Petulo khas Malang, semacam Putu Mayang tapi dibentuk bulat namun masih seperti mie. Kue petulo adalah salah satu kue khas tradisional yang terbuat dari bahan dasar tepung beras, santan, pewarna, dan bahan yang lain-nya. kue petulo ini mempunyai citarasa yang sangat khas sekali, sehingga semua orang pun bakal ketagihan terus buat mencicipinya. kue petulo ini sangat populer serta terkenal sekali diwilayah indonesia sebab kue ini telah ada sejak jaman dahulu. selain memiliki citarasa yang begitu lezat, kue petulo ini juga mempunyai tekstur yang sangat lembut ketika digigit. kue petulo ini sering sekali dijumpai di pinggir jalan ataupun dipasaran tradisional.
Dalam proses pembuatan-nya pun sangat mudah dan praktis sekali, serta bahan-bahan yang perlukan-nya pun sangat mudah untuk kita dapatkan di toko-toko terdekat. kue petulo ini juga sangat cocok jika dijadikan sebagai hidangan ketika sedang ada acara-acara tertentu, bahkan kue petulo ini juga sering dijadikan sebagai cemilan saat bersantai dan ditemani dengan segelas kopi maupun teh hangat. Anda penasaran bagaimana cara membuat resep kue petulo ini?, jika ya.. tenang saja, karena kali ini kami akan berbagi resep dan tips membuat kue petulo yang enak beserta bahan-bahan yang dibutuhkan-nya. Silahkan anda simak dibawah ini.
Bahan-bahan untuk bikin kue petulo:
Siapkan tepung sebanyak 250 gram
Siapkan air mendidih sebanyak 425 ml
Siapkan air sebanyak 75 ml
Siapkan pewarna hijau serta merah
Buat pelengkap:
Siapkan kuah santan manis sebanyak 400 ml
Cara membuat kue petulo yang enak:
1. Tepung beras di perciki dengan menggunakan air sebanyak 75 ml, perlahan-lahan sambil terus diaduk sampai airnya habis serta tepungnya menjadi lembap.
2. Sediakan dandang, lalu alasi dengan menggunakan kain tipis, lalu masukan tepung beras yang sudah di lembapkan. Kukus sekitar 10 menit, angkat serta ayak.
3. Tuangi dengan air yang mendidih, diaduk dengan menggunakan sendok kayu hingga tercampur dengan rata serta agak dingin.
4. Adonan dibagi hingga menjadi 3 bagian. warnai yang dua bagian dengan menggunakan pewarna hijau serta merah muda. Sisanya biarkan saja warna putih, kemudian diaduk masing-masing bagian sampai merata.
5. adonan dimasukan pada cetakan semprotan khusus buat petulo. tekan-tekan cetakan diatas satu lembar daun pisang sampai adonannya keluar dengan berbentuk mie, potong dengan ukuran 6 cm, lalu rapihkan.
6. Kukus pada dandang yang sudah dialasi daun pisang hingga kue nya matang. angkat serta hidangkan dengan kuah santan manis.
Sumber :
http://caramembuatkueresepenak.blogspot.co.id/2015/10/cara-membuat-kue-petulo-yang-enak.html
GELOMBANG EKSODUS I. Pelarian Di Pacitan Ketika panji-panji emas Majapahit tercabik oleh perang perebutan warisan dinasti, sejarah arus utama seolah menoleh ke arah lain. Yang tercatat kemudian hanyalah runtuhnya tiga pusat kekuasaan besar secara beruntun: Wilwatikta-Trowulan yang ambruk pada 1478 M, Kediri di bawah Girindrawardhana yang tumbang dua dasawarsa kemudian, serta: Lenyapnya benteng pertahanan terakhir Patih Mahodara pada 1527 M. Di balik kronik pergantian rezim itu, tersimpan kisah lain yang jauh lebih megah dan tragis: kisah manusia-manusia yang terseret arus perubahan kekuasaan baru, Demak Bintoro. Seusai kemenangan Ranawijaya atas kubu Bhre Kertabhumi, muncul kebutuhan mendesak untuk membangun dasar legitimasi baru. Upaya itu dijalankan melalui jejaring brahmana, penetapan tanah-tanah sima yang dibebaskan dari kewajiban pajak, penguatan tradisi Buddha-Siwa, serta pembentukan identitas Keling yang berpusat di Daha. Dalam pandangan para pendukungnya, ide...
Sejarah Senjakala Majapahit-Daha II. Patih Udara/Mahodara Berkuasa (1498 M) A. Krisis Demi mempertahankan kekuasaan di tengah impitan ekonomi dan bayang-bayang kehancuran, Ranawijaya memperlakukan rakyat kecil pedalaman sebagai sapi perah guna mendanai prajurit yang butuh logistik besar menghadapi kelompok pembangkang yang mulai tumbuh kembali. Pembangunan Kedaton baru beserta sistem pertahanan militer di Daha dalam waktu delapan tahun membawa kesengsaraan yang luar biasa bagi kaum tani di sepanjang aliran Sungai Brantas yang subur. Dinasti Girindrawardhana memberlakukan sistem kerja paksa, yang dikenal sebagai kerja gaga, secara militeristik demi mendirikan kompleks istana bata merah yang megah serta jaringan perbentengan baru. Di sisi lain, ribuan petani dipaksa meletakkan bajak dan cangkul mereka untuk mengangkut batu kapur dari perbukitan selatan, menebang pohon jati di belantara, serta mencetak jutaan bata merah untuk dinding pertahanan. Kesengsaraan ini kian mencekik...
SENJAKALA MAJAPAHIT I (1478 M) > Senjakala Majapahit bukanlah sebuah cerita tentang kelanjutan kemaharajaan yang tenang di bawah asuhan para resi yang bijaksana. Sebaliknya, ia merupakan sebuah panggung sejarah yang rapuh, berdarah, dan diperebutkan oleh kelompok-kelompok politik yang haus akan pengakuan kekuasaan. Demi melunasi dendam masa lalu, menegakkan kehormatan keluarga, dan mengejar ego dinasti, faksi-faksi pemberontak ini tanpa sadar telah memeras keringat rakyat, merampas hak atas tanah perdikan, dan mengirim ribuan rakyat jelata (kawula) Jawa ke lubang kematian yang sia-sia. I. Senjakala Pertama Majapahit Trowulan (1478 M) A. Pemberontakan Ranawijaya (Keling-Daha) Brawijaya IV saat bertakhta sebagai Maharaja Majapahit bergelar Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Singhawikramawardhana terpaksa mundur ke basis pertahanan keluarganya di Kediri. Setelah terusir dari Trowulan oleh kudeta Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) pada tahun 1468 M, Brawijaya IV menyelamat...
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...