Pisang Lowe (Lokapau) tidak asing lagi bagi masyarakat Banggai. Lebih khusus masyarakat Kabupaten Banggai, Banggai Laut dan Banggai Kepulauan. Sejauh yang kami ketahui, pisang ini tidak ditemukan didaerah lain. Mungkin ada namun kami yang belum menemukannya sampai saat ini. Pencarian di mbah google juga kami lakukan namun tidak ditemukan. Mungkin karena nama yang berbeda sehingga tidak muncul dipencarian google. Kami mencoba bertanya kepada beberapa teman tentang keberadaan pisang lowe (lokapau) namun jawaban yang sama bahwa hanya menemukan di banggai.
Terdapat beberapa jenis dengan rasa yang agak berbeda. Ada yang kulitnya hijau tua dan ada yang hijau muda. Pisang lowe (lokapau) dengan kulit yang hijau muda sedikit lebih besar dan renyah ketika digoreng dibanding yang hijau tua.
Panjang pisang ini kurang lebih 20 – 25 cm dan diameternya sekitar 5 – 7 cm. Bentuknya mirip dengan pisang ambon namun pada bagian sudut pisang lowe (lokapau) lebih menonjol. Pohonnya juga sedikit menyerupai pisang ambon namun sedikit lebih kecil.
Perbedaan dengan pisang ambon adalah terletak dari cara mengkonsumsinya. Kalau pisang ambon lebih nikmat dimakan ketika matang sedangkan pisang lowe (lokapau) lebih nikmat dipanen sebelum matang lalu digoreng agar lebih renyah. Masyarakat Banggai biasanya dalam penyajiannya bersama sambal atau yang sering di sebut dengan dabu-dabu.
Hidangan tersebut nikmat disantap di suasana santai bersama keluarga atau teman akan menambah meriahnya kebersamaan. Sebagai tambahan, pisang ini tidak baik jika digoreng dalam keadaan yang sudah matang atau mengkal. Karena selain tidak renyah, rasanya akan asam dan dapat meningkatkan asam lambung bagi penderita maag.
Karena sifatnya yang demikian sehingga pisang ini tidak baik dibawa ke daerah yang menempuh perjalanan berhari-hari. Jika tersimpan berhari-hari maka pisang ini tidak lagi segar dan tidak renyah ketika di goreng.
Berdasarkan pengalaman yang kami rasakan, pisang ini dapat bertahan kesegaranya hingga 2 hari hari asalkan disimpan ditempat yang sejuk dan pada saat dipanen tidak dalam kondisi yang terlalu tua. Sekalipun tidak lagi terlalu renyah namun masih nikmat ketika digoreng dengan cara yang tepat.
Penanaman pisang ini dapat dilakukan sebagaimana pisang lainnya. Ketika tanah yang digunakan untuk menanam tidak subur maka buahnya tidak terlalu besar atau akan kerdil. Panen pertama lebih besar dari panen pada pohon berikutnya.
Sumber: https://banggawi.com/pisang-lowe-lokapau-pisang-khas-banggai/
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...