Olahan Cakalang menjadi salah satu andalan kuliner di Sulawesi Utara. Salah satunya adalah Nasi Cakalang. Sebenarnya makanan ini hanya nasi putih yang dimasak bersama ikan cakalang, tapi bahan dan bumbu yang digunakan serta proses pembuatan dan penyajiannyalah yang membuat masakan ini istimewa. Penasaran? Cek resep berikut ini.
Bahan-bahan: 5 ons beras putih 6 ons ikan cakalang 3 gelas santan 1,2 liter air 6 siung bawang merah, cacah halus 4 buah cabai merah, diiris halus 3 buah lengkuas 3 sendok makan minyak goreng 2 lembar daun pandan 2 lembar daun salam 2 batang serai, diiris halus 1 sendok teh ketumbar bubuk ½ sendok makan garam
Bumbu Halus: 1 sendok teh garam 1 sendok teh asam Jawa 1 sendok makan daging 3 cm kunyit, dibakar
Bahan Pelengkap: 3 ons sayuran asam 20 gram mentimun, diiris-iris 10 lembar daun pepohonan 2 sendok makan air jeruk nipis
Cara Membuat: 1. Langkah pertama adalah menyiapkan semua bahan dan bumbu yang dibutuhkan hingga lengkap. 2. Setelah itu, cuci beras putih sampai bersih. Cuci juga ikan cakalang yang sebelumnya sudah dibersihkan dan dipotong-potong. 3. Selanjutnya, beras yang sudah dicuci bisa Anda kukus selama 25 menit hingga setengah matang. 4. Sementara itu, Anda bisa merebus santan bersama daun pandan, daun salam, garam serta ketumbar bubuk. Aduk merata. 5. Angkat beras kukus lalu tuangkan ke dalam rebusan santan dan aduk merata. Aroni dengan api kecil hingga santan berkurang atau habis. 6. Ikan yang sudah Anda cuci bisa dilumuri bumbu halus dan dibiarkan selama beberapa menit sampai bumbu meresap. 7. Sementara menunggu, panaskan minyak untuk menumis bawang merah, cabai merah, lengkuas dan serai sampai harum. 8. Tuangi air sembari tetap diaduk dan dimasak hingga mendidih. Kalau sudah, masukkan ikan cakalang lalu masak sampai matang dengan api kecil. 9. Angkat ikan cakalang dan sajikan di dalam wadah yang sudah Anda isi dengan nasi, sayuran dan irisan timun. 10. Beri perasan jeruk nipis lalu aduk merata. Hidangkan di piring saji dan segera nikmati.
Sumber: http://www.masakandapurku.com/2016/01/resep-membuat-nasi-cakalang-khas.html?m=1
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara