Ritual
Ritual
Perayaan Aceh Pidie Jaya
Perang Malam Suci
- 27 November 2018

Di pinggiran sawah yang gelap, Ayi (15) terus memecahkan bongkahan karbit dengan batu. Serpihan yang jatuh di tanah dipungut rekannya Rajif Fandi (14), kemudian dimasukkan dalam sebuah drum yang bagian ujungnya sudah di lubangi.

Dalam drum seukuran satu meter itu juga sudah diisi sedikit air, kemudian dibiarkan sejenak karbit mendidih.

"Sudah bisa ini," ujar Fandi, memberi aba-aba.

Sejurus kemudian Ayi menyulutkan api dari ujung kayu yang dipegangnya ke lubang kecil di belakang drum. Duaarr... ledakan keras menggelegar hingga ke bukit yang terbentang di ujung hamparan sawah, memecah kesunyian malam.

Beberapa saat kemudian dari kejauhan juga terdengar suara dentuman serupa. Itu ledakan karbit yang dibakar anak-anak kampung lain. Ayi dan kawan-kawan menyiapkan lagi serangan balasan berupa suara yang lebih keras lagi agar tak bisa disaingi oleh "pasukan" desa lain.

Begitulah suasana perang karbit yang dilakoni sekelompok remaja pada malam lebaran Idul Fitri di Gampong Meunasah Pupu, Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie Jaya, Kamis (16/7/2015) malam.

Mereka memilih lokasi bakar karbit di pinggiran sawah pada sudut kampung. Alasannya selain agak jauh dari perumahan warga, dentuman karbit di hamparan sawah terdengar lebih menggema karena.

Suasana di lokasi memang gelap. Hanya berbekal drum, karbit dan senter kecil sebagai penarang, mereka pun riang berpesta. Canda, tawa dan sorakan riang kerap terdengar disela perang karbit.

Pesta meriam bambu dan karbit sudah menjadi tradisi warga Aceh dalam memeriahkan malam Lebaran. Selain bakar meriam bambu dan karbit, warga di sana juga memiliki tradisi takbir di meunasah-meunasah dan masjid untuk menghidupkan malam Idul Fitri yang sakral dan suci bagi umat muslim.

Perang tanpa serangan fisik ini dimulai dari selepas salat Isya. Namun baru panas setelah selesai pawai takbiran dan perang berakhir jelang subuh.

Suara-suara ledakan mirip bom atau granat menggelar sepanjang malam, bersahut-sahutan dari satu titik ke titik lainnya. Persis perang betulan.

Bagi masyarakat di kampung-kampung, suasana seperti ini cukup mengingatkan mereka pada konflik bersenjata Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Indonesia dulu.

"Kalagei prang lom, han reuda-reuda le su ata nyan (Sudah seperti suasana perang lagi, entah kapan berhenti suara itu)," tukas Marusyidah (40) seorang warga Gampong Pupu.

Anak muda di kampung-kampung biasanya menyiapkan meriam bambu atau drum karbit pada pekan terakhir Ramadan, untuk bekal malam lebaran. Warga menyumbang dana suka rela untuk kebutuhan beli karbit atau minyak tanah.

Namun dalam beberapa tahun terakhir sejak pemerintah mencabut subsidi minyak tanah, meriam bambu tak lagi jadi andalan masyarakat. Alasannya simple,karena selain mahal, minyak tanah sebagai bahan bakar meriam juga langka.

Karen itu pula kini sulit mendapatkan warga yang bakar meriam bambu. Pantauan Okezone ke beberapa desa di Kecamatan Ulim, Meurah Dua dan Meureudu, Pidie Jaya malam, setidaknya hanya ada satu desa yakni Alue Bimba, Kecamatan Meureudu tampak sekelompok bocah sedang membakar meriam bambu. Selebihnya nihil.

Bahkan di sepanjang bantaran sungai dekat Kota Meureudu yang dulu pada malam lebaran begitu meriah dengan letupan puluhan meriam bambu yang saling berhadapan antara desa satu dengan kampung seberang, kini sepi. Tak ada lagi tradisi "perang di malam suci"

Padahal sebelum minyak tanah naik dan dicabut subsidinya, meriam bambu mendentum di tiap desa pada malam lebaran. Di Kabupaten Pidie Jaya, Krueng (sungai) Meureudu menjadi salah lokasi favorit bagi masyarakat untuk melihat tradisi perang meriam bambu.

Tradisi meriam bambu pun kini beralih ke karbit. Orang bakar karbit kini lebih mudah dijumpai. Di Kecamatan Ulim misal, selain Gampong Pupu, anak muda di desa lain seperti Blang Usi, Nangroe Barat dan Meunasah Kumbang juga ikut perang karbit.

Karbit jadi primadona karena harganya terjangkau dan mudah dijumpai di pasar. Membakar karbit juga tak serepot membakar meriam bambu yang harus dipanaskan dulu, kemudiam ditiup dan baru dibakar.

Karbit hanya butuh drum saja. Kemudian serpihan senyawa kimia dengan rumus CaC2 itu dicampurkan dengan air, selanjutnya dibakar. Suara ledakan karbit juga lebih keras terdengar ketimbang meriam bambu.

"Kalau meriam bambu suaranya keras tapi pedih, bikin terkejut orang. Kalau karbit suaranya agak lebih dalam walaupun keras tapi tidak begitu mengejutkan," ujar Muammar, pemuda asal Balee Ulim.

Hal itu juga yang membuat warga Garot, Kabupaten Pidie begitu antusias mengelar pesta karbit tiap tahun pada malam lebaran. Tradisi ini sudah dilakoni turun-temurun.

Pesta karbit di sini tak main-main, ada puluhan bahkan sampai seratusan drum karbit disiapkan sepanjang sungai.

Menariknya lagi kalau ada orang-orang lanjut usia yang berisiko mendengar suara-suara ledakan, warga senantiasa mengungsikannya ke tempat lebih aman. Limitnya hanya satu malam, besoknya akan dijemput lagi.

Warga Garot juga terkenal royal dalam menghidupkan tradisi ini. Mereka yang mudik dari rantau rela menyumbang berjuta-juta untuk kebutuhan beli karbit dan kebutuhan lain.

"Istilahnya habis uang gak masalah yang penting hajatan jalan," tutur Liza, seorang warga Garot beberapa waktu lalu.

Uniknya pesta meriam di sini bukan hanya dilakukan laki-laki saja, tapi perempuan juga. Bahkan ibu-ibu ikut membawa kue atau kopi dari rumah untuk diberikan kepada para pembakar karbit.

Bakar meriam bambu dan karbit malam lebaran dipercaya sudah dilakoni anak-anak muda Aceh secara turun temurun. Tradisi ini sempat meredup saat memanasnya konflik Aceh, namun kembali hidup selepas kedua pihak berdamai.

Ketua Majelis Adat Aceh, Badruzzaman Ismail mengatakan, tradisi bakar meriam bambu malam Lebaran sebagai sebuah ekspresi kebahagiaan menyambut Lebaran.

Menurutnya bakar meriam bambu patut dilestarikan karena bagian dari tradisi lebaran di Aceh. Hanya saja proses cara bakarnya perlu diarahkan agar nyaman bagi yang bakar dan warga sekitar.

"Sekarang kita larang anak muda bakar meriam bambu, mereka kemudian beralih bakar mercon. Sekarang kita lihat risikonya, bakar mercon jelas lebih berisko bagi orangnya sendiri maupun orang lain. Ini yang kadang tidak kita sadari," sebutnya.

Sumber: https://news.okezone.com/read/2015/07/17/340/1182875/perang-malam-suci-tradisi-sambut-lebaran-di-aceh

#SBJ

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Cara Menutup/Menonaktifkan Kartu Kredit CIMB Niaga
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
DKI Jakarta

Hubungi Contact Center CIMB Niaga 0818515000 Untuk menutup kartu kredit CIMB Niaga Anda

avatar
Cara Menutup Kartu kredit CIMB Cara Menonaktifkan Kartu Kredit CIMB Niaga
Gambar Entri
Cara Ajukan Penutupan Kartu Kredit CIMB Niaga
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
DKI Jakarta

Untuk menutup kartu kredit CIMB Niaga, Hubungi layanan CIMB Niaga di 0818515000 lalu sampaikan pengajuan Anda untuk menutup kartu kredit dan ikuti instruksi petugas.

avatar
Cara Menutup Kartu kredit CIMB Cara Menonaktifkan Kartu Kredit CIMB Niaga
Gambar Entri
Cara Menonaktifkan Kartu Kredit CIMB Niaga
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
DKI Jakarta

Hubungi Contact Center CIMB Niaga 0818515000 Untuk mengajukan penutupan kartu kredit CIMB Niaga Anda

avatar
Cara Menutup Kartu kredit CIMB Cara Menonaktifkan Kartu Kredit CIMB Niaga
Gambar Entri
Cara Menutup Kartu Kredit CIMB Niaga
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
DKI Jakarta

Untuk menutup kartu kredit CIMB Niaga, Hubungi layanan CIMB Niaga di 0818515000 lalu sampaikan pengajuan Anda untuk menutup kartu kredit dan ikuti instruksi petugas.

avatar
Cara Menutup Kartu kredit CIMB Cara Menonaktifkan Kartu Kredit CIMB Niaga
Gambar Entri
Genggong Bali
Alat Musik Alat Musik
Bali

Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.

avatar
Yogaxd