Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Sulawesi Utara Minahasa
Perjanjian Dengan Buaya
- 17 November 2018

Di Minahasa, ada seorang lelaki bernama Wuwung Sewe. Ia hidup sebagai nelayan. Oleh karena itu, ia sering ke sungai ataupun ke pantai. Di sungai dan pantai itulah ia memperoleh kebutuhan hidupnya.

Air membekali hidupnya dengan sumber pangan dan alat pengangkutan. Akan tetapi, sungai dan pantai kadang membahayakan bahkan mengancam kehidupan manusia. Suatu waktu laut bisa meluap dan sungai bisa membawa banjir.

Pada suatu hari, Wuwung Sewe turun ke muara sungai untuk memancing. Cuaca saat itu mendung, dan puncak gunung sudah bertudungkan awan. Namun, niatnya tetap teguh untuk mencari nafkah. Kail, umpan, parang, dan tempat ikan telah disiapkannya. Setelah siap semua, perjalanan pun dimulai.

Sepanjang perjalanan, Wuwung Sewe berpikir tentang ikan-ikan yang akan dikailnya. Ia mengetahui bahwa di dalam muara sungai terdapat banyak ikan air payau seperti kakap bergaris, udang, dan kepiting.

Kira-kira dua jam Wuwung Sewe mengail dengan umpan bagus, cacing agak besar, tetapi tidak berhasil. Rasa bosan mulai berkecamuk dalam dirinya. Apalagi hujan rintik-rintik mulai terasa. Ia enggan pulang sebelum mendapatkan ikan untuk dibawa pulang ke rumah.

“Lebih baik aku pindah ke hilir,” pikir Wuwung Sewe. Hilir sungai biasanya berair keruh dan berlumpur karena ada lanau (butiran pasir).

Wuwung Sewe mulai beranjak ke hilir dengan menyusuri buluh-buluh tui (buluh kecil) yang tumbuh di sepanjang hilir sungai itu. Akhirnya, ia tiba di suatu tempat yang nyaman dan terlindung. Rumpun buluh tui melindungi tubuhnya dari rintik hujan. Pekerjaan mengail pun dilanjutkan dengan harapan akan mendapat banyak ikan.

Tiba-tiba Wuwung Sewe melihat serumpun kecil buluh tui terapung di atas permukaan air menuju laut. Ia mengira itu rumpun buluh yang tumbuh di tepi sungai. Biasanya aliran ke hilir sungai makin lebar dan makin lambat. Semakin lama semakin dekat saja rumpun buluh itu.

“Ah, mungkin itu hanya tanah longsor yang akan dihanyutkan ke laut menyusuri pantai karena banyak hujan,” pikir Wuwung Sewe.

Setelah diperhatikan dengan sungguh-sungguh, ternyata ada yang mendekati rumpun bulu tui. Air dalam keadaan tenang dan mengalir di depannya.

Tiba-tiba di hadapan Wuwung Sewe muncul kepala seekor buaya yang besar. Rupanya buluh tui itu tumbuh di atas punggung buaya itu. Wuwung Sewe segera malarikan diri setelah menarik kail dari dalam air.

Akan tetapi, buaya itu berkata kepada Wuwung Sewe, ”Hai Sahabat, tolonglah aku. Di punggungku terdapat banyak duri. Aku sudah terlalu lama menderita, tetapi tidak ada orang mau menolongku. Jika kau rela menolongku, tentu akan ada balasannya. Aku minta agar kau mencabut duri yang ada di punggungku ini. Duri ini cukup menggangguku. Aku tidak dapat tidur dengan nyenyak. Tolonglah aku!”

Wuwung Sewe menjawab dengan gemetar dan takut karena terkejut, ”Balasan atas pertolonganku tidak kupikirkan. Hanya saling menolong yang aku perlukan. Tetapi, aku ingin tahu mengapa punggungmu dapat ditumbuhi buluh tui yang sudah serumpun itu?”

Buaya menjawab dengan wajah memelas, “Ini perbuatan orang di muara Sungai Sungai Ranoyapo di pantai selatan. Ketika aku dan teman-temanku berada di tepi sungai mencari makan, aku ditombak seorang laki-laki dengan tombak buluh tui. Tombak itu menembus punggungku. Beberapa temanku berusaha mencabut tombak ini, tetapi tidak berhasil. Malah semakin lama semakin banyak buluk tui tumbuh di atas punggungku.”

Setelah mendengar keterangan dan cerita buaya, timbullah rasa iba Wuwung Sewe. Ia berkata, ”Kalau demikian, engkau akan kubantu.”

Wuwung Sewe segera meloncat ke atas punggung buaya. Ia mencabut buluh-buluh tui yang ada di punggung buaya hingga bersih. Kemudian, diambilnya dedaunan untuk mengobati bekas luka buluh tui yang ada di punggung buaya. Buaya merasa senang dan sangat berterima kasih kepada Wuwung Sewe.

Nama Wuwung Sewe sangat berkesan bagi buaya dan tetap diingat. Tidak hanya itu, buaya bahkan menyatakan bahwa mulai saat itu Wuwung Sewe adalah sahabatnya.

Akan tetapi, Wuwung Sewe berkata, “Aku ingin mengadakan perjanjian denganmu. Sumpah yang akan berlaku hingga anak cucu kita.”

Buaya bersumpah, “Jika keluargamu hendak menyeberang sungai, terutama di daerah muara sungai di mana para buaya berada, janganlah kamu takut untuk menyeberang. Kamu harus mencampakkan tiga buah batu ke dalam sungai itu. Ucapkanlah, ‘Kami anak cucu Wuwung Sewe’. Sebagai tanda pada keluarga buaya, bahwa yang akan menyeberang adalah keluaga Wuwung Sewe yang sudah menolong buaya.”

Setelah menyampaikan sumpah dan petunjuk, buaya langsung pergi sambil! menyelam. Wuwung Sewe merasa bangga dan senang. Katanya, “Kita tidak perlu takut lagi kepada buaya sebab buaya telah berjanji kepadaku.” Pekerjaan Wuwung Sewe pun dilanjutkan lagi.

 

 

Referensi:

  1. Indotim (https://indotim.wordpress.com/cerita-rakyat-nusantara-2/cerita-rakyat-nusantara-iv/24/)

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Trip.com customer service
Alat Musik Alat Musik
Bali

Bantuan layanan pelanggan Trip.com hubungi kami live chat bantuan darurat kontak resmi: +62 818 836 245.

avatar
Yogaxd
Gambar Entri
Customer Service Trip.com
Makanan Minuman Makanan Minuman
DKI Jakarta

Layanan bantuan pelanggan 24 Jam Call Center Hubungi Telepon: 08•188•36•245. Untuk Refund Dan RescheduleCs Agoda layanan bantuan pelanggan 24 Jam Call Center Hubungi Telepon: 0818•836•245. Untuk Refund Dan Penjadwalan Ulang## 1. Renda Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara...

avatar
Umikulsum
Gambar Entri
Ayam Ungkep
Makanan Minuman Makanan Minuman
Jawa Barat

Ayam goreng adalah salah satu menu favorit keluarga yang tidak pernah membosankan. Namun, jika kamu ingin mencoba variasi yang lebih gurih dan harum, ayam goreng bawang putih renyah adalah pilihan yang tepat. Ciri khasnya terletak pada aroma bawang putih yang kuat serta kriukannya yang renyah saat digigit. Resep ini juga sangat mudah dibuat, cocok untuk menu harian maupun Bahan-Bahan Bahan Ayam Ungkep ½ kg ayam (boleh potong kecil agar lebih cepat matang) 5 siung bawang putih 4 siung bawang merah 1 sdt ketumbar bubuk 1 ruas kunyit (opsional untuk warna) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400 ml Bahan Kriuk Bawang 5–6 siung bawang putih, cincang halus 3 sdm tepung maizena ¼ sdt garam ¼ sdt lada Minyak banyak untuk menggoreng Cara Membuat Ungkep ayam terlebih dahulu Haluskan bawang putih, bawang merah, kunyit, dan ketumbar. Tumis sebentar hingga harum. Masukkan ayam, aduk rata, lalu tuang air. Tambahkan garam dan kaldu bubuk. Un...

avatar
Apitsupriatna
Gambar Entri
Resep Ayam Ungkep Bumbu Kuning Cepat, Praktis untuk Masakan Harian
Makanan Minuman Makanan Minuman
Jawa Barat

Ayam ungkep bumbu kuning adalah salah satu menu rumahan yang paling praktis dibuat. Rasanya gurih, aromanya harum, dan bisa diolah lagi menjadi berbagai hidangan seperti ayam goreng, ayam bakar, hingga pelengkap nasi kuning. Keunggulan lainnya, resep ini termasuk cepat dan cocok untuk kamu yang ingin memasak tanpa ribet namun tetap enak. Berikut resep ayam ungkep bumbu kuning cepat yang bisa kamu coba di rumah. Bahan-Bahan ½ kg ayam, potong sesuai selera 4 siung bawang putih 5 siung bawang merah 1 ruas kunyit 1 ruas jahe 1 ruas lengkuas (geprek) 2 lembar daun salam 2 lembar daun jeruk 1 batang serai (geprek) 1 sdt ketumbar bubuk (opsional) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400–500 ml Minyak sedikit untuk menumis Cara Membuat Haluskan bumbu Blender atau ulek bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, dan ketumbar bubuk (jika dipakai). Semakin halus bumbunya, semakin meresap ke ayam. Tumis bumbu hingga harum Panaskan sedikit m...

avatar
Apitsupriatna
Gambar Entri
Konsep Ikan Keramat Sebagai Konservasi Lokal Air Bersih Kawasan Goa Ngerong Tuban
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

Sumber daya air merupakan sebuah unsur esensial dalam mendukung keberlangsungan kehidupan di bumi. Ketersediaan air dengan kualitas baik dan jumlah yang cukup menjadi faktor utama keseimbangan ekosistem serta kesejahteraan manusia. Namun, pada era modern saat ini, dunia menghadapi krisis air yang semakin mengkhawatirkan (Sari et al., 2024). Berkurangnya ketersediaan air disebabkan oleh berbagai faktor global seperti pemanasan, degradasi lingkungan, dan pertumbuhan penduduk yang pesat. Kondisi tersebut menuntut adanya langkah-langkah strategis dalam pengelolaan air dengan memperhatikan berbagai faktor yang tidak hanya teknis, tetapi juga memperhatikan sosial dan budaya masyarakat. Salah satu langkah yang relevan adalah konservasi air berbasis kearifan lokal. Langkah strategis ini memprioritaskan nilai-nilai budaya masyarakat sebagai dasar dalam menjaga sumber daya air. Salah satu wilayah yang mengimplementasikan konservasi berbasis kearifan lokal yaitu Goa Ngerong di kecamatan Rengel,...

avatar
Muhammad Rofiul Alim