Pada umumnya, nasi terbuat dari beras. Akan tetapi, berbeda dengan jenis nasi yang satu ini. Nasi oyek adalah jenis nasi yang terbuat dari singkong. Teksturnya hampir mirip dengan butiran nasi yang terbuat dari beras, tetapi cita rasa keduanya sangat berbeda. Nasi oyek ini lahir ketika masa penjajahan dulu. Ketika orang-orang golongan bawah atau yang biasa disebut pribumi tak mampu untuk membeli beras, alhasil mereka mencari cara lain sebagai pengganti. Mereka mengganti beras yang mahal dan tak bisa mereka beli dengan singkong. Dalam keadaan yang serba kekurangan tersebut, terciptalah nasi oyek di kalangan para pribumi.
Untuk membuat nasi oyek ini, dibutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan menanak nasi. Untuk menanak nasi kita hanya membutuhkan beberapa menit saja, tetapi untuk memasak nasi oyek kita membutuhkan waktu sekitar 2 hari. Proses yang memakan waktu paling lama adalah merendam singkong yang sudah dikupas dan dibersihkan. Singkong harus direndam sekitar 2 hari sebelum ditumbuk hingga halus dan dijemur dibawah terik sinar matahari hingga menjadi kering dan teksturnya berubah. Singkong kering tersebut lalu dibentuk menjadi butiran-butiran kecil yang bentukny mirip butiran nasi. Terakhir, kukus singkong dan jadilah nasi oyek.
Nasi oyek biasanya disantap bersama dengan sahabatnya yaitu kelapa parut. Nasi oyek ini biasanya dihidangkan di atas daun kelapa atau daun jenis lain tergantung daerahnya. Di Kebumen, yang paling umum nasi oyek dihidangkan di atas daun kelapa.
Dahulu, nasi oyek memang menjadi makanan orang kurang mampu, tetapi sekarang tak lagi begitu. Semua kalangan bisa menyantap nasi oyek tanpa membedakan golongan asal mereka. Nasi oyek ini dapat kita temukan sebagai jajanan pasar di pasar tradisional hampir di seluruh Jawa Timur, khususnya Kebumen. Selain itu, nasi oyek juga terkenal tidak hanya di daerah timur Pulau Jawa. Akan tetapi, di Jawa Barat pun sudah cukup terkenal yang namanya nasi oyek ini.
#OSKM2018
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara