Rakyat Aceh sejak dahulu telah mengetahui dan menyadari akan betapa kayanya budaya-budaya yang ada di Tanah Rencong ini. Pada daerah ini terdapat berbagai macam bahasa dan ciri khas masing-masing yang merupakan titipan dari leluhur sejak berabad-abad.
Melihat hal ini sebagai sebuah identitas dan kekayaan tak ternilai, masyarakat Aceh merasa perlu diadakan tindakan-tindakan untuk melestarikan dan memperkenalkan hal ini kepada kaum banyak. Oleh sebab itu, diselenggarakanlah suatu acara bernama Pekan Kebudayaan Aceh. Yaitu sebuah acara dimana kontingen dari berbagai daerah di Aceh datang ke ibu kota Banda Aceh dan mendirikan stan-stan untuk dinikmati bersama oleh masyarakat.
Pada acara ini juga diadakan pameran dan eksibisi serta berbagai festival seni dari 23 kabupaten dan kota di Aceh. Acara ini telah dilaksanakan sejak tahun 1958 dan terus menjadi kegiatan rutin wajib yang ditunggu-tunggu oleh rakyat. Acara ini dilangsungkan tidak setiap tahun, melainkan 5 tahun sekali. Turis dan pengunjung dari luar daerah sering menyempatkan liburan mereka bertepatan dengan diselenggarakannya acara ini untuk dapat merasakan keberagaman dan antusiasme dari berbagai pihak. Bukan hanya pengunjung, peserta PKA dari berbagai daerah, warga setempat bahkan pemerintah pun sangat menanti-nantikan acara ini.
Saat acara ini berlangsung, maka kota Banda Aceh akan sangat padat oleh ribuan masyarakat dari luar Aceh. Jalanan penuh, dan suasana kota berubah menjadi lebih menyenangkan. Saat anda berjalan-jalan, anda dapat menyapa orang-orang dari luar kota Banda Aceh dan merasakan keramahtamahan serta kekeluargaan yang erat. Perbedaan bahasa dan budaya justru menjadi pemersatu. Masyarakat kota Banda Aceh akan menyiapkan tempat tinggal, menyambut peserta kontingen dengan meriah. Di tempat-tempat wisata pun akan sangat padat dan ramai.
Jika anda datang ke PKA , maka anda akan dapat melihat rumah-rumah adat daerah aceh, pelaminan, baju-baju tradisional, tarian daerah, tarian islami , maupun tarian kreasi anak muda aceh . Senjata-senjata perang, atraksi debus , stan makanan serta lapak penjual aneka benda pakai juga akan anda temui di acara ini.
Setiap kontingen daerah berlomba-lomba secara sportif untuk dapat menyiapkan pertunjukkan dan eksibisi budaya daerahnya. Saat anda mengunjungi stan-stan daerah, terlihat dengan jelas kebanggan mereka akan budaya dan identitas yang dimiliknya.
Acara ini dimulai sejak sore hingga malam hari agar masyarakat tetap dapat beraktivitas di pagi hari namun tidak ketinggalan keseruan pada malam hari. Lampu-lampu warna-warni dapat ditemukan di berbagai sudut. Benar-benar suatu pemandangan yang indah.
Tahun ini pun, acara ini telah sukses berlangsung meriah mulai dari tanggal 5-15 Agustus 2018 di Taman Sulthanah Safiatuddin. Masyarakat Aceh tidak pernah merasa bosan akan PKA ini. Mereka selalu ikut menyempatkan diri untuk hadir dan meramaikan acara megah ini.
Mari kenali dan telusuri berbagai budaya dan tradisi Aceh yang unik dan beragam. Jika ada waktu sempatkanlah untuk mengunjungi Aceh dan Pekan Kebudayaan Aceh ini. Kami tunggu kehadiran kalian di PKA yang akan datang. Saleum..
Sumber : http://www.pkaceh.com https://www.lamurionline.com/2013/09/foto-berkeliling-ke-anjungan-pekan.html?m=1
Hubungi Contact Center CIMB Niaga 0818515000 Untuk menutup kartu kredit CIMB Niaga Anda
Untuk menutup kartu kredit CIMB Niaga, Hubungi layanan CIMB Niaga di 0818515000 lalu sampaikan pengajuan Anda untuk menutup kartu kredit dan ikuti instruksi petugas.
Hubungi Contact Center CIMB Niaga 0818515000 Untuk mengajukan penutupan kartu kredit CIMB Niaga Anda
Untuk menutup kartu kredit CIMB Niaga, Hubungi layanan CIMB Niaga di 0818515000 lalu sampaikan pengajuan Anda untuk menutup kartu kredit dan ikuti instruksi petugas.
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.