Makanan Minuman
Makanan Minuman
Makanan Jawa Timur Bondowoso
Nasi Buk Buk Pincuk Bondowoso - Bondowoso - Jawa Timur
- 10 Februari 2018

Bahan-bahan

3 porsi
 
             Nasi buk buk:
  1. 50 gram Bubuk Jagung
  2. 100 ml air kapur (ambil yang jernih)
  3. 2 cup beras putih (pakai cup magic com)
  4. Secukupnya Air, tergantung jenis beras & selera (500 ml air)
    Sayuran:
  5. 1 ikat terong kecil
  6. 1 ikat genjer
    Sambal:
  7. 5 cabe rawit (sesuaikan selera)
  8. 2 buah tomat iris jadi 4 bagian
  9. 2 sachet terasi ABC kecil (dibakar)
  10. Sesuai selera garam
  11. Sesuai selera gula pasir
  12. Sesuai selera gula merah (gula jawa)
    Tempe goreng:
  13. 1 papan Tempe
  14. 2 siung bawang putih
  15. 1/2 sdt ketumbar
  16. Sesuai selera garam
  17. 9-10 sdm air
     Ikan asin:
  18. 1 ekor ikan asin
  19. 3 siung bawang putih
  20. Secukupnya air
  21. Secukupnya daun pisang untuk pincuk

Langkah

            Nasi buk buk:
  1. Cuci beras lalu masukkan ke dalam panci. Aron atau rebus dengan air hingga air nya menyusut. Tapi jangan lupa diaduk secara merata agar tidak gosong di bagian bawahnya. Setelah menyusut airnya, angkat. Sisihkan
  2. Panaskan kukusan (dandang)
  3. Sambil menunggu kukusan panas. Siapkan bubuk jagung
  4. Masukkan bubuk jagung ke dalam panci lalu isi dengan air rendaman kapur (yang jernih). Rebus sambil di aduk aduk hingga seperti bubur / lembek. Angkat, sisihkan.
  5. Masukkan aron nasi ke dalam kukusan, bagian atas nasi di beri bubuk jagung yang telah di rebus tadi. Kukus hingga matang (25 menit)
  6. Setelah matang, campur secara merata antara nasi dengan bubuk jagung dengan menggunakan sendok nasi

    Sayuran:

  7. Cuci bersih terong kecil. Potong tangkainya. Kukus bersama nasi buk buk selama 15 menit atau hingga matang. Angkat, sisihkan
  8. Cuci bersih genjer, buang bagian pangkalnya. Selanjutnya genjer dipotong menjadi 3 bagian
  9. Masukkan genjer ke dalam air panas selama kurang lebih 1-2 menit atau hingga agak layu. Karena kalau over matangnya bisa pahit rasa genjernya. Tiriskan

    Sambal terong:

  10. Cuci bersih tomat dan cabe rawit. Potong tomat menjadi 4 bagian dan buang tangkai cabe rawit
  11. Goreng tomat dan cabe rawit hingga layu
  12. Uleg / haluskan tomat, cabe rawit, terasi bakar, gula pasir, gula merah dan garam. Tes rasa. Lalu masukkan terong kecil ke dalam cobek (tempat sambal). Terong ditekan tekan dan dibaluri sambal

    Lauk tempe:

  13. Potong satu papan tempe menjadi 4 bagian lalu kerat dengan pisau hingga terbentuk garis kotak kotak miring (tujuannya agar bumbu bisa meresap ke dalam tempe).Sisihkan
  14. Haluskan bumbu Tempe (bawang putih,ketumbar,garam) lalu beri air 9 sdm. Aduk dengan uleg uleg agar bumbu tercampur rata. Bumbui tempe dengan mencelupkannya ke dalam bumbu
  15. Goreng tempe hingga matang (kuning kecoklatan) dengan api sedang

    Ikan asin:

  16. Cuci bersih ikan asin
  17. Agar ikan asin rasanya tidak terlalu asin setelah di goreng, maka sebelumnya bungkus ikan asin dengan koran. Lalu rendam dalam air selama kurang lebih 4 jam
  18. Setelah di rendam, buang koran pembungkus ikan asin. Cuci bersih ikan asin, lalu potong jadi 4 bagian. Lumuri ikan dengan air bawang putih (bawang putih yang dihaluskan dan di beri air 9 sdm)
  19. Goreng ikan asin hingga matang
  20. Siapkan nasi buk buk dengan sayur, sambal terong berikut lauknya
  21. Tata nasi buk buk, sayur genjer, lauk pauk dan sambal terong ke dalam pincuk daun pisang yang disemat dengan lidi
  22. Nasi buk buk pincuk bondowoso siap di nikmati

Sumber:https://cookpad.com/id/resep/651958-nasi-buk-buk-pincuk-bondowoso

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker