Dahulu kala ada seorang gadis cantik jelita berambut panjang terurai, namun hidup miskin bersama orang tuanya di pinggiran hutan yang jauh dari onnan (pasar). Pada mulanya hidup mereka tenang dan tentram, sampai datangnya seorang saudagar menagih hutang pada keluarga petani miskin tersebut. Petani itu berjanji akan segera melunasi hutangnya pada hari onnan pekan depan.
Saudagar itu pun tak bisa berbuat apa-apa, sebab tak ada harta yang bisa disita dari si petani. Dia marah dan mengancam akan menghabisi nyawa si petani jika tak segera melunasi hutangnya, barulah penagih hutang itu pergi. Mendengar ucapan dan amarah saudagar yang mengancam nyawa amongnya, gadis cantik belia putri pak tani sedih bukan kepalang. Tak tahu dia bagaimana cara menolong amongnya lunasi hutang tersebut.
Pada saat hari pekan tiba, saudagar kejam sudah menunggu si petani di onan pasar, namun karena yang ditunggu tak juga muncul. Akhirnya saudagar kehilangan kesabaran dan bergegas menuju rumah petani. Dari jauh petani sudah melihat kedatangan saudagar yang marah karena dia belum bisa bayar hutang. Dan untuk gantinya, saudagar ingin mengawini putri petani yang cantik itu.
Namun melihat gelagat kurang baik, tanpa pikir panjang lagi, pak petani menarik tangan anak gadisnya dan berlari sembunyi masuk hutan belantara. Mereka baru kembali ke rumah, setelah penagih hutang itu pulang.
Kejadian serupa berulang kali terjadi, yang pada akhirnya membuat gadis cantik berambut panjang tersebut tak tahan lagi melihat penderitaan bapaknya yang tak berdaya. Diapun mengutarakan niatnya untuk pergi ke hutan seorang diri demi mencari hasil hutan yang bisa dijual.
“Among (Bapak), ijinkanlah aku pergi ke hutan sendiri mencari hasil hutan, biar bisa kita bayar hutang among itu,” kata si gadis terisak-isak.
Mendengar itu, pak petani tak tega membiarkan putrinya sendirian masuk hutan dan dia mau ikut.
“Jangan among, karena tadi malam aku mimpi dan dalam mimpiku ku lihat ada sebatang pohon yang dapat menolong kita membayar hutang bapak,” ungkap anak gadisnya lembut.
“Tapi, aku hanya bisa menemukan pohon itu jika aku datang sendirian. Bila ada orang menemaniku masuk hutan meskipun cuma seorang saja, aku tak kan bisa menemukannya. Begitulah pesan orang tua dalam mimpiku,” papar si gadis lebih lanjut.
Beberapa saat pak petani diam terpaku sambil menimbang apakah dia mengabulkan permohonannya. Sambil menarik nafas panjang barulah dia mulai bicara.
“Boruku (gadis), jika memang itu keputusanmu dan pesan lewat mimpimu juga tak mengijinkan aku ikut, baiklah, pergilah nak. Kau harus hati-hati, karena banyak binatang buas di sana. Tapi jika aku lama menunggu dan kau tak juga pulang, aku akan mencarimu masuk hutan,” jawab pak petani.
“Baiklah among, akan kuingat pesanmu tadi. Aku harus segera berangkat sebelum saudagar itu datang,” kata anak gadis itu sambil pamit melangkah memasuki hutan larangan.
Di dalam hutan larangan anak gadis tadi langsung mencari pohon muncul dalam mimpinya ke semua sudut penjuru mata angin. Setelah lama mencari dan tak juga menemukan pohon dimaksud, dia pun ingin istirahat sejenak. Belum lama dia beristirahat, tiba-tiba terdengar suara memanggil-manggil dan suara itu dikenalinya sama dengan suara orang tua dalam mimpinya.
“Kemarilah anakku, mendekat ke sini,” kata suara aneh itu lagi.
Anak gadis itu gemetar dan hampir saja pingsan terkejut dan juga karena tak melihat sosok siapapun di sana.
“Jangan takut cucuku , sebab hanya dengan cara inilah kau dapat menolong orang tuamu membayar hutangnya dan juga akan membawa kemakmuran bagi orang banyak,” kata suara itu lebih lanjut.
Perlahan gadis berambut panjang dan cantik itu mulai bisa mengatasi rasa takutnya. Dengan suara lirih dia mohon tidak diganggu dan menunjukkan di mana letak pohon yang dijanjikan dalam mimpinya tersebut.
“Ompung (kakek) jika kau benar dan tidak bohong padaku tunjukkanlah di mana letak pohon itu?” pintanya dengan penuh harap.
“Hahahahaaa… cucuku, aku sudah tahu maksud kedatanganmu, supaya bisa bayar hutang bapakmu kan?”. Gadis itu mengangguk saja pelan.
“Nah karena ketulusan hati mu, kaulah boru yang terpilih dan bisa menjelma jadi pohon seperti tersirat dalam mimpi mu itu. Hanya dengan cara itulah bisa membayar hutang amongmu,” kata suara tua itu menjelaskan
Manangislah gadis tersebut, tetes air matanya mengalir jernih saat menyadari dirinyalah orang yang dimaksud dalam mimpinya tersebut. Dan mulai saat ini dia tak bisa jumpa lagi among-nya. Dengan alasan cinta pada orang tua dia rela berkorban dan menjelma jadi pohon berambut panjang yang selalu menetes kan air mata.
“Maaf ompung, aku terima jalan apapun yang harus kutempuh, tapi bagaimana menerangkan kejadian ini pada among ku?” tanya si gadis dengan sopan.
“Tabahkan hatimu cucuku, nanti aku beritahu among-mu lewat mimpi persis seperti yang kau alami. Kubimbing dia berziarah ke sini membersihkan tempatmu berpijak di bumi ini, juga membawa itak gurgur sebagai pangannanmu. Ingatlah, jika ada orang datang ke sini nanti, itulah among-mu,” jawab suara tua itu.
Tak lama kemudian gadis tersebut menjelma jadi sebatang pohon yang selalu tangis dan rambutnya tergerai memanjang. Sebagamana halnya pohon haminjon/kemenyan.
Sumber:
https://nusantaralogin.blogspot.com/2018/02/cerita-rakyat-sumatera-utara-hikayat.html
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...