Gorontalo adalah salah satu provinsi di Indonesia yang merdeka pada tahun 1942, tiga tahun sebelum kemerdekaan Indonesia. Provinsi ini terletak di bangian utara dari Pulau Sulawesi. Gorontalo memiliki kebudayaan dan adat istiadat yang unik, orisil dan masih terjaga ketradisionalannya. Pada umumnya masyarakat Gorontalo sudah diperkenalkan kebudayaan dan adat istiadatnya sejak kecil bahkan sejak masih dalam kandungan seorang ibu sehingga adat istiadat tersebut sangat ditaati oleh masyarakat Gorontalo. Seperti adat yang dijalani oleh seorang wanita yang sedang hamil, seorang anak perempuan batita yang menjelang usia dua tahun, seorang remaja perempuan yang sudah mengalami menstruasi, adat pernikahan Gorontalo, hingga adat yang dilakukan oleh sebuah keluarga untuk memperingati kematian salah satu anggota keluarganya yang dilakukan pada hari ke tujuh setelah hari kematiannya. Kebiasaan ini membuktikan bahwa adat istiadat tidak mudah dipisahkan dengan masyarakat Gorontalo. Adat istiadat Gorontalo itu sendiri bersendikan Syara’ dan Syara’ bersendikan Kitabullah.
Salah satu upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat Gorontalo adalah Upacara Adat Mandi Lemon. Mandi lemon sudah menjadi adat dan tradisi di Gorontalo bahwa anak perempuan yang menjelang usia dua tahun akan menjalani prosesi adat yang biasa dikenal dengan Mo Polihu Lo Limu atau sering juga disebut Mongubingo. Mandi lemon serupa dengan khitanan yang dimana seorang anak batita perempuan menjalani prosesi ritual mandi kembang yang bercampur lemon atau jeruk purut dengan tumbuhan harum lainnya di pangkuan ibu yang melahirkan sebagai tanda keislaman dari anak tersebut. Dijelaskan pula bahwa melalui ritual ini dapat diramalkan tentang masalah jodoh dan karakter dari anak batita perempuan itu sendiri saat dewasa melalui petunjuk bahan alam yang digunakan seperti pelepah pinang muda yang dibelah. Para orangtua di Gorontalo meyakini jika adat ini tidak diadakan pada anak batita khusunya perempuan, maka turunan yang lahir dari rahimnya tetap dianggap haram walaupun dari perkawinan yang sah. Pelaksanaan adat mandi lemon melalui beberapa langkah yang dimana masyarakat Gorontalo percaya bahwa dengan adanya adat mandi lemon terdapat nilai-nilai luhur dan suci yang merupakan cermin dari segala aktivitas bermasyarakat. Disamping itu masyarakat muslim sebagai mayoritas menjadi suatu pendorong adat mandi lemon terus dilaksanakan karena merupakan adat yang dibalut oleh tradisi religius.
Dalam proses pelaksanaan upacara adat mandi lemon, terdapat beberapa pelaksa antara lain: Hulango atau Bidan Kampung yang telah ditunjuk sebagai pelaksana acara adat Mopolihu lo Limu (Mandi Lemon/Khitanan), dengan persyaratan: Beragama Islam, Mengetahui urutan tata cara upacara adat Mandi Lemon, Mengetahui lafal-lafal yang telah diturunkan oleh para leluhur dalam pelaksanaan acara tersebut, Diakui masyarakat sebagai bidan kampung. Selain itu terdapat Imam atau Hatibi yang membacakan doa shalawat (Mongadi Salawati) dan seorang ibu yang dituakan sebagai pembimbing acara tersebut.
Untuk penyelenggaraan upacara adat Mandi Lemon, dibutuhkan atribut adat atau benda budaya yang yang akan digunakan dalam setiap tahap prosesnya, yaitu: Taluhu Yilonua (air ramuan limau purut atau limotutu) dengan ramuan-ramuan sebagai berikut: Kulit limututu yang diiris halus, Tujuh buah limututu yang dipotong dua tanpa diperas, Irisan dari tujuh macam daun puring (Polohungo), Ramuan umonu yang ditimbuk halus yang disebut Yilonta, Daun umonu sejenis daun mayana tapi hijau dan harum,Bunga melati yang disebut bungan moputi. Selain itu juga dibutuhkan tujuh buah perian bambu kuning ,yang ditutupi dengan daun puring (Polohungo), yang berisi air dan kepingan logam yang bernilai Rp.100,- dahulu 10 sen. Adapun yang akan digunakan saat bayi dimandikan adalah bulowe atau upik pinang, setangkai yang masih tertutup atau Hu’u-hu’umo, dan yang setangkai sudah mekar atau Molongo’alo (mayang). Bulowe yang telah mekar, digantung diatas tempat duduk sang ibu bersama bayinya saat dimandikan, telur ayam kampung yang masih baru satu butir, dudangata (kukuran kelapa yang dijadikan tempat duduk dari ibu dan bayinya). Terdapat juga beberapa benda seperti: Hulante atau seperangkat baki yang berisi beras tujuh mangkok, 7 buah telur, pala dan cengkih masing-masing 7 buah, 7 buah limutu, dan 7 buah keping uang logam senilai Rp.100, satu piring mangkuk alawahu lihi, untuk bonta, seperangkat baki yang berisi gelas tohetutu, dan 5 piring mangkuk beras 5 warna, yang disebut Pale Yilulo.
Adapun pada kegiatan Mongobingu (khitanan), digunakan Alumbu Moputi’o atau kain putih 2 meter, untuk menutupi kepala bayi saat di khitan dan seperangkat alat khitan diatas baki yang beralaskan kain putih, yaitu pisau kecil, dahulu memakai sembilu, Yiluna monu (minyak yilonta).
Persiapan pelaksanaan upacara adat mandi lemon dimulai sejak sehari sebelum pelaksanaan acara adat Mopolihu lo Limu dan Mongubingo, Hulango sudah mempersiapkan perlengkapan (benda-benda) budaya yang diperlukan. Sebelum acara Mopolihu lo Limu diadakan terlebih dahulu diadakan Mongadi Salawati, yang dilaksanakan oleh imam atau Hatibi. Setelah itu diadadakan acara Momonto kepada sang bayi dan ibu serta ayahnya. Setelah itu ibu sang bayi dibawa ke tempat acara Mopolihu lo Limu kemudian duduk di dungadata (cukuran kelapa) menghadap ke timur. Kemudian dilanjutkan oleh siraman pertama dari ibu sang bayi yang diwakilkan pada neneknya atau bibinya (apabila yang memangku anak tersebut ibunya), kemudian dilanjutkan siraman oleh ayahnya menggunakan air ramuan. Lalu siraman dilakukan oleh pemangku adat , imam atau hatibi dari perian bambu kuning, yakni dari perian pertama tanpa tuja’I. Siraman kedua sampai siraman ke tujuh oleh Hulango, jika masih lengkap nenek dan kakeknya, baik dari pihak ibu maupun pihak ayahnya, maka berhak menyiramkan air perian-perian tersebut. Setelah selesai penyiraman, sang anak menggunakan pakaian adat, baju panjang O tambi’o (berhiaskan kembang-kembang emas), dan kepalanya memakai Baya lo bo’ute (ikat kepala), siap untuk di khitan. Saat pelaksanaan Mongubingo (khitanan), Hulango menutup dirinya dengan Alambu Moputi’o. Selesai khitanan, sang anak disapukan dengan Yinula moonu (Yilonta), senagai tanda selesai khitanan. Acara dilanjutkan dengan doa syukuran, yang dibawakan oleh Imam atau Hatibi, dengan seperangkat Polutube diletakan didepannya. Setelah doa syukuran berakhir, dilanjutkan dengan santap siang bersama, kemudian dilanjutkan dengan minum kopi/teh, maka selesailah rangkaian acara Mopolihu lo Limu dan Mongubingo (Upacara Adat Mandi Lemon).
Muhammad Raihan Iqbal
16518194
STEI
#OSKMITB2018
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...