Pepilo adalah bahasa daerah Gayo yang berarti baling-baling dalam bahasa Indonesia. Baling-baling dibuat dari batang kayu dadap yang sudah kering atau dari bambu kering, atau dapat juga kulit buah dadap yang sudah kering. Yang dibuat dari batang dadap untuk anak-anak yang sudah besar, yang dari bambu untuk anak sedang, dan yang dari kulit buah dadap untuk anak kecil. Pepilo model pertama, panjang baling-balingnya kira-kira sedepa, lebarnya 5 jari; model kedua sedikit lebih pendek dari yang pertama, dan yang ketiga sepanjang buah itu sendiri (kira-kira sejengkal). Pembuatan pepilo dari kayu dadap harus orang yang benar-benar ahli, tidak seperti yang dibuat dari bambu; sedangkan yang dari kulit buah tidak begitu sukar.
Bila angin kencang, beberapa anak kita lihat memegang pepilo masing-masing, serta berlarian ke arah datangnya angin. Arena tempat diadakannya permainan ini riuh rendah dengan sorakan anak-anak karena pepilonya berputar dengan kuat.
Sejarah
Menurut penuturan orang-orang tua, permainan ini asli berasal dari daerah Aceh. Diciptakan oleh nenek moyang mereka mengingat keadaan yang memungkinkan, yaitu ada alat untuk dijadikan permainan, waktu, kreasi, dan inspirasi untuk membuatnya. Sejak mereka masih kecil permainan ini telah ada, dan orang tua merekalah yang mengajarkan permainan ini kepada mereka.
Perlu kita ketahui bahwa menurut orang-orang tua, alat-alat, aturan permainan, serta sistem bermain anak-anak sekarang sama saja dengan mereka dahulu, dengan kata lain, hampir tidak berkembang sama sekali, sungguhpun digemari anak-anak.
Pemain
Jumlah peserta tidak tentu dan tidak terbatas, dan anak-anak yang menggemari permainan ini berumur sekitar 5 tahun sampai 15 tahun. Hal ini memungkinkan karena aturan permainan tidak begitu ketat. Asal tidak mengenai anak-anak lain dan atau pepilo lain, sudah dianggap baik. Tentang pakaian dan atribut lainnya juga tidak mengikat.
Jalan Permainan
Terlebih dahulu anak-anak menentukan garis start dan finish sebelum memulai permainan. Anak-anak yang sebaya berdiri pada garis start dengan pepilonya masing-masing. Setelah mendengar aba-aba lari, maka peserta berlari seluruhnya ke garis finish sambil mengangkat pepilonya setinggi bahu. Peserta yang pertama sampai ke garis finish dinyatakan sebagai pemenang. Pemenang ini tidak dicatat karena setelah seluruh peserta sampai ke garis finish, mereka kembali lagi ke garis start untuk bermain lagi. Walaupun dalam permainan ini ada peserta yang menang, namun kemenangan tersebut tidak menjadi tujuan permainan selain dari kegembiraan belaka.
Selain kecepatan mencapai finish, faktor kerasnya suara pepilo sangat diperhatikan. Pepilo yang suaranya besar dan keras, sangat digemari anak-anak dan penonton. Dengan kata lain, dalam permainan ini yang dipentingkan lari peserta harus cepat dan suara pepilo harus nyaring, berdengung bagus.
Kemungkinan dalam satu lapangan ada beberapa regu yang bermain, tetapi setiap regu harus berusia sebaya. Masing-masing regu mempunyai garis start dan finish tersendiri, dan antara setiap regu juga dijaga agar tidak terlalu dekat.
Démikianlah pada setiap sore saat angin sedang bertiup kencang, anak-anak penuh di lapangan permainan dengan pepilo masing-masing. Masing-masing anak berusaha mengatasi lawan bermainnya.
Anak-anak kecil bermain sesama mereka, demikian juga yang besar. Jarang sekali antara anak kecil bercampur baur dengan anak yang lebih besar dari dirinya atau sebaliknya. Permainan akan berhenti bila waktu telah hampir magrib. Permainan berhenti begitu saja tanpa menghitung kemenangan seseorang.
Manfaat
Permainan ini dapat diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat dunia anak-anak. Keterlibatan mereka dalam permainan ini tidak ditentukan oleh kedudukan orang tua mereka di dalam masyarakat, tetapi berdasarkan partisipasi untuk memeriahkan permainan. Asal ada kemauan dan tersedia alat bermain, sudah dianggap memenuhi persyaratan bermain.
Referensi:
Panduan Mengenal Masakan Khas Karo Masakan khas Karo merupakan warisan kuliner dari Tanah Karo, Sumatera Utara, yang dikenal dengan penggunaan rempah-rempah lokal yang kuat dan teknik memasak yang unik. Keanekaragaman hidangannya mencerminkan kekayaan alam pegunungan serta tradisi masyarakat Karo yang telah turun-temurun. Untuk dapat mengenali dan memahami kuliner ini, penting untuk memahami komposisi bumbu dasar, filosofi di balik nama hidangan, serta perbedaan antara masakan sehari-hari dan hidangan ritual yang mulai langka. Ciri Khas Rasa dan Bumbu Dasar Kunci utama dalam mengenali masakan Karo adalah kehadiran andaliman (merica Batak) dan kecombrang (honje atau bunga kantan) yang memberikan aroma dan sensasi rasa khas. Andaliman menghasilkan efek sedikit kebas di lidah, sementara kecombrang menambah aroma segar yang menyelimuti hidangan berat seperti daging atau ikan. Kombinasi kedua rempah ini menjadi penanda autentisitas masakan dari daerah tersebut. Selain itu, penggu...
Panduan Praktis Memahami dan Memainkan Angklung Jawa Barat Angklung merupakan alat musik tradisional multitonal yang menjadi identitas budaya Jawa Barat, khususnya masyarakat Sunda (Sumber 1, 6, 7). Terbuat dari bambu, instrumen ini menghasilkan bunyi yang khas melalui getaran dan telah menjadi simbol kebudayaan Indonesia yang dikenal hingga mancanegara (Sumber 3, 5). Keunikan angklung terletak pada konsep "multitonal" atau bernada ganda, di mana satu instrumen menghasilkan dua nada berbeda secara bersamaan ketika digoyangkan (Sumber 7). Sebagai alat musik yang berkembang di Bumi Priangan (Sumber 2), angklung memiliki sejarah panjang sejak zaman dahulu dan awalnya sering digunakan dalam berbagai upacara adat serta pertanian (Sumber 3). Berbeda dengan instrumen tiup atau petik, angklung dimainkan dengan cara digetarkan sehingga memerlukan teknik khusus dalam penggunaannya, baik secara individu maupun dalam format orkestra yang melibatkan banyak pemain (Sumber 6). Karakt...
Panduan Memahami Legenda Nyi Roro Kidul: Dari Mitos hingga Praktik Budaya Nyi Roro Kidul merupakan salah satu figur mitologis paling ikonik dalam khazanah cerita rakyat Nusantara. Dikenal sebagai penguasa Laut Selatan dalam tradisi Jawa dan Sunda, sosok ini tidak sekadar karakter fiksi, melainkan entitas budaya yang hidup dalam praktik kepercayaan, ritual, dan tata krama masyarakat pesisir selatan Jawa (Sumber 1, Sumber 8). Bagi para pelajar budaya, wisatawan, atau siapa pun yang ingin memahami warisan ini secara mendalam, penting untuk menyikapi legenda ini dengan pendekatan yang menghormati konteks historis dan spiritualnya. Artikel ini menyajikan panduan praktis untuk memahami, mengenali, dan menghargai legenda Nyi Roro Kidul secara utuh. Dengan memahami asal-usul, makna simbolik, serta tradisi yang menyertainya, pembaca dapat menyaksikan bagaimana mitos ini berfungsi sebagai jembatan antara masa lalu dan kehidupan kontemporer masyarakat Jawa. Memahami Narasi Asal-Usul La...
Harmoni di Antara Ombak: Tradisi Nelayan Pantai Selatan Ketika fajar mulai menyingsing di ufuk timur, memoles permukaan Samudra Hindia dengan warna jingga keemasan, pesisir selatan Jawa mulai dipenuhi aktivitas yang berbeda dari hari-hari biasa. Di bulan Suro, tepatnya pada hari Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon menurut penanggalan Jawa, masyarakat nelayan dari Cilacap hingga Banten bersiap menyelenggarakan sebuah pertemuan sakral antara manusia dan lautan (Sumber 5). Bukan sekadar ritual rutin, ini adalah momen di mana doa dan harapan diikatkan pada irama ombak, sebuah tradisi turun-temurun yang menjadikan laut tidak hanya sebagai sumber rezeki, tetapi juga ruang spiritual yang hidup. Jejak Spiritual Sang Ratu Selatan Di balik setiap jala yang dilabuhkan dan perahu yang diturunkan, terdapat keyakinan mendalam bahwa keselamatan dan kelimpahan tangkapan bukanlah hasil dari usaha manusia semata. Masyarakat pesisir selatan Jawa mengenal sosok Nyi Roro Kidul sebagai penguasa sekalig...
Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno Candi Miri merupakan salah satu situs candi Hindu yang menjadi bagian dari warisan arsitektur religius Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penyebaran pusat-pusat keagamaan yang strategis pada periode klasik Jawa. Sebagai candi Hindu, Candi Miri mencerminkan adaptasi tradisi arsitektur India yang dikembangkan dengan karakteristik lokal Jawa Kuno, berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Sejarah & Latar Belakang Candi Miri didentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Sumber 4). Letaknya berada di wilayah administratif Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah peradaban Jawa klasik. Terdapat variasi dalam pencatatan lokasi spesifik candi ini. Beberapa sumber merujuk lokasi Candi Miri di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo (Sumber 1, Sumber 2, Sumber...