Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita rakyat Kepulauan Bangka Belitung Bangka Belitung
Putri Piang Gading
- 25 Desember 2018

Pada jaman dahulu kala, di sebuah desa yang bernama kelekak nangak yang terdapat di kecamatan membalong, hiduplah sepasang suami-istri yang miskin dan tidak mempunyai anak. sang suami bernama pak inda, sedangkan sang istri bernama bu tumina. mereka tinggal di sebuah rumah kecil yang beratap rumbia dan berlantai kayu gelegar berlapik jerami. untuk memenuhi kebtuhan kuasa hidup sehari-hari, mereka menanam padi di ladang dan menangkap ikan dengan cara memasang pukat di tepi laut. ketika air surut, ikan-ikan akan terperangkap dalam pukat itu.pada suatu hari, demam isu panen padi bersempurnaan dengan waktu air laut surut. pak inda betare (berpamitan) kepada istrinya untuk melihat sero yang dipasang di tepi laut.

“dik! hari ini abang akan pergi memeriksa sero di tepi laut. bagaimana kalau saudara termuda sendiri saja yang berangkat ke ladang memanen padi?” tanya sang suami.
“baik, bang! kebetulan juga hari ini kita tidak mempunyai lauk untuk makan siang,” jawab sang istri.

Dengan membawa ambong, berangkatlah pak inda ke laut. ketika akan mendekati seronya, tiba-tiba ia tersandung sepotong bambu. ia pun mengambil bambu itu dan melemparkannya ke laut, biar hanyut terbawa oleh air laut yang sedang surut. namun, ketika akan menangkap ikan di seronya, ia tersandung lagi dengan sepotong bambu.
“kenapa banyak sekali bambu yang hanyut di tempat ini?” gumam pak inda sambil mengamati bambu itu.
“ganjil! miripnya bambu ini yang sudah aku lemparkan tadi,” gumam pak inda takjub.
oleh sebab sudah tidak tabah ingin melihat seronya, pak inda segera membuang kembali bambu itu agak jauh ke tengah laut biar tidak menghalanginya lagi. sesudah itu, ia pun menangkap ikan di dalam seronya. pak inda sangat gembira, sebab menerima banyak ikan. sebagian ikan tersebut ia masukkan ke dalam ambongnya, dan sebagian pula diikat dengan tali rotan, sebab ambongnya tidak dapat menampung semua ikan tersebut. sesudah itu, ia pun bergegas pulang ke rumahnya.
namun, pada ketika akan meninggalkan pantai, tiba-tiba ia kembali tersandung pada sepotong bambu. ia pun mengambil bambu itu lalu mengamatinya secara seksama.
“wah, tidak salah lagi, ini bambu yang aku buang ke laut tadi. tapi, kenapa bambu ini mampu hingga ke sini, padahal air laut sedang surut?” tanya pak inda dalam hati.
“benar-benar ganjil! bambu ini dapat melawan arus air laut. ini bukanlah bambu sembarangan,” tambahnya sambil mengamati bambu itu.

sesudah beberapa ketika berpikir, pak inda mengambil bambu itu dan menggunakannya sebagai pemikul ikan. sehingganya di rumah, pak inda menceritakan peristiwa yang dialami kepada istrinya. oleh istrinya, bambu itu digunakan sebagai penindih jemuran padi biar tidak diterbangkan angin.

pada suatu hari, ketika sedang duduk berkalem di rumah, pak inda dan istrinya dikejutkan oleh bunyi letusan yang sangat monyets. keduanya pun segera menuju ke sumber bunyi letusan itu. rupanya, sumber letusan itu berasal dari sepotong bambu yang digunakan oleh sang istri menindih jemuran padi yang berada di depan rumah mereka. alangkah terkejutnya mereka ketika melihat seorang bayi perempuan disertai dengan pancaran cahaya yang menyilaukan keluar dari bambu itu.bang, lihat itu! ada seorang bayi perempuan yang tergeletak di tanah,” seru sang istri.

“bayi itu menangis! cepat tolong dia, dik!” seru pak inda kepada istrinya.
tanpa berpikir panjang, bu tumina segera mengambil dan memandikan bayi itu. sesudah bersih, ia menggendong bayi itu sambil bernyanyi:
anakku akung, anak kandungku.
anak kandung sibiran tulang,
obah jerih… pelerai demam.

bu tumina terus bernyanyi hingga si bayi tidak menangis lagi dan tertidur. kedua suami-istri itu sangat senang, disebabkan sudah menerima seorang anak yang sudah lama mereka dambakan. mereka pun merawat dan membesarkan bayi itu dengan penuh kasih akung mirip anak kandung mereka sendiri. mereka memberinya nama putri pinang gading.
waktu berjalan begitu cepat, putri pinang gading sudah berumur lima belas tahun tahun. setiap hari ia pergi berburu binatang di hutan yang ada di sekitar rumahnya. banyak sudah binatang buruan yang dulu dipanahnya, sebab memang semenjak kecil ia sangat suka bermain panahan dan seringkali dilatih oleh ayahnya cara memanah yang baik. semenjak kehadiran putri pinang gading, rezeki pak inda terus bertambah, sehingga kehidupan mereka pun semakin sejahtera.

pada suatu hari, terdengar kabar bahwa di kampung kelekak remban terjadi bencana yang ditimbulkan oleh agresi burung yang besar. oleh masybirat kelekak remban, burung itu disebut burung gerude yang tinggal di sebelah timur kawasan ranau. burung gerude itu sangat ganas dan buas. ia mengobrak-abrik permukiman penduduk kelekak remban, dan bahkan sudah menelan seorang warga. seluruh penduduk kelekak remban jadi panik. untuk berlindung dari agresi burung gerude, para warga membuat remban.[6] tidak seorang pun warga yang berani keluar rumah.

peristiwa yang mengerikan itu terdengar oleh putri pinang gading yang kini sudah berusia 21 tahun. ia bertekad hendak pergi ke kampung kelekak remban untuk menolong warga yang sedang dilanda ketakutan.

“ayah, ibu! izinkanlah putri pergi untuk mengusir binatang buas itu!” pinta putri pinang gading.
“apakah kau sanggup mengalahkan burung besar itu, nak?” tanya pak inda khawatir kepada putrinya.
“ayah tidak perlu khawatir. putri akan membinasakan burung itu dengan panahku yang beracun ini,” jawab putri pinang gading dengan penuh keyakinan.
“baiklah, kalau begitu! tapi, kau harus lebih berhati-hati, nak! kami takut kehilanganmu,” ujar pak inda.
“benar, nak! kau ialah putri kami satu-satunya,” sahut bu tumina.
“baik, ayah, ibu! putri akan jaga diri,” kata putri pinang gading seraya berpamitan kepada ayah dan ibunya.

sesudah menyiapkan beberapa anak panah yang sudah dibubuhi racun, putri pinang gading berangkat menuju kampung kelekak remban. sehingganya di sana, kampung itu tampak sepi. semua warga sedang bersembunyi di dalam rumah mereka. putri pinang gading juga tidak melihat burung gerude itu.

“ke mana burung gerude itu? aku sudah tidak tabah lagi ingin membinasakannya,” gumam putri pinang gading yang sudah siap dengan anak panah di tangannya.
baru saja selesai bergumam, tiba-tiba ia mendengar bunyi burung yang sangat monyets. bunyi itu tidak lain ialah bunyi burung gerude. burung itu terbang ke sana ke mari di atas rumah-rumah penduduk sedang mencari mangsa. sesekali ia mengobrak-abrik rumah penduduk. namun, burung itu tidak menyadari jikalau putri pinang gading sedang memperhatikan gelagaknya dari balik sebuah pohon besar.

putri pinang gading yang sudah siap dengan anak panah di tangannya tinggal menunggu ketika yang sempurna untuk meluncurkan anak panahnya. pada ketika burung gerude itu lengah, dengan cepat ia melepaskan anak panahnya. anak panah itu meluncur ke arah burung gerude itu dan sempurna mengenai dadanya. burung gerude itu pun jatuh ke bumi dan tewas seketika.

 

para warga yang menyaksikan peristiwa itu melalui cela-cela rumah, keluar dari rumah mereka dan segera mengerumuni burung gerude yang sudah mati itu. mereka sangat kagum melihat keberanian putri pinang gading. akhirnya, kampung itu terbebas dari ancaman bahaya agresi burung gerude. untuk merayakan keberakibatan itu, para warga mengadakan pesta besar-besaran dengan mengundang putri pinang gading.

konon, tempat jatuhnya burung geruda itu berubah menjadi tujuh buah anak sungai. sementera anak panah putri pinang gading yang mengenai dada burung gerude itu tumbuh menjadi serumpun bambu. suatu hari, ada seorang nelayan memotong bambu itu untuk dijsaudara termudaan joran[7]pancing. pada ketika memotong sebatang pohon bambu itu, tiba-tiba tangan nelayan itu terakut dan pribadi meninggal sebab bambu itu masih beracun. oleh masybirat setempat, bambu itu disebut dengan bulo berantu (bambu beracun). kemudian kampung itu mereka beri nama belantu, dari kata buloantu. namun, dalam perkembangannya, nama belantu berubah menjadi membalong yang kini menjadi nama kecamatan di pulau belitung.
* * *
demikian cerita putri pinang gading dari kawasan bangka-belitung (babel), indonesia. cerita di atas termasuk ke dalam cerita legenda yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijsaudara termudaan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. setidaknya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu keutamaan sifat pemberani dan pandai menghargai sesuatu.

pertama, keutamaan sifat pemberani. sifat pemberani yang dimaksud di sini ialah berani sebab benar, berani pada kebaikan dan berani menegakkan keadilan. sifat pemberani ini tercermin pada perilaku putri pinang gading yang berakibat membinasakan burung gerude yang besar dan ganas itu, walaupun ia hanya seorang perempuan. dari sini dapat membisubil sebuah pelajaran bahwa hendaknya orang tua membekali anak-anaknya dengan aneka macam keterampilan semenjak masih kecil.

kedua, sifat pandai menghargai sesuatu. sifat ini tercermin pada perilaku pak inda. pada mulanya, ia menganggap bahwa sepotong bambu itu tidak bermanfaat baginya. namun, sesudah berpikir, ia pun menyadari ternyata bambu itu berkhasiat untuk dijsaudara termudaan sebagai pemikul. bahkan, suatu hal yang tidak dulu diduga sebelumnya oleh pak inda, ternyata bambu itu bermetamorfosis menjadi seorang bayi perempuan. ia dan istrinya pun menjadi senang disebabkan sudah menerima seorang anak yang sudah lama mereka dambakan. dari sini dapat membisubil sebuah pelajaran bahwa jikalau kita menerima sesuatu benda, hendaknya tidak melihat dari segi fisiknya saja, tetapi memikirkan manfaat yang dapat membisubil dari benda tersebut.

Sumber : https://histori.id/kisah-putri-pinang-gading/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker
Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu