Permainan ini merupakan salah satu permainan simpel yang tidak memerlukan alat apapun. Permainan ini dinamai dari 7 warna pelangi yaitu Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila, Ungu. Permainan ini mirip dengan permainan ABC Lima Dasar namun dia bermain dengan warna.
Sebelum permainan dimulai para pemain yang biasanya diikuti oleh 5-7 orang memilih satu warna dari ketujuh pilihan warna diatas, setelah hitungan ke tiga pemain akan mengeluarkan jari mereka dari 0-10 jari. Jari-jari yang dikeluarkan tersebut akan dihitung lewat kalimat “Me Ji Ku Hi Bi Ni U”, bila berhenti di kata “Me” yang berarti merah maka si pemilik warna tersebut akan memberikan misi atau hukuman kepada pemain lainnya, dan hal yang sama berlaku pada warna lainnya. Bila permainan berhenti di warna yang tidak dimiliki siapapun maka penghitungan akan diulang kembali.
Misi dan hukuman yang diberikan adalah bebas namun hukuman yang terkenal adalah dengan sebutan “Tak Tik Bum Wer” yang berarti dijitak, dikelitik, dipukul telapak tangannya, dan dijewer, tentu saja hukuman tersebut tidak dilakukan dengan keras. Hukuman tersebut juga dipilih melalui cara yang sama dengan pemilihan warna sebelumnya. Ada banyak versi dari permainan masa kecil kita ini, karena otak kreatif anak-anak Indonesia maka permainan simpel ini pun bisa dijadikan suatu kesenangan yang bisa dirasakan siapapun yang memainkannya. Permainan simpel ini juga dapat dijadikan sebagai penghilang kebosanan karena zaman sekarang dimana semuanya serba teknologi pastinya kita merindukan zaman-zaman dimana kita semua bermain tanpa mempedulikanada tidaknya notifikasi di handphone, maka dari itu semoga artikel ini bermanfaat bagi teman-teman yang ingin merasakan serunya permainan tradisional simpel yang hanya ada di Indonesia ini.
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara