Ornamen
Ornamen
Peralatan Sulawesi Barat Binuang, Sulawesi Barat
Pikellu'
- 20 Mei 2018
Budaya memang satu hal yang diamis, akan selalu berkembang dan terpengaruh oleh teknologi dan inovasi. Kemajuan inovasi teknologi mesin mempermudah dan menghemat waktu yang digunakan oleh manusia untuk melakukan pekerjaannya. Hal yang sama terjadi di wilayah Sulawesi Barat, dan berlaku pada satu alat dapur yang digunakan untuk mengeruk daging buah kelapa. Masyarakat biasa menyebutnya dengan istilah pikelluq
 
Pada awalnya pikelluq berbentuk miniatur mirip hewan yang memiliki bagian kepala, bagian tubuh, dan ekor, tepat di bagian kepala ditancapkan bilah metal bergerigi untuk mengeruk daging buah. Namun saat ini mungkin dengan alasan "kepraktisan" maka dilakukan modifikasi terhadap "pikelluq" yaitu dengan mengubah bagian "badan"nya dengan menggunakan kayu datar tanpa bentukan miniatur yang mirip dengan hewan, sangat kontras dengan model pikelluq sebenarnya.
 
Pikelluq di mata masayarakat Sulawesi Barat, suku Mandar khususnya bukan hanya memiliki fungsi sebagai alat untuk mengeruk daging buah kelapa, tetapi juga memiliki nilai mistis yang konon katanya dapat digunakan untuk mencegah angin ribut.
 
Pergeseran bentuk pikelluq yang terjadi tak dapat dihindari untuk alasan kemudahan dan efektivitas dan efisiensi biaya dan tenaga yang digunakan. Karena itu, berkembanglah pikelluq  yang menggunakan media "baskom" plastik yang dimodifikasi dengan alat utama mesin air yang dijadikan alat penggerak mata pengeruk yang dengan waktu cepat mengambil daging buah kelapa secara efektif.
 
Kelapa memang tidak pernah bisa dipisahkan dari urusan dapur saat berada di Sulawesi Barat, tanahnya yang dianugerahi iklim sesuai dengan pertumbuhan buah kelapa menjadikan wilayah ini banyak ditumbuhi kelapa dan menjadi komoditas besar. Hal ini juga yang melatarbelakangi dunia kuliner Sulbar banyak menggunakan bahan olahan daging buah kelapa (misalnya untuk santan) sebagain bahan pelengkap masakan saat acara-acara pernikahan, selamatan, akikahan, syukuran, dan kenduri-kenduri lainnya.
 

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker