Bila selama ini kita mengenal pempek dikukus atau digoreng, maka ada satu pempek yang cara pengolahannya berbeda yaitu dengan cara dipanggang. Pempek Panggang atau Pempek Tunu ini bahannya sama dengan pempek pada umumnya, hanya isiannya saja berbeda karena menggunakan campuran ebi yang disangrai dan dihaluskan. Penasaran ingin mencicipinya langsung? Semoga resep berikut bisa menjawab keinginantahuan para pecinta pempek.
Bahan-bahan: ½ kg ikan tenggiri, giling 275 ml air 2 ¼ ons tepung sagu 2 butir putih telur 3 ½ sendok teh garam 4 sendok teh gula pasir Minyak goreng secukupnya
Bahan Isian: 1 ons ebi, sangrai dan haluskan 1 ons cabai rawit hijau, haluskan 100 ml kecap manis
Bahan Kuah Cuko: 2 sendok makan air asam Jawa kental dari 50 gram asam dicampur sedikit air ¼ kg gula merah ½ liter air
Bumbu Halus: 2 sendok makan ebi, sangrai dan haluskan ½ sendok makan garam 8 siung bawang putih 5 buah cabai rawit merah
Cara Membuat: 1. Uleni tenggiri giling bersama air, gula pasir, garam, putih telur serta satu sendok makan minyak goreng. 2. Masukkan tepung sagu sembari diaduk rata. Kalau sudah tidak lengket, Anda bisa membentuknya bulat-bulat lalu dipipihkan. 3. Lakukan langkah tersebut sampai adonan habis dengan besar empek-empek sesuai selera. Kemudian panaskan wajan anti lengket sebentar. 4. Panggang bulatan empek-empek tadi sembari dibolak-balik dengan api kecil hingga matang. Angkat. 5. Ambil satu buah empek-empek lalu belah sampai tidak putus dan beri isian. Lakukan sampai semua terisi. 6. Setelah itu sajikan di piring saji bersama kuah cuko dengan merebus air bersama gula merah lalu menyaringnya. 7. Kemudian rebus kembali dengan bumbu halus sambil diaduk sampai mendidih. Angkat lalu hidangkan.
Alamat & Kontak Penjual:
Pondok Wong Palembang
Jl. Veteran I No. 13, Gambir, Jakarta
021 3510909, 021 3510910
Sumber: http://www.masakandapurku.com/2016/03/resep-membuat-empek-empek-panggang-khas.html?m=1
Hubungi call center resmi Pinjam Flexi (0857) 58337054 atau CS Pinjam Flexi (0831)69265049 dan melalui email cs@pinjamflexi.id. layanan customer service Pinjam Flexi dapat dihubungi Senin-Minggu pukul 08:00-23:00 WIB.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara