Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Kepulauan Bangka Belitung Bangka Belitung
Putri Pinang Gading
- 13 November 2018

Alkisah pada masa silam di daerah Membalong, Bangka Belitung, hiduplah sepasang suami istri yang sudah cukup berumur. Walaupun telah lama menikah, pasangan suami istri itu belum dikaruniai keturunan. Sehari hari mereka bekerja bersama mencari ikan sambil menanam padi di sawah mereka yang tak seberapa besar. Meski kehidupan mereka tergolong miskin, suami istri itu hidup bahagia.


Pada suatu ketika, sang suami pamit hendak melihat sero ikannya yang dipasang di pinggir laut. Alat penangkap ikan berupa bilik bilik dengan lubang kecil sebagai pintu masuk itu biasa dipanen ketika air laut tengah surut. Dengan membawa keranjang, sang suami berangkat pagi itu.


Ketika hendak mendekati seronya, sang suami merasa kakinya menyentuh sesuatu. “Apa ini ?”, kata sang suami sambil menunduk memperhatikan sebuah benda yang berada dekat kakinya. “Ah, ternyata sebilah bambu..”, gumamnya sambil mengambil bambu yang tak seberapa besar itu. Sang suami mengamati bambu itu sebentar sebelum melemparkannya ke laut.
Sang suami sungguh gembira melihat seronya yang dipenuhi ikan. Ia segera memindahkan ikan ikan itu ke dalam keranjang yang dibawanya. Ketika tengah asyik bekerja, sang suami kembali merasa kakinya menyentuh sesuatu. Ia menunduk untuk melihat benda apakah gerangan itu. “sebilah bambu lagi ?’, gumamnya pelan. “Banyak sekali bambu di sekitar sini..”, pikirnya heran. Sang suami mengambil bambu itu, mengamatinya sebentar dan melemparkannya ke tengah laut.


Usai sudah pekerjaan sang suami. Semua ikan dari seronya telah dipindahkan ke dalam keranjang. Ketika hendak beranjak pulang, lagi lagi sang suami merasa kakinya menyentuh sesuatu. Sungguh heran, dilihatnya sebilah bambu berada dekat kakinya. Sang suami segera mengangkat bambu itu dan mengamatinya. “Aneh sekali…”, gumamnya heran. “Ini kan bambu yang tadi kulempar kelaut..”, pikirnya sambil membolak balik bambu itu. “Bagaimana ia kembali kesini sementara laut sedang surut ?”, sang suami tak habis pikir akan bambu yang beberapa kali menyentuh kakinya itu. Ia memutuskan untuk kembali melempar bambu itu ke tengah laut.


Namun demikian bambu itu seakan mengikuti sang suami. Entah darimana datangnya, tiba tiba kaki sang suami kembali menyentuh bambu itu. “Sungguh aneh..”, pikirnya sambil meraih bambu itu. “Mengapa bambu ini seakan mengikutiku ?”, sang suami merasa sangat heran. “Jangan jangan ini bambu ajaib. Sebaiknya kubawa pulang saja”, ujarnya pelan sambil mengikat bambu itu diatas keranjang ikannya.


Saat tiba di rumah, sang suami lupa menceritakan perihal bambu itu kepada istrinya. Iapun tak melepaskan bambu itu dari keranjang ikannya. Sang suami bahkan tak tahu kalau istrinya menggunakan bambu itu sebagai penahan padi yang tengah dijemur agar tak diterbangkan angin.
Beberapa hari kemudian, ketika tengah duduk bersantai menikmati matahari pagi, pasangan suami istri itu dikejutkan oleh sebuah suara ledakan. Mereka segera bangkit berdiri dan mencari asal suara. Ketika sampai di samping rumah, pasangan suami istri itu terkejut melihat seorang bayi perempuan diatas tumpukan padi. Didekatnya terlihat sebilah bambu yang dibawa pulang sang suami tempo hari terbelah dua.
“Lihat Pak….”, teriak sang istri sambil berlari menghampiri bayi perempuan itu. “Bambu itu memberi kita seorang bayi rupanya..”, katanya lagi sambil meraih bayi itu. Sang suami teringat akan bambu ajaib yang ditemukannya dipinggir laut. “Rupanya benar bambu itu adalah bambu ajaib..”, pikir sang suami senang. Ia sangat gembira Tuhan mengaruniakan mereka seorang anak dengan perantaraan bambu itu.


Sang istri menimang nimang bayi perempuan yang berparas cantik itu dalam gendongannya. Mereka membawa bayi itu ke dalam rumah. Hari terus berlalu. Sepasang suami istri itu merawat bayi mereka dengan baik dan memberinya nama Putri Pinang Gading. Keduanya sangat mencintai bayi itu.
Tak terasa Putri Pinang Gading telah tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang cantik jelita. Ia memiliki kesukaan yang jarang dimiliki anak perempuan. Kesukaannya memanah sedari kecil membuat Putri Pinang Gading menjadi seorang pemanah ulung. Keahliannya itu digunakannya untuk berburu. Ayahnya dengan setia selalu menemaninya ketika putri semata wayangnya itu hendak pergi berburu ke hutan.


Pada suatu hari terdengar berita bahwa kampung tetangga mereka mendapat serangan seekor burung buas yang bertubuh besar. Bukan hanya hewan ternak yang dimangsanya, burung itu bahkan telah memangsa seorang penduduk. Akibatnya tak ada warga yang berani keluar rumah. Putri Pinang Gading sangat prihatin mendengar berita itu. Ia berniat menggunakan keahliannya memanah untuk menolong.


“Ayah, aku ingin sekali menolong kampung tetangga kita..”, ujar Putri Pinang Gading ketika tengah menyantap makan malamnya. Sang ayah terkejut. Begitu pula dengan ibunya. Bukan mereka tak menghargai niat baik putri mereka, namun bahaya yang mengancam membuat pasangan suami istri itu takut kehilangan Putri Pinang Gading.
“Sebaiknya kau berpikir lagi putriku…”, ujar sang ayah berusaha membujuk. “Ayah dengar burung itu besar dan ganas. Ayah takut kau dimangsanya nak..”, tambahnya lagi. “Iya putriku, benar apa yang dikatakan ayahmu..”, kata sang ibu dengan suara menahan tangis. “Kami takut terjadi sesuatu padamu nak..”.
Putri Pinang Gading tetap pada pendiriannya. Ia yakin mampu menolong kampung tetangganya itu. Orang tuanyapun akhirnya menyerah. Meski dengan berat hati, sepasang suami istri itu mengijinkan Putri Pinang Gading berangkat ke kampung tetangga esok pagi.


Malam itu juga Putri Pinang Gading menyiapkan busur dan anak anak panah yang telah dilumuri racun. Sang ayah ikut membantu putrinya. Mereka menyiapkan semuanya dengan hati hati. Setelah persiapannya dirasa cukup, Putri Pinang Gading segera tidur agar dapat berangkat pagi pagi sekali.
Setelah menempuh perjalanan setengah hari, Putri Pinang Gading tiba di kampung tetangga. Suasana kampung itu sungguh sepi karena tak ada seorangpun yang berani keluar rumah. “Jika begini terus, lama lama penduduk kampung ini akan kelaparan”, pikirnya sambil mengamati keadaan sekeliling. “Darimana mereka mendapat bahan makanan jika keluar rumah saja tak berani ??”, gumamnya sedih.


Putri Pinang Gading berjalan perlahan lahan menyusuri kampung dengan waspada. Ia memilih berjalan di bawah pepohonan agar kehadirannya tak diketahui Gerude, nama burung besar itu. Setelah berjalan beberapa lama, Putri Pinang Gading memilih menunggu Gerude di bawah pohon besar dipinggir danau. Dugaannya tepat. Tak berapa lama kemudian ia melihat burung ganas itu terbang menukik dan mendaratkan tubuhnya di pinggir danau.


Gerude yang tengah asyik minum air danau tak menyadari kalau dirinya sedang diamati. Putri Pinang Gading melihat burung itu dengan seksama dari balik pohon besar di dekatnya. Dengan sangat perlahan, Putri Pinang Gading menurunkan busurnya dan menyiapkan sebuah anak panah beracun. Ketika dirasa saatnya telah tiba, ia segera melepas anak panah yang melesat kencang dan kemudian menancap di dada Gerude. Burung itu terkejut sekali. Ia mengepakkan sayapnya dan terbang dengan mengeluarkan suara yang memekakkan telinga.
Racun yang dioleskan Putri Pinang Gading pada anak panahnya bereaksi dengan cepat. Burung ganas itu berteriak kesakitan sambil terbang berputar putar di udara. Tak memakan waktu lama, Putri Pinang Gading melihat Gerude jatuh terhempas di tanah lapang di pinggir danau. Ia mati seketika. Warga yang terkejut mendengar suara Gerude yang keras berhamburan keluar rumah. Mereka ingin tahu apa yang tengah terjadi pada burung itu.


Alangkah senangnya warga yang menyaksikan burung ganas yang meresahkan kampung itu telah mati. Kabar matinya Gerude segera tersiar ke seluruh kampung. Penduduk ramai berdatangan mengerumuni mayatnya. Mereka sangat berterimakasih pada Putri Pinang Gading yang telah menolong mereka. Putri Pinang Gadingpun tak kalah gembira. Ia bahagia bisa membunuh burung ganas itu. Dengan demikian penduduk bisa hidup kembali dengan tenang.
Alkisah tanah lapang tempat jatuhnya Gerude kemudian berubah manjadi tujuh buah anak sungai. Adapun anak panah yang mengenai dada burung itu berubah menjadi rumpun bambu yang beracun. Oleh masyarakat setempat, pohon bambu itu diberi nama bulo berantu yang berarti bambu beracun. Bambu itu dapat meracuni siapa saja yang bagian tubuhnya tersayat olehnya. (Ilmu Warisan Leluhur)

Sumber:

http://kennyericksdongengbangkabelitung.blogspot.com/ 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu