Nama permainan ini diambil dari teknis bermainnya karena setiap pemain harus berusaha memukul lawan dengan ujung tongkat rotan sebatas lutut ke bawah. Peralatan yang digunakan dalam permainan ujungan adalah tongkat rotan dengan panjang sekitar 75 cm yang disediakan oleh bebato. Permainan ujungan biasanya dilakukan pada malam hari dengan penerangan obor. Arena bermainnya berupa tempat terbuka atau lapangan.
Permainan ujungan merupakan permainan sejenis pertandingan yang dipimpin oleh wasit yang disebut bebato. Dalam pelaksanaan permainannya diiringi oleh tetabuhan atau gamelan. Setelah semua siap, kedua pemain masuk ke dalam arena bermain dan memegang tongkatnya masing-masing. Kemudian bebato memeriksa ujung tongkat keduanya dan memberitahu aturan permainan yang dilanjutkan dengan saling bersalaman.
Permainan dimulai setelah mendapatkan aba-aba dari bebato. Kedua pemain yang bertanding berusaha saling memukul dan mencari siasat berputar-putar. Permainan ujungan biasanya semakin ramai dengan gemuruh tepuk dan teriak penonton dalam menyaksikan kedua pemain yang saling memukul. Ketika permainan memuncak, dimana terdapat pemain yang terluka parah, maka bebato akan memberikan kode agar permainan dihentikan. Pemenang permainan ditentukan oleh bebato, misalnya saat terjatuh dan atau kaki terluka. Pemain yang menang tersebut memiliki kemungkinan melawan pemain baru atau tidak perlu bermain lagi.
Permainan ujungan ini merupakan salah satu seni beladiri dan bahkan di beberapa daerah menjadi tradisi atau ritual untuk suatu tujuan. Betawi juga memiliki kesenian ujungan dimana kekhasannya terletak musik pengiring tarian uncul yang diselipkan di dalamnya. Kesenian beladiri ujungan juga sering dimainkan di wilayah Bekasi Utara. Adapun di Banyumas, ujungan menjadi tradisi untuk mempercepat datangnya hujan.
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara