Pempek Adaan adalah makanan khas masyarakat Palembang, Sumatera Selatan. Pempek ini berbeda dengan pempek lainnya karena adanya penggunaan santan kelapa dalam adonan pempek. Pempek adaan merupakan jenis pempek yang paling mudah dibuat karena tidak membutuhkan banyak bahan dan waktu. Pempek adaan berbahan dasar daging ikan ikan dan berbentuk bulat-bulat seperti pentol bakso goreng dan menggunakan daun bawang sebagai bahan campuran adonan. Pempek adaan tidak direbus terlebih dahulu seperti jenis pempek lainnya, melainkan langsung digoreng seperti pempek tahu dan pempek kulit. Proses pembuatan pempek adaan menggunakan sendok yang di bentuk bulat lalu langsung dicemplungkan ke dalam minyak yang sudah dipanaskan terlebih dahulu. Pempek adaan memiliki rasa yang gurih dan bertekstur empuk dan sedikit kenyal.
Berikut merupakan resep cara pembuatan pempek adaan, antara lain:
Bahan utama:
a. Membuat pempek adaan khas dari Palembang tidak jauh berbeda dengan cara membuat pempek Palembang jenis lainnya, Anda membutuhkan setidaknya 600 gram ikan tenggiri
b. Siapkan pula 400 gram sagu tani, usahakan untuk memilih tepung sagu dengan kualitas terbaik
c. Siapkan 400 ml santan encer untuk rasa yang jauh lebih gurih
d. Siapkan dua butir telur ayam
e. Siapkan 50 gram bawang merah yang telah dicincang halus
f. Siapkan 1.5 sendok makan garam atau secukupnya
g. Siapkan satu sendok teh lada halus
h. Siapkan satu sendok teh vetsin (yang tidak suka, bisa melewatkannya saja)
Resep pempek adaan untuk bahan kuah cuko:
a. Tidak lengkap rasanya jika menikmati pempek tanpa kuah cuko, kuah cuko untuk pempek adaan sama saja dengan kuah cuko yang biasa dihidangkan dalam berbagai jenis pempek Palembang. Untuk membuat kuah cuko yang lezat, sediakan satu kilogram gula aren yang telah disisir atau diiris tipis, tujuannya agar gula aren mudah larut saat dimasak
b. Siapkan 2 liter air
c. Siapkan 10 siung bawang putih
d. Siapkan 250 gram cabai rawit, sesuaikan saja dengan selera pedas Anda
e. Siapkan 40 gram garam
f. Siapkan lima sendok makan cuka atau setara dengan 200 gram asam jawa
Cara Membuat Pempek Adaan
1. Langkah pertama untuk membuat pempek adaan adalah dengan meremas bawang merah cincang dengan garam secukupnya dan sisihkan
2. Giling daging ikan tenggiri hingga daging ikan halus dan masukkan remasan bawang merah, lada dan vetsin lalu diaduk hingga semua bahan tercampur dengan merata
3. Tambahkan sedikit demi sedikit telur ayam dan juga santan encer sambil terus diaduk hingga bahan merata baru kemudian masukkan tepung sagu dan uleni adonan sampai tidak lengket (agar rasa ikannya kuat, usahakan untuk tidak menambahkan tepung sagu terlalu banyak)
4. Panaskan minyak di atas penggorengan, bentuk adonan pempek menyerupai bentuk bakso bulat dengan ukuran yang cukup besar atau sesuaikan saja dengan selera dan goreng adonan pempek adaan selama beberapa saat hingga adonan pempek adaan matang dan berwarna kuning kecoklatan, setelah matang, angkat pempek dan tiriskan.
5. Membuat kuah cuko sangatlah mudah, langkah pertama untuk membuat kuah cuko adalah dengan menghaluskan bawang putih serta cabai rawit. Didihkan air dan masukkan halusan bawang putih dan cabai rawit, sisiran gula aren, garam dan cuka/asam jawa (pilih salah satu saja). Rebus kuah sampai mendidih dan kuah matang
6. Siapkan satu buah mangkuk atau piring saji dan tata beberapa pempek adaan yang telah diiris-iris sesuai selera dan siram dengan kuah cuko.
Sumber: infokuliner.com
Hubungi call center resmi Pinjam Flexi (0857) 58337054 atau CS Pinjam Flexi (0831)69265049 dan melalui email cs@pinjamflexi.id. layanan customer service Pinjam Flexi dapat dihubungi Senin-Minggu pukul 08:00-23:00 WIB.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara