. Putri Tandampalik dan Putra  Mahkota hidup bahagia. Beberapa tahun  kemudian, Putra Mahkota naik  tahta. Ia menjadi raja yang arif dan bijaksana.  Maka semakin  bertambahlah kebahagiaan mereka.

 

Sumber: http://dongengdanceritarakyat.blogspot.com.tr/2013/02/putri-tandampalik-cerita-rakyat-dari.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu