Saat Tuntung Kapur melihat, ”Ternyata ada putri cantik. Turunlah putri. Ayo, Turunlah agar kita bisa mandi bersama-sama di sungai. Aku punya sampo jeruk purut kasturi, taik ayam taik biri,” kata Tuntung Kapur pada Putri.
Namun, putri belum juga mau turun. Tuntung Kapur memaksa. ”Turunlah Putri, kalau putri tidak mau, kucubit sampai kulit-kulit putri terkoyak,” ancam Tuntung Kapur. Karena takut dengan ancaman Tutung Kapur, putri pun akhirnya turun.
“Putri, ayo kita mandi, memakai sampo dan kita lomba menyelam. Ayo, Putri harus cepat-cepat membuka baju melepas semua perhiasan dan turun duluan ke sungai. Setelah putri menyelam aku akan menyusul,” kata Tutung Kapur.
Dengan lugunya, putri langsung melepas semua perhiasan dan menceburkan diri ke dalam sungai. Selain itu, putri juga menyelam dengan sangat lama, berharap ia akan menjadi pemenang. Sedangkan Tuntung Kapur ternyata tidak mandi. Tuntung Kapur memakai semua pakaian dan perhiasan milik putri. Ketika putri selesai menyelam, Tuntung Kapur telah siap dengan perlengkapan milik putri. Melihat itu, putri sedih. Dia baru teringat pesan kakaknya.
”Putri, bajunya aku pinjam, ya? Sepertinya aku cantik memakai baju milik Putri,” kata Tutung Kapur.
“Tapi baju untukku mana, aku tidak punya baju yang lain.”
“Putri pakai saja bajuku, kita tukaran sebentar, ya.”
Baju milik Tuntung Kapur adalah baju yang sangat jelek, seperti jala ikan yang sudah terkoyak-koyak. Sedangkan baju putri adalah baju yang bersulam emas. Putri menangis, menyesali dirinya yang tidak mau mendengar nasihat kakaknya.
“Ih, Putri, jangan menangis. Kenapa harus menangis, aku hanya meminjam sebentar. Putri lucu ya,” Tuntung Kapur merayu.
Dengan girang, kemudian Tuntung Kapur berlari pulang, memamerkan kecantikan baju yang dia pakai pada ayah dan ibunya. “ Ayah, aku mau pergi ke hilir bersama dengan temanku. Dia datang khusus untuk menjemputku dari jauh,” kata Tutung Kapur. Ia berniat mengikuti putri ke mana tujuannya.
Sekembalinya ke sungai, Tutung Kapur melihat putri masih menangis sambil meminta bajunya. “Kembalikan bajuku,” pinta Putri.
Tapi Tuntung Kapur malah tidak peduli dengan permintaan putri. Lagi-lagi dia mengancam. “Putri, aku sudah bilang mau pinjam sebentar. Kalau memang putri tidak memberi, biar kucubit sampai terkoyak kulit putri.”
Mendengar ancaman itu, putri hanya diam. Tuntung Kapur lalu mengajak putri untuk cepat-cepat naik ke atas perahu agar bisa lebih cepat meninggalkan tempat itu. Sesampai di atas perahu, perahu tidak bergerak sedikit pun. Tuntung Kapur jadi heran.
“Putri, bagaimana caranya? Ayo cepat, ajari aku. Setelah aku bisa nanti, aku akan membawa sendiri perahu ini,” katanya.
Putri menangis lagi, sambil dia bernyanyi. ”So…so…perahu berdeso, Kakakku ke langit ke Bujang Jere, aku ke hilir ke Malim Dewa.”
Sesaat perahu pun berlaju. Kemudian Tuntung Kapur juga ikut bernyanyi, menyanyikan lagu yang sama. Akibatnya, perahu berhenti dan tidak bergerak lagi. Dengan kejadian itu, Tuntung Kapur sepanjang perjalanan hanya diam saja.
Sesampai ke hilir, kabar kedatangan Putri Bungsu ternyata sudah tersebar ke seluruh penjuru, hingga beramai-ramai masyarakat menungguinya di pemberhentian. Setiap orang ingin melihat langsung Putri Bungsu yang sudah terkenal kecantikannya. Sedangkan Tuntung Kapur tidak mau lagi mengganti baju dan segala perhiasan milik Putri Bungsu masih tetap dikenakannya.
Tibalah Tuntung Kapur dan Putri Bungsu di kampung yang dituju. Malim Dewa sang pangeran pun sudah siap menunggu. Tapi kenyataan menjadi berbeda, Tuntung Kapur malah mengaku menjadi Putri Bungsu. Putri sendiri dikatakan hanya sebagai pesuruhnya. Sedangkan Putri Bungsu tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya menangis mengingat dirinya yang tidak patuh pada nasihat kakaknya.
Malim Dewa punya inisiatif baik, ia juga membawa Putri Bungsu ke istana, sekalian dengan Tuntung Kapur. Sesampai di istana, pesta besar pun digelar. Tuntung Kapur menikah dengan Malim Dewa. setelah menikah, Malim Dewa belum juga tahu bahwa yang dinikahinya bukan Putri Bungsu yang sebenarnya. Putri yang sebenarnya hanya dijadikan sebagai pesuruh.
Seminggu berselang, kerabat sudah mulai pulang, rumah Malim Dewa menjadi sepi. Malim Dewa meminta istrinya memasak seekor ayam. Dasar Tuntung Kapur yang tidak pernah bekerja dan tidak pernah memasak ayam, malah yang dimasaknya adalah bulu-bulu ayam, sedangkan daging ayamnya dilempar ke luar, diberikannya pada Putri Bungsu. Kemudian Putri Bungsu memasak daging ayam dan merasa senang karena bisa makan enak. Saat masakan putri bungsu mendidih, masakannya bisa berbicara. “Dek-dek kuali, raja menjadikan Tuntung Kapur sebagai istri… Putri Bungsu jadi pembantu,” begitulah ucapan-ucapan yang keluar dari masakan Putri Bungsu.
Mendengar itu, Tuntung Kapur naik pitam. Dia meminta suaminya untuk membuang pembantunya itu ke tengah hutan. Kemudian semua masyarakat dikumpulkan untuk mengarak Putri Bungsu ke hutan. Sesampai di hutan, putri Bungsu dibuang. Setelah semua orang pergi, putri menangis tiada henti sambil meratap dan menceritakan segala kisah hidupnya.
“Alahai nasibku yang tidak sama dengan orang, anak tiada, ibu pun tiada, berbapak pun tidak. Hidup berdua dengan kakak yang aku sayangi, tapi ia telah pergi meninggalkan aku. Kakakku pergi ke langit ke Bujang Jere, aku ke hilir ke Malim Dewa.”
Di sela-sela ratapannya, air matanya terus mengalir, terhimpun segala kesedihan, Putri Bungsu menangis terisak-isak. “Sampai ke hilir, aku bertemu Tuntung Kapur yang merampas kain bajuku, yang merampas emas perakku. Aku dijadikan anak tangga rumah mereka. Ala hai nasib, kini tanpa kesalahan apa pun aku dibuang ke tengah hutan. Aku dijadikan makanan dari segala binatang di hutan ini,” putri terus menangis sambil berdendang.
Tiba-tiba ada harimau ke luar dari hutan merasa iba dengan tangisan Putri Bungsu. “Jangan menangis lagi Putri, aku tidak akan mengganggumu. Sekarang katakan apa yang kau sedihkan, siapa tahu aku bisa membantu,” kata harimau.
“Hidupku berbeda dengan orang lain. Aku hanya sendiri, tidak ada rumah, tidak ada saudara, bagaimana aku hidup di bawah pohon?”
“Jangan menangis Putri, aku akan memanggil semua kawan-kawanku,” sahut harimau.
Tiba-tiba segala binatang yang ada di hutan berkumpul, gajah, monyet, babi, rusa. Berkata gajah, ”Jangan menangis lagi Putri Bungsu, kami akan membuat rumahmu.”
Kemudian dengan secepat kilat binatang-binatang tersebut telah siap membuat sebuah rumah untuk Putri Bungsu di atas pohon dengan mahligai yang sangat indah. Kemudian putri terharu dan menangis lagi. Lagi-lagi dia berfikir bagaimana dia makan. Jika tidak ada makanan, sia-sia saja dia punya rumah.
Babi mendengar tangisan itu. “Jangan menangis Putri Bungsu. Kami akan menyediakan usaha untukmu,” kata babi.
Tiba-tiba binatang-binatang itu menggarap tanah. Babi dengan tikus membawakan biji-bijian untuk ditanam. Akhirnya siaplah sebuah kebun dengan beraneka ragam isinya, padi, labu, kacang-kacangan, dan sayur-sayuran.
Lama waktu berselang, hingga padi-padi mulai berbunga. Tiba-tiba datang masyarakat kampung melintasi hutan dengan niat berburu, karena berburu adalah hal yang paling disenangi Malim Dewa. Sungguh terkejut mereka melihat di tengah hutan ada sebuah kebun dengan tanaman yang sangat lengkap.
Sesampainya di hutan, anjing-anjing pemburu yang dibawa tidak tangkas lagi. Semuanya hanya bisa duduk, menggonggong, dan berjalan berkeliling di sekitar rumah Putri Bungsu. Malim Dewa semakin heran, tidak pernah ada kejadian serupa ini. Anjing-anjing mereka adalah anjing terbaik. Tak berlama di situ, akhirnya mereka pulang. Tapi ada hal yang mengejutkan lagi, anjing-anjing pemburu milik Malim Dewa tidak pulang. Dia berdiam di dekat tempat tinggal Putri Bungsu.
Besoknya, Malim Dewa punya inisiatif untuk menjemput anjing pemburunya ke hutan. Takut-takut jika anjingnya dimakan harumau. Ternyata tidak. Anjing Malim Dewa masih ada tepat di bawah rumah Putri Bungsu. Anjing itu kemudian dibawa pulang. Namun, anjing malah ingin kembali lagi ke hutan. Dengan alasan itu, akhirnya Malim Dewa keluar masuk hutan berkali-kali. Dan berkali-kali itu pula dia melihat ada sebuah rumah di atas pohon dengan mahligai indah. Akhirnya, dia teringat pernah mengantar pesuruhnya ke hutan ini. Jangan-jangan itulah orang yang diantarnya dulu. Malim Dewa mulai curiga.
Tiba-tiba dari atas rumah terdengar suara tenun. Malim Dewa mendengar dengan teliti suara-suara tenun itu. Hingga akhirnya dia yakin bahwa yang berada di atas pohon itu adalah manusia. Putri Bungsu demikian pula, dia tahu beberapa hari ini Malim Dewa berada di sekitar rumahnya.
Padi-padi yang mulai menguning mulai didatangi burung-burung. Dari atas rumahnya, Putri Bungsu menghalau burung dengan nyanyian. “O yayayo, suara burung, jangan dimakan pulut lengkawi untuk lepat dan tumpi, hajat niat habis panen ini.”
Nyanyiannya diselingi dengan ketukan tenun yang dimainkannya, hingga bagai ada alunan musik. Tanpa sadar, Malim Dewa sudah berada sangat lama hanya untuk sekedar mendengar nyanyian Putri Bungsu. Dia lupa pulang.
Akhirnya dia sadar, baru dia pulang ke kampung. Tapi sesampainya di kampung, dia kembali mengajak masyarakat kampung untuk berburu rusa putih ke hutan, sebagai obat penyubur rahim istrinya. Memang itulah permintaan istrinya. Masyarakat patuh. Berbondong-bondong masyarakat ikut ke hutan mencari rusa putih yang diperintahkan oleh Malim Dewa, sedangkan Malim Dewa langsung menuju pelataran rumah Putri Bungsu. Malim Dewa semakin berpikir tentang seseorang yang ada di atas pohon. Akhirnya ia tanyakan pada teman dekatnya. “Teman, coba lihat rumah yang ada di atas pohon itu, menurutmu itu manusia biasa atau bukan? Jika manusia, mengapa rumahnya di atas pohon tanpa ada tangga dan dia hidup sendiri. Jika memang bukan manusia, aku mendengarnya menyanyi, menenun, dan dia punya kebun-kebun dan sawah-sawah.”
Terdengar lagi suara Putri Bungsu bernyanyi dari atas rumahnya, sambil menghalau burung-burung padi. Nyanyian itu diselingi dengan suara burung yang berkicau, berdialog dengan Putri Bungsu. “Tik, tik, tik, jangan takut hai Putri Bungsu, aku tidak memakan biji padimu, aku hanya minum di kelopaknya, aku bermain-main di tangkainya.”
Putri menyahut, ”Beras pulut itu untuk lepat dan tumpi hajat niat habis panen ini.”
Malim Dewa semakin penasaran. Dia minta seorang temannya untuk mencari tahu tetang orang di atas pohon. Temannya pun melaksanakan. “Hai, siapa pun yang ada di atas sana, aku ingin berbicara denganmu. Bolehkah aku naik k e atas rumahmu?” kata teman Malim Diwa.
“Kalau memang mau naik, naik saja. Tapi bilang, kamu datang dengan siapa?” sahut suara di atas pohon.
“Aku mau naik sendiri saja, karena aku datang hanya sendiri. Boleh aku naik, apa kamu hanya sendiri?”
“Naiklah, aku hanya sendiri di sini, tidak ada suami dan tidak ada sesiapa.”
“Bagaimana aku bisa naiki rumahmu, sedang aku tidak melihat ada tangga di sini,” jawab teman Malim Diwa lagi.
“Itu ada tangga di dekatmu, naiklah.”
“Aku tidak melihatnya, di mana?”
Setelah berbicara seperti itu, barulah terlihat ada tangga yang sangat tinggi. Ternyata tangganya bukan sembarang tangga. Tangganya tidak bisa dilihat oleh orang biasa, kecuali atas izin Putri Bungsu.
“Aku ingin naik satu anak tangga saja.”
”Naiklah.”
Pertama memang satu anak tangga yang dinaiki oleh teman Malim Dewa, tapi kemudian menjadi dua, tiga dan akhirnya sampai ke atas. Akhirnya, dia duduk di atas rumah putri dengan menggantung kakinya di pintu rumah. “Kamu siapa, mengapa hidup sendiri di tengah hutan seperti ini?” tanya teman Malim Diwa.
“Nasibku tidak sama seperti orang lain. Aku anak yatim piatu, tak ada ayah tak ada ibu. Dulu aku hidup berdua dengan kakakku. Tapi sekarang kami berpisah. Kakakku ke langit ke Bujang Jere, aku Ke Hilir ke Malim Dewa. Di perjalanan, aku tidak mendengar nasihat kakakku dan aku bertemu dengan Tuntung Kapur yang jahat. Dia merampas segala pakaianku, emas pirakku. Jadinya, Tuntung Kapur yang jahat yang dipersunting oleh Raja Malim Dewa, aku hanya dijadikan sebagai pesuruh, duduk dijadikan anak tangga. Tanpa kesalahan apa pun aku dibuang ke hutan, hanya Tuhan yang telah memberi pertolongan padaku,” kata Putri Bungsi bercerita.
“Aku ingin jujur, aku adalah pesuruh Malim Dewa yang diminta untuk mencari tahu keberadaanmu di sini wahai Putri Bungsu. Sekarang kami diperintahkan mencari rusa putih oleh raja, sebagai obat istrinya.”
”Bagus itu. Aku tidak pernah minta apa pun seumur hidupku, kecuali yang aku inginkan satu hal, yaitu aku ingin Tuntung Kapur mengembalikan semua milikku. Bawa pula jeruk nipis dan cabe yang telah digiling ke dalam satu toples yang besar, hanya itu saja. Kalau masih ada Tuntung Kapur, aku tidak akan pulang lagi ke kampung.”
Setelah berdialog cukup lama, teman Malim Dewa kembali membawa kabar tentang keberadaan orang di atas pohon. Setelah semua cerita tersampaikan, Malim Dewa jadi terkejut. Mereka bersama-sama pulang kampung.
Keesokan harinya, Malim Dewa datang lagi ke hutan. Kali ini dia datang dengan membawa barang-barang yang dipesan oleh Putri Bungsu. Sekaligus membawa Tuntung Kapur. Pada Tuntung Kapur, Malim Dewa sedikit berbohong. Malim Dewa mengatakan, rusa putih telah ditemukan dan hanya Tuntung Kapur saja yang bisa menjinakkannya. Berangkatlah Malim Dewa beserta masyarakat dan istrinya ke hutan.
Sesampainya di hutan, teman Malim Dewa naik terlebih dahulu dan berkata, “Putri kami telah membawa pesananmu yang kemarin.”
“Kalau memag Tuntung Kapur datang, aku ingin membalaskan dendamku padanya,” kata Putri Bungsu.
Putri bungsu pun dipertemuka dengan Tuntung Kapur disaksikan oleh masyarakat dan Malim Dewa. Kemudian putri mengambil kembali segala harta miliknya yang dipakai oleh Tuntung Kapur. Setelah semua terlepas, Putri Bungsu kemudian mengiris-iris daging Tuntung Kapur dan memasukkan dagingnya ke dalam toples cabe dan jeruk nipis, hingga sampai habis daging Tuntung Kapur dipotong-potong oleh Putri Bungsu. Kemudian toples yang sudah berisi daging itu dikirimkan pada kedua orang tua Tuntung Kapur.
Saat melihat daging Tuntung Kapur, kedua orang tuanya pingsan hingga meninggal di tempat. Akhirnya, Malim Dewa dan Putri Bungsu menikah. Pesta meriah terlaksana hingga akhirnya mereka hidup bahagia.
Sumber:
http://caratrikterbaru.blogspot.com/2011/07/cerita-rakyat-aceh-putri-bungsu.html
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...