Makanan Minuman
Makanan Minuman
Makanan Kalimantan Barat Kabupaten Sambas
Patcri Nenas - Sambas - Kalimantan Barat
- 8 Maret 2018
Provinsi: 
Kalimantan Barat
Patcri Nenas, adalah kulier khas dari Kalimantan Barat, berasal dari Kabupaten Sambas. Makanan ini adalah sejenis sayur/pelengkap makan nasi, berbahan dasar dari buah nanas yang diberi santan kental.
 
Bahan Utama:
  • Nanas 3 buah (ukuran besar)
  • Santan kental 1 liter
  • Minyak makan
 
Bumbu:
 
Bahan bumbu terbagi atas 2, yaitu bumbu yang ditumbuk/dihaluskan dan bumbu yang digongseng.
 
a. Bahan bumbu yang dihaluskan: cabai kering ½ ons, cengkeh 6 butir, kayu ,manis 4 cm/secukupnya.
 
b. Bumbu yang digongseng: ketumbar 3 sendok makan, adas manis 1 sendok teh, pala ¼ sendok teh, kemiri 5 butir, lengkuas 3 batang, kunyit secukupnya dan serai 3 batang.
 
 
Cara mengolah:
  1. Bahan utamanya yaitu nenas dikupas dan dibersihkan kemudian dibelah menjadi 2 dan diirs tipis-tipis kira-kira 1,5 cm dan disishkan. Bahan bumbu yang dihaluskan ditumbuk sampai halus dan disisihkan.
  2. Bahan bumbu yang akan digongseng dibersihkan. Sementara itu lengkuas, kunyit dan serai diiri tipis-tipis. Setelah semuanya siap lalu digoreng hingga matang, sampai semuanya mengelaurkan aroma dan kekuing-kuningan.
  3. Selanjutnya, masukkan santan kental, tunggu sampai mendidih. Jika diinginkan bisa diberi gula merah secukupnya dan bumbu penyedap. Setelah santan mendidih lalu masukkan nenas yang telah diiris tipis tersebut. Biarkan kurang lebih sampai 30 menit, agar nenasnya matang, dan bumbunya menyerap ke dalam nenas. Setelah nenas Nampak kecoklatan baru diangkat dan didinginkan.
 
Cara memasak: dimasak dengan api di atas kompor, dengan menggunakan wajan atau panci, direbus dengan bumbu dan santan hingga matang. Angkat dan hidangkan sebagai lauk.
 
Cara penyajian: Setelah patcri nenas diangkat dan didinginkan, maka dapat dihidangkan sebagai tambahan lauk-pauk makanan utama. Patcri nenas akan semakin enak, jika dimalamkan dan dipanaskan berulang, karena bumbu dan nenas serta santannya akan lebih menyatu dan menyerap lebih sempurna.
 
Cara makan: dimakan sebagai pendamping makan nasi, bisa berfungsi sebagai lauk pauk.
 
Fungsi (sehari-hari, pengobatan, upacara): makanan sehari-hari
 
 
 
Sumber data:
  • Asmara, U. Husna. 1997. “Aneka Resep Masakan Khas Kalbar”. Pontianak: Penerbit Romeo Grafika.

 

Lokasi penjual:
 
Sallo' Innyan Kopi Pontianak
Jl. Tebet Timur Dalam II No. 38C, Tebet, Jakarta
Telepon: 021 83796802

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker