Makanan Minuman
Makanan Minuman
Makanan Sulawesi Selatan Toraja
Pa'karing Duku' Bai - Toraja - Sulawesi Selatan
- 12 Februari 2018
Setiap upacara adat suku Toraja selalu ada hewan babi yang dipotong. Babi merupakan salah satu hewan yang jadi syarat utama untuk pelaksanaan acara adat.
 
Kehadiran babi bisa dijumpai pada upacara pemakaman, peresmian rumah Tongkonan, pesta perkawinan, ucapan syukur panen dan masih banyak lagi. Intinya babi merupakan hewan yang harus ada di setiap pesta orang Toraja.
 
Jumlah babi yang dipotong dalam setiap pesta bervariasi. Mulai dari hitungan beberapa ekor saja hingga ratusan. Biasanya babi banyak dipotong pada upacara pemakaman dan peresmian rumah Tongkonan.
 
Jika babi yang dipotong dalam suatu acara pesta adat bisa mencapai ratusan ekor maka bisa dibayangkan banyaknya daging yang tersedia. Lalu apakah semua daging itu akan habis dikonsumsi di tempat acara diadakan? Tidak semua.
 
 
Pa'karing daging dan lemak babi
Siapa yang sanggup menghabiskan daging dalam jumlah yang sangat banyak itu. Sementara perut manusia cuma bisa menampung beberapa irisan daging yang sudah masak, karena selain daging tentu ada lauk lain juga yang masuk ke dalam perut seperti nasi dan sayur.
 
Lalu kemana perginya daging-daging babi itu jika tidak habis dimakan? Orang Toraja punya cara mengawetkan daging babi atau kerbau.
 
Yaitu dengan cara daging tersebut diasapi atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pa'karing. Orang Indonesia menyebut dengan dendeng.
 
Daging dendeng yang dicampur dengan bawang putih dan ketumbar ini memliki cita rasa yang khas dan harum. Saat dimasak akan mengeluarkan aroma yang sedap.
 
 
Kayu dan api untuk mengasapi daging babi
Beragam cara dilakukan untuk memasak dendeng babi atau kerbau. Ada yang dimasak dengan daun ubi kayu (singkong), daun pepaya atau dicampur dengan nangka yang dimasak dengan santan.
 
Jika ingin praktis maka dendeng babi tinggal dibakar saja. Lalu dimakan dengan sambal uleg, rasanya pasti nikmat.
 
Bila ingin menikmati dendeng dengan sensasi rasa yang lain. Cobalah memasak daging dendeng babi dengan pete atau petai.
 
Gampang saja, daging babi diiris kecil-kecil seperti dadu lalu dimasukkan ke wajan yang sudah berisi potongan pete yang sudah dikupas serta cabai yang sudah diuleg, kemudian masukkan bumbu dapur dan aduk dendeng. Cara pembuatan seperti ini sama saja jika anda membuat sambal daging sapi.
 

 

Daging dendeng babi dapat disimpan dan tahan lama di dalam freezer. Pa'karing duku' bai memang dendeng babi yang enak dan lezat. Mari makan.
 
Bia dibeli di:
Warung Pong Buri'  
Jl. Pembangunan, Penanian, Rantepao, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan 91833
 
 
Sumber:
https://tsjokka.blogspot.co.id/2017/04/pakaring-duku-bai-dendeng-babi-yang.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu