Makanan Minuman
Makanan Minuman
Makanan Kalimantan Barat Balai Karangan, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau
Pacri Nanas Rampela Ati Ayam
- 27 Maret 2018

Pacri Nanas Rampela Ati Ayam

Nanas, siapa yang tak kenal dengan buah yang satu ini. Buah yang digemari oleh kaum perempuan, buah yang kaya akan kandungan vitamin C dan sangat lezat dinikmati saat cuaca sedang panas. Nanas umumnya digunakan sebagai bahan untuk membuat rujak, jus dan juga acar. Namun siapa sangka, ternyata di Kalimantan Barat, di Desa Balai Karangan dan sekitarnya, Nanas menjadi bahan utama untuk membuat hidangan lezat yaitu Pacri Nanas yang dicampur dengan rampela ati ayam. Hemmm bagaimana ya jadinya? Yuk simak cara pembuatannya berikut ini:

Alat dan Bahan

  1. Nanas mengkal 1 buah (berat 1 Kg)
  2. Bawang putih 5 siung
  3. Bawang merah 3 siung
  4. Kemiri 5 biji
  5. Cabai merah 5 biji
  6. Gula 5 sdm
  7. Garam secukupnya
  8. Penyedap rasa secukupnya (boleh ditambahkan boleh tidak)
  9. Rampela ati secukupnya (makin banyak makin enak)
  10. Minyak goreng 3 sdm
  11. Santan kental 300 ml
  12. Air 200 ml
  13. Daun salam 3 lembar

 

Dalam pembuatan pacri nanas terdiri dari beberapa step. yuk disimak!

Step 1

Perebusan nanas.

  1. Nanas mengkal dikupas dari kulitnya
  2. Potong-potong dadu buah nanas yang telah dikupas
  3. Cuci dengan air bersih
  4. Rebus nanas hingga mendidih, kemudian tiriskan

 

Step 2

Ungkep rampela ati ayam

  1. Bersihkan rampela ati ayam, kemudian berikan perasan air jeruk/cuka untuk menghilangan bau amisnya.
  2. Ungkep dengan menambahkan sedikit garam, (serai dan kunyit yang sudah dihaluskan)
  3. Jika sudah mendidih, tiriskan lalu potong-potong dadu rampela ati ayam

 

Step 3

Proses pembuatan sambal nanas

  1. Haluskan bumbu (bawang merah, bawang putih, kemiri, dan cabai merah)
  2. Tumis bumbu dan daun salam hingga harum, kemudian masukan rampela ati ayam (aduk hingga merata)
  3. Masukan nanas, aduk hingga merata
  4. Kemudian masukan santan kental 300 ml dan air 200 ml, aduk hingga rata lalu diamkan hingga mendidih.
  5. Setelah mendidih tambahkan garam, gula dan penyedap rasa secukupnya, aduk hingga rata, lalu tutup kembali dan tunggu hingga air kuah sedikit mengering.
  6. Matikan api, angkat dan sajikan didalam wadah/mangkok.
  7. Pacri nanas rampela ati ayam siap di santap.

 

Keterangan:

Pacri nanas ini bisa diaplikasikan dengan daging sapi, babat sapi/kambing, ceker ayam dan ikan teri. tingkat kepedasan sesuai selera. Pacri nanas ini bisa untuk 10 orang/lebih.

 

More info

Wa 082232961911

Instagram @SrieSf

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu