Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Legenda Bali Bali
Pan Kasim dan Ular Sakti
- 13 November 2018

Pada dahulu kala, di sebuah desa di Bali, hiduplah sepasang suami istri yang bernama Pan Kasim dan Men Kasim (Pan = Pak ; Men = Ibu , dalam bahasa Bali). Pasangan suami istri yang tidak mempunyai anak itu hidup serba kekurangan alias miskin. Mereka hanya tinggal di sebuah gubuk reyot di pinggir hutan. Untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, Pan Kasim setiap hari mencari kayu bakar di hutan untuk dijual ke pasar atau ditukar dengan kebutuhan hidup sehari-hari lainnya.
Suatu hari, pagi-pagi sekali Pan Kasim sudah berangkat ke hutan karena mendapat banyak pesanan kayu bakar dari beberapa pedagang. Ia berangkat seorang diri dengan berbekal sebilah parang yang tajam dan seutas tali rotan. Sementara itu, istrinya Men Kasim tinggal di rumah sambil mengurus pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci, dan membersihkan rumah. Setiba di hutan, Pan Kasim segera mengumpulkan ranting-ranting kayu kering dengan penuh semangat. Tak terasa, hari telah menjelang siang. Kayu bakar yang telah dikumpulkannya pun sudah cukup banyak. Sebelum membawa pulang kayu bakar, ia beristirahat sejenak di bawah sebuah pohon yang rindang karena kecapaian. Angin semilir yang menerpa wajahnya membuat laki-laki separuh baya itu tertidur. Namun, baru saja matanya terpenjam tiba-tiba ia mendengar suara teriakan yang meminta tolong.

(Baca juga: Cerita Rakyat Bali – Kisah Pengorbanan Patih Patriot “Kebo Iwa” Untuk Nusantara)
“Tolong… tolong… tolong singkirkan kayu yang menutupi lubangku!” teriak suara itu.
Pan Kasim pun langsung terbangun seraya celingukan mencari sumber suara itu. Beberapa saat kemudian, ia melihat sebuah batang kayu besar yang sudah rapuh tumbang di depan sebuah lubang besar. Ia pun beranjak dari tempatnya lalu berjalan mendekati kayu yang menutupi lubang itu. Alangkah terkejutnya ia saat berada di dekat kayu. Ia melihat seekor ular raksasa yang sedang menjulur-julurkan kepala di mulut lubang yang tertutupi kayu besar. Begitu melihat ular itu, Pan Kasim pun ketakutan dan bermaksud melarikan diri. Namun, ular raksasa itu justru berkata kepada Pan Kasim.
“Jangan takut!” seru ular raksasa itu, “Tolong keluarkan aku dari lubang ini!” Pan Kasim amat heran karena ular itu dapat berbicara layaknya manusia.
“Hai, ular raksasa! Apakah kamu tadi yang berteriak meminta tolong?” tanya Pan Kasim.
“Benar. Meskipun wujudku seperti ular, tapi aku bisa berbicara seperti kamu,” jawab ular raksasa itu,
“Jika kamu menolongku menyingkirkan kayu ini, apa pun yang kamu minta akan kukabulkan.”
Mendengar imbalan yang menggiurkan itu, Pan Kasim pun segera menolong ular raksasa dengan menyingkirkan batang kayu besar tersebut. Ular raksasa itu pun akhirnya dapat keluar dari lubangnya.
“Terima kasih,,” ucap ular itu, “Sesuai dengan janjiku tadi, sekarang katakan apa yang kamu inginkan dariku, aku pasti mengabulkannya.” Pan Kasim tidak langsung menjawab. Sejenak ia berpikir bahwa selama ini dirinya selalu hidup menderita karena didera kemiskinan. Oleh karena itu, ia menginginkan agar dijadikan orang kaya.
“Jadikanlah aku dan istriku orang kaya!” pintanya,
“Kami sudah bosan terus hidup menderita seperti ini.”
“Baiklah, jika itu yang kamu inginkan. Pulanglah karena semua keinginanmu sudah terwujud saat kamu sampai di rumah!” ujar ular raksasa itu.
Mendengar perkataan ular itu, Pan Kasim pun cepat-cepat pulang. Saking gembiranya, sampai- sampai ia lupa membawa kayu bakar yang telah dikumpulkannya. Di sepanjang perjalanan, raut wajahnya tampak berseri-seri dan selalu tersenyum gembira. Begitu tiba di rumahnya, ia amat terkejut dan terheran-heran. Gubuk reyotnya telah berubah menjadi rumah megah bagai istana raja yang dikelilingi oleh taman yang luas dengan dihiasi berbagai macam kembang warna-warni. Hatinya pun tiba-tiba menjadi berbunga-bunga saat melihat istri tercintanya sedang menunggu di depan rumah mewah itu dengan mengenakan pakaian yang bagus dan perhiasan yang indah.
“Oh, istriku. Kamu cantik sekali dan mempesona,” puji Pan Kasim dengan kagum. Men Kasim hanya tersenyum malu-malu bercampur rasa heran.
“Bagaimana semua keajaiban ini bisa terjadi, Pak?” tanya istrinya dengan heran. Pan Kasim pun menceritakan perihal pertemuannya dengan ular raksasa yang sakti itu.
“Semua ini berkat bantuan seekor ular raksasa yang aku tolong di hutan tadi,” jelas Pan Kasim. Setelah mendengar penjelasan itu, Men Kasim pun mengajak suaminya masuk ke dalam rumah untuk menikmati berbagai makanan lezat yang telah ia hidangkan. Sejak itulah Pan Kasim dan Men Kasim hidup serba mewah. Namun, kemewahan yang mereka rasakan secara tiba-tiba tersebut membuat para tetangga mereka bertanya-tanya dan merasa iri. Men Kasim yang merasa risi terhadap bisik-bisik para tetangga tersebut kemudian mengadu kepada suaminya.
“Pak, para tetangga sudah mulai berbisik-bisik mengenai diri kita. Mereka mengira harta kekayaan yang kita miliki adalah hasil rampokan,” keluh Men Kasim.
“Sudahlah, Bu. Tidak usah kamu risaukan tuduhan para tetangga itu. Mereka itu iri melihat kita,” ujar Pan Kasim. Men Kasim pun berusaha menepis perasaan risi itu.
Namun, semakin hari iri hati para tetangga semakin menjadi-jadi. Ia pun tidak tahan setiap hari menjadi buah bibir para tetangganya.
“Pak, walaupun kita kaya raya, tapi hidupku terasa tidak tenang karena bisikan para tetangga. Bahkan mereka kerap menghina kita,” keluh Men Kasim,
“Mintalah kepada ular itu agar orang-orang menghormati kita!” Pan Kasim yang sangat menyayangi istrinya segera berangkat ke hutan untuk menemui ular itu. Di hadapan ular itu, ia pun menyampaikan keinginan istrinya.
“Baiklah, akan kujadikan kalian raja dan permaisuri. Pulanglah, saat kamu tiba di rumah kamu akan berubah menjadi seorang raja,” ujar ular itu,
“Tapi, ingat! Kamu harus menjadi raja yang adil dan bijaksana.” Setelah mendengar pesan itu, Pan Kasim segera pulang. Sebelum tiba di rumah, ia sudah dijemput oleh beberapa orang pengawal dan langsung diantar ke istana. Rupanya, raja di negeri itu mengundurkan diri karena ingin bertapa di puncak gunung. Pan Kasim pun diminta untuk menggantikan kedudukannya. Maka, pada hari itu juga, Pan Kasim dinobatkan sebagai raja dan Men Kasim menjadi permasuri.
Sebagai seorang raja, Pan Kasim memiliki kekuasaan penuh di dalam istana. Mereka sangat dihormati sehingga apa pun yang perintah mereka pasti dituruti oleh para pengawal dan seluruh rakyatnya.
Suatu hari, Permaisuri Men Kasim ingin memakai kebaya kesayangannya. Ketika ia meminta kepada dayang untuk menyiapkan, kebaya itu ternyata belum kering karena hari sering hujan. Selang beberapa hari kemudian, cuaca kembali terang. Sang Permaisuri pun merasa gerah walaupun beberapa dayang telah mengipasinya.
“Aduh, kenapa seluruh badanku terasa gerah begini?” keluh Men Kasim.
“Ampun, Permaisuri! Hari ini matahari bersinar dengan amat terik,” jawab seorang dayang. Permaisuri Men Kasim yang sudah tidak tahan menahan rasa gerah tersebut kemudian mengajak para dayangnya untuk mandi di taman. Saat sedang mandi, terik matahari yang begitu panas membakar kulit sang Permaisuri sehingga menjadi hitam. Dengan geram, Permaisuri Pan Kasim itu memurkai matahari yang telah membakar kulitnya.
“Dasar, matahari sialan! Beberapa hari yang lalu ia tidak muncul-muncul hingga kebaya kesayanganku tidak kering-kering. Setelah muncul, teriknya malah membakar kulitku,” gerutu Men Kasim. Tidak terima kulitnya terbakar terik matahari, Permaisuri Men Kasim meminta kepada suaminya agar pergi menemui ular itu.
“Kanda, lihat kulitku jadi hitam begini gara-gara terik matahari!” hardik Permaisuri Men Kasim,
“Temuilah ular itu, Kanda! Mintalah kepadanya agar kita diubah menjadi matahari yang lebih berkuasa!” Raja Pan Kasim pun memenuhi permintaan permaisurinya. Ia segera menemui ular itu di hutan. Setelah menyampaikan permintaanya, ular raksasa itu menolak untuk mengambulkannya karena menganggap bahwa permintaan mereka terlalu berlebihan.
“Hai, kamu seorang yang serakah. Pulanglah, ada ganjaran yang menunggumu di rumah!” ujar ular itu. Dengan perasaan kecewa, Pan Kasim bergegas pulang. Setiba di istana, ia melihat raja negeri itu telah kembali dari bertapa. Pada saat itu pula, kedudukan Pan Kasim sebagai raja pun langsung dicopot. Ia dan istrinya kemudian diantar kembali ke rumahnya di desa. Mereka amat terkejut saat melihat rumah mereka yang megah kembali berubah menjadi gubur reyot. Akhirnya, Raja Pan Kasim dan Permaisuri Men Kasim yang serakah itu kembali menjadi rakyat biasa dan hidup miskin.
Itulah upah dari keserakahan dan tak tahu bersyukur, manusia memang dicipta memiliki ambisi untuk hidup lebih baik/layak, tetapi bukan dicipta untuk menjadi ambisius yang menghalalkan segala cara untuk mencapai ambisinya dengan lupa bersyukur.

Sumber:

https://www.reinha.com/2018/07/cerita-rakyat-bali-kisah-pan-kasim-dan-ular-sakti/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker