Makanan Minuman
Makanan Minuman
Makanan Minuman Kalimantan Timur Kalimantan Timur
Putu Mayang Kalimantan Timur
- 9 Juli 2012

Bahan:
250 g tepung beras baru
350 ml air panas
daun pisang untuk alas

Saus:
250 g gula merah, sisir
100 g gula pasir
700 ml santan kental dari 1 butir kelapa
1/2 sdt vanili
garam secukupnya
1 sdm tepung maizena, cairkan dengan 2 sdm air

Cara membuat:
1. Kukus tepung beras selama 30 menit hingga matang, angkat masukkan dalam mangkok
2. Tuangi air panas secara bertahap, sambil terus diaduk hingga air habis dan adonan matang
3. Cetak dengan cetakan putu mayang, kukus selama 30 menit hingga matang. Angkat dan dinginkan. Sajikan dengan sausnya
4. Campur gula merah, gula pasir, santan, vanili dan garam. Rebus hingga gula mencair, saring. Masak kembali, tuangi dengan cairan tepung maizena. angkat.
 

 
Lokasi penjual:
Warung Makan Nasi Urap "Sari"  
Alamat: Jl. Taqwa, Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan 70812

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Sasando: Nada Abad ke-7 Rote yang Mendunia
- -
-

Sasando: Nada Abad ke-7 Rote yang Mendunia Identitas dan Asal-Usul Sasando adalah alat musik tradisional yang berasal dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Alat musik ini dikenal sebagai instrumen petik yang dimainkan dengan cara dipetik menggunakan jari-jari tangan. Sejarah Sasando dapat ditelusuri hingga abad ke-7, menjadikannya salah satu warisan budaya yang kaya dan berharga bagi masyarakat Rote [C1][C2]. Sasando memiliki bentuk yang sederhana, menyerupai tabung panjang yang terbuat dari bambu, dengan senar yang direntangkan di atasnya, serta dilengkapi dengan wadah anyaman daun lontar [C3][C4]. Keunikan Sasando terletak pada cara pembuatannya dan suara yang dihasilkan. Penyangga di tengah tabung memberikan nada yang berbeda pada setiap petikan dawai, menciptakan melodi yang lembut dan khas [C5]. Selain itu, bentuknya yang menyerupai alat musik petik lainnya, seperti gitar dan kecapi, memberikan identitas tersendiri bagi Sasando dalam konteks musik tradisional Ind...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Sasando: Nada Abad ke-7 Rote yang Mendunia
Alat Musik Alat Musik
Nusa Tenggara Timur

Sasando: Nada Abad ke-7 Rote yang Mendunia Identitas dan Asal-Usul Sasando adalah alat musik tradisional yang berasal dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Alat musik ini dikenal sebagai instrumen petik yang dimainkan dengan cara dipetik menggunakan jari-jari tangan. Sejarah Sasando dapat ditelusuri hingga abad ke-7, menjadikannya salah satu warisan budaya yang kaya dan berharga bagi masyarakat Rote [C1][C2]. Sasando memiliki bentuk yang sederhana, menyerupai tabung panjang yang terbuat dari bambu, dengan senar yang direntangkan di atasnya, serta dilengkapi dengan wadah anyaman daun lontar [C3][C4]. Keunikan Sasando terletak pada cara pembuatannya dan suara yang dihasilkan. Penyangga di tengah tabung memberikan nada yang berbeda pada setiap petikan dawai, menciptakan melodi yang lembut dan khas [C5]. Selain itu, bentuknya yang menyerupai alat musik petik lainnya, seperti gitar dan kecapi, memberikan identitas tersendiri bagi Sasando dalam konteks musik tradisional Ind...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kerokan Punggung orang yang sudah dikerok
Pengobatan dan Kesehatan Pengobatan dan Kesehatan
Jawa Barat

Kerokan Punggung orang yang sudah dikerok Identitas dan Asal-Usul Kerokan adalah praktik pengobatan tradisional yang populer di Indonesia, terutama untuk mengatasi gejala masuk angin. Teknik ini melibatkan penggunaan benda tumpul seperti koin, batu giok, atau potongan jahe untuk menggosok punggung, yang dipercaya dapat "mengeluarkan angin" dari dalam tubuh dan meningkatkan peredaran darah [C1][C5]. Asal-usul kerokan dapat ditelusuri kembali ke China, di mana teknik serupa dikenal sebagai Gua Sha dan pertama kali dipraktekkan pada abad ke-5 [C2][C10]. Praktik ini kemudian menyebar ke negara-negara Asia lainnya, termasuk Vietnam dan Kamboja, menunjukkan bahwa kerokan memiliki akar budaya yang luas di kawasan ini [C9]. Di Indonesia, kerokan telah menjadi tradisi turun-temurun yang diwariskan dari generasi ke generasi [C8]. Masyarakat Indonesia menganggap kerokan sebagai solusi yang murah dan efektif untuk mengatasi masalah kesehatan ringan, terutama ketika merasa tidak en...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kerokan Punggung orang yang sudah dikerok
- -
-

Kerokan Punggung orang yang sudah dikerok Identitas dan Asal-Usul Kerokan adalah praktik pengobatan tradisional yang populer di Indonesia, terutama untuk mengatasi gejala masuk angin. Teknik ini melibatkan penggunaan benda tumpul seperti koin, batu giok, atau potongan jahe untuk menggosok punggung, yang dipercaya dapat "mengeluarkan angin" dari dalam tubuh dan meningkatkan peredaran darah [C1][C5]. Asal-usul kerokan dapat ditelusuri kembali ke China, di mana teknik serupa dikenal sebagai Gua Sha dan pertama kali dipraktekkan pada abad ke-5 [C2][C10]. Praktik ini kemudian menyebar ke negara-negara Asia lainnya, termasuk Vietnam dan Kamboja, menunjukkan bahwa kerokan memiliki akar budaya yang luas di kawasan ini [C9]. Di Indonesia, kerokan telah menjadi tradisi turun-temurun yang diwariskan dari generasi ke generasi [C8]. Masyarakat Indonesia menganggap kerokan sebagai solusi yang murah dan efektif untuk mengatasi masalah kesehatan ringan, terutama ketika merasa tidak en...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Bahasa Sanskerta Prasasti Ciaruteun atau prasasti Ciampea ditemukan di tepi Ci Aruteun, anak sungai dari Ci Sa
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Barat

Bahasa Sanskerta Prasasti Ciaruteun atau prasasti Ciampea ditemukan di tepi Ci Aruteun, anak sungai dari Ci Sa Identitas dan Asal-Usul Prasasti Ciaruteun—alternatif disebut Prasasti Ciampea—merupakan prasasti batu berbahasa Sanskerta yang merupakan peninggalan masa Kerajaan Tarumanagara [S2]. Dalam klasifikasi kebudayaan, objek ini tergolong dalam kategori Naskah Kuno dan Prasasti, yakni media tulis kuno berupa huruf atau tanda konvensional yang dipahat pada bahan tahan lama untuk merekam peristiwa penting [S1][S3]. Secara teknis, prasasti ini berdimensi 200 cm × 150 cm dan telah terdaftar sebagai cagar budaya dengan nomor registrasi 139/M/1998 tanggal 16 Juni 1998 [S2]. Daerah asal prasasti terletak di tepi Ci Aruteun, anak sungai Ci Sadane, yang secara administratif masuk dalam Desa Ciaruteun Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, pada koordinat 6°31’23,6” LS dan 106°41’28,2” BT [S2]. Sebagai bukti utama peradaban kuno, prasasti ini—bersama prasasti lain—memegang peran...

avatar
Kianasarayu