Selanjutnya, di Desa Seni Kamasan juga mempunyai makanan khas tersendiri. Desa Kamasan selama ini kita kenal sebagai salah satu desa wisata. Desa Kamasan memiliki kelebihan dalam hal budaya tradisional yang masih dipertahankan hingga kini dan sekaligus menjadi identitas desa ini. Desa Kamasan ini terkenal sebagai kawasan yang mampu menghasilkan produk-produk kesenian unggul dan bernilai, seperti berbagai kerajinan perak, ukiran selongsong peluru, wayang tradisional, uang kepeng, dan emas.
Ketika kalian mengunjungi Desa Kamasan, maka akan terlihat di sepanjang jalur jalur menuju ke desa ini para pengerajin yang sedang asyik dan khusyuk dengan pekerjaan seninya. Disini kalian tak hanya bisa melihat proses kerajinannya dan melihat benda-benda kerajinan yang dihasilkannnya, namun juga bisa memesan dan membeli benda-benda seni tersebut, baik untuk koleksi pribadi maupun untuk souvenir yang akan diberikan kepada teman, sahabat atau keluarga.
Uang kepeng juga pernah mendapatkan penghargaan dari mantan presiden indonesia yaitu Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, dan itu menjadi kebanggan tersendiri bagi Kabupaten Klungkung, khususnya Desa Kamasan.
Desa Kamasan yang sudah sangat terkenal dengan hasil keseniannya ternyata juga memiliki makanan khas tersendiri, yaitu krupuk be atau yang lebih dikenal dengan sebutan "Puk Be’’.
Apakah kalian pernah mendengar Puk Be? Makanan ini memang belum cukup terkenal, namun makanan ini sangat populer di Desa Kamasan itu sendiri. Pukbe terkenal karena namanya yang unik dan berciri khas. Di Desa Kamasan kita bisa menemui banyak sekali pedagang–pedagang yang menjual Puk Be dengan rasa yang sangat nikmat tentunya.
Puk Be terbuat dari tepung dan daging yang dihaluskan lalu digoreng. Perlu diketahui bahwa ada dua macam Puk Be, yaitu Puk Be yang basah dan ada juga yang kering. Puk Be ini dilengkapi dengal sambal kacang atau sambal "Sere Limo". Penyajian Puk Be yang basah dan kering dicampur, lalu di siram dengan sambal dan ditaburi dengan bawang goreng.
Bagaimana? Terdengar nikmat bukan?
Tidak ada salahnya jika kita mencoba makanan unik ini karena tempatnya yang mudah dijangkau dan harganya sangat murah. Hanya dengan Rp 2.000 kita sudah bisa menikmati makanan unik ini sambil melihat-lihat indahnya Desa Seni Kamasan.
Sumber :
http://www.kulkulbali.co/post.php?a=298&t=jbk2015_peta_harta_karun_kuliner_klungkung#.WiixjzeySUk
Indonesia memiliki ragam kekayaan budaya yang hingga kini masih turun temurun diwariskan Identitas dan Asal-Usul Olahraga tradisional Indonesia merupakan bentuk permainan rakyat yang telah berkembang sejak lama sebagai aset budaya bangsa dengan mengedepankan unsur olah fisik [S1]. Aktivitas ini lahir dari kebiasaan, adat istiadat, serta tradisi spesifik yang dianut oleh kelompok masyarakat di berbagai daerah di Nusantara [S1], [S3]. Sebagai warisan nenek moyang, olahraga ini mencerminkan identitas budaya lokal yang unik dan sering kali tidak ditemukan dalam bentuk permainan masyarakat modern [S4], [S5]. Secara administratif, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Republik Indonesia telah melakukan standarisasi terhadap permainan rakyat ini menjadi cabang olahraga tradisional sejak tahun 2005 [S2]. Langkah ini diambil untuk menegaskan bahwa permainan yang diwariskan secara turun-temurun tersebut mengandung prinsip-prinsip olahraga, seperti nilai kompetisi yang sehat, kejujur...
Tenun NTT: Simbol Status, Identitas, dan Kisah Leluhur Identitas dan Asal-Usul Tradisi tenun yang paling populer di Indonesia merujuk pada Tenun Ikat , khususnya varian yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Popularitas ini tidak terlepas dari keunikan teknik, motif, dan makna filosofisnya yang kuat dalam budaya masyarakat setempat [S1]. Tenun ikat di NTT merupakan warisan budaya yang bertahan hingga kini, diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian integral dari identitas komunitas [S2]. Secara geografis, sentra tenun ikat NTT tersebar di berbagai pulau, dengan Pulau Sumba dikenal sebagai salah satu pusat tradisi ini yang paling kuat. Di Sumba, pembuatan kain tenun ikat tradisional masih lestari, dengan kampung-kampung seperti Kanatang dan desa-desa di wilayah Sumba Timur menjadi lokasi perajin aktif [S3]. Proses pembuatannya sangat mengikat dengan sejarah dan kehidupan masyarakat, di mana kain tenun bukan sekadar produk ekonomi tetapi juga warisan leluhur yang...
Kain tenun bukan hanya sekadar produk tekstil biasa di Indonesia Identitas dan Asal-Usul Kain tenun di Indonesia merupakan warisan budaya yang melampaui fungsi sebagai produk tekstil konvensional [S1]. Objek ini merepresentasikan hasil karya tangan yang memuat narasi sejarah panjang serta nilai-nilai budaya yang luhur [S4]. Keberadaannya telah menjadi bagian integral dalam aspek sosial, ekonomi, hingga spiritual masyarakat Nusantara selama ribuan tahun [S1], [S4]. Secara geografis, tradisi menenun tersebar luas di hampir seluruh wilayah Indonesia, di mana setiap daerah mengembangkan karakteristik, motif, dan filosofi yang unik [S1], [S3]. Keberagaman ini didukung oleh teknik pembuatan yang spesifik serta keterampilan perajin yang diwariskan secara turun-temurun [S1], [S4]. Beberapa wilayah yang memiliki tradisi tenun dengan kekhasan motif dan makna yang menonjol antara lain Toraja, Maluku, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Bali [S2]. Setiap motif yang dihasilkan bukan sekadar ele...
Indonesian parents often use traditional games to educate their children about character building Identitas dan Asal-Usul Permainan Bentengan diklasifikasikan sebagai permainan tradisional anak yang telah berintegrasi dalam budaya lokal Indonesia [S2]. Teks bebas mencatat bahwa aktivitas ini telah dimainkan sejak era kolonial Belanda [S1]. Ensiklopedia daring mengonfirmasi bahwa permainan tradisional Nusantara umumnya memiliki akar akulturasi yang kuat [S2]. Meskipun tidak teridentifikasi secara spesifik mengenai wilayah kelahirannya, permainan ini tersebar luas sebagai warisan bermain anak pra-modern [S2]. Perbandingan antara kedua sumber menunjukkan bahwa [S1] berfokus pada konteks historis kolonial dan mekanisme permainan, sedangkan [S2] lebih menekankan pada akar akulturasi budaya dan fungsi sosialnya secara umum. Kedua sumber memiliki batasan masing-masing: [S1] tidak menguraikan variasi regional, sementara [S2] bersifat umum tanpa mendetailkan mekanisme spesifik Bentengan....
Songket Palembang: Jejak Sriwijaya dalam Selembar Kain Martabat Identitas dan Asal-Usul Songket Palembang merupakan kain tenun tradisional yang diakui sebagai warisan budaya tak benda Indonesia sejak tahun 2013 [S1]. Kain ini dikenal luas karena kekayaan historisnya dan menjadi penanda martabat dalam budaya masyarakat Palembang [S3, C5, C6]. Popularitasnya sering terlihat dalam berbagai pameran dan dikenakan oleh tokoh publik [C2]. Asal-usul Songket Palembang kerap dikaitkan dengan masa Kemaharajaan Sriwijaya, yang berpusat di Palembang, Sumatera Selatan [S3, C4]. Sejak masa kerajaan, songket tidak hanya berfungsi sebagai busana, tetapi juga sebagai simbol kedudukan, kehormatan, dan peran sosial seseorang [C7]. Keunikan ini menjadikan Songket Palembang lebih dari sekadar kain indah, melainkan sarat akan nilai sosial dan filosofis yang melekat pada setiap helainya [C8, C9]. Meskipun demikian, belum ada sumber yang secara spesifik merinci sentra produksi Songket Palembang selain...