Pesona Kerajinan Tanduk dari Sukabumi
Tanduk merupakan salah satu bagian dari tubuh hewan seperti sapi, kerbau,rusa, kambing dan lain-lain yang sangat keras dan tumbuh dari kepalanya. Tanduk ini dapat diukir menjadi bentuk yang menarik seperti ikan, burung, dan masih banyak lagi. Kerajinan tanduk ini juga dapat dibentuk menjadi aksesoris, hiasan, alat-alat dapur, dan lainnya. Di salah satu tempat di Sukabumi bernama Kampung Inggris, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat merupakan pusat pengrajin kerajinan tanduk. Biasanya usaha kerajinan tanduk ini milik turun temurun dan pekerjanya merupakan orang-orang disekitar kampung tersebut yang memiliki keahlian mengukir yang tidak biasa dan belajar secara otodidak. Tanduk yang digunakan merupakan tanduk dari hewan seperti sapi, kerbau, dan kambing dan pastinya telah mendapatkan izin dari pemerintah. Para pengrajin dan pengusaha kerajinan ini tidak menggunakan barang ilegal seperti gading gajah karena itu merupakan hewan yang dilindungi. Adapun bahan pelengkap kerajinan ini ada banyak sekali, contohnya kulit domba, kayu, paku, dan lain-lain.
Proses pembuatan kerajinan ini diawali dengan mengupas kulit tanduk. Kemudian dibakar atau digoreng agar tanduk yang keras ini menjadi lentur sehingga mudah untuk dibentuk. Lalu tanduk ini akan dikikir (dihaluskan) sebelum dibentuk sesuai yang diinginkan. Cara menghaluskan nya ada 2 cara, yaitu cara tradisional dan modern. Untuk cara tradisional tanduk ini diampelas menggunakan kertas yang tidak terlalu kasar, lalu diampelas lagi menggunakan kertas yang kasar, dan yang terakhir digosok dengan eternit yang telah dihancurkan seperti bedak bubuk. Sedangkan cara modern hanya menggunakan mesin bernama Gurinda untuk menghaluskannya.
Kerajinan tanduk ini sangat terkenal dipasar lokal maupun internasional seperti Jepang, Singapura, Korea, dan lain-lain. Cara pemasaran untuk kerajinan ini yaitu dengan mengikuti pameran-pameran baik dalam maupun luar negeri. Jumlah permintaan masyarakat kurang lebih 3000/bulannya. Untuk harga kerajinan ini tergantung dengan kerumitan dalam pembuatannya. Biasanya untuk kerajinan yang mudah memiliki harga sekitar ratusan ribu rupiah, sedangkan untuk kerajinan yang rumit memiliki harga sekitar jutaan rupiah, bahkan dapat mencapai puluhan juta rupiah.
#OSKMITB2018
Referensi :
Dari laporan kerja kelompok kerajinan tanduk saya ketika SMA yang didapatkan dari mewawancarai salah satu wirausahawan kerajinan tanduk di Kampung Inggris, Kabupaten Sukabumi.
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara