Indonesia adalah negara besar dengan kebudayaan yang begitu banyak. Itulah sebabnya Indonesia terkenal dengan cultural diversity-nya. Baik itu dalam pakaian, ritual, ornamen, lagu, dan tak lupa makanan. Masakan tradisional Indonesia yang diturunkan secara turun-temurun sudah menjadi tradisi. Salah satu yang unik adalah Nasi Buk, yaitu makanan khas Malang dari Madura. Binggung?
Nasi Buk adalah sajian yang sangat terkenal di Malang yang resepnya diberikan secara turun-temurun. Kata 'Buk' didasari dominasi ibu-ibu sebagai penjual makanan ini. Namun, penjual Nasi Buk sendiri sebenarnya adalah orang dari Desa Banjeman, Bangkalan, Madura. Mereka pindah ke Kota Malang sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu, dan mulai berjualan nasi Buk di tempat yang sekarang dikenal sebagai Jalan Laksamana Martadinata, tepatnya di gang Madiun. Tapi jangan khawatir, sebab Nasi Buk sudah menjadi kuliner khas malang yang menyebar di mana-mana di kota Malang. Namun jangan kaget jika kamu tidak menemukan Nasi Buk di Madura. Makanan ini diturunkan dari generasi ke generasi oleh orang Madura asli yang pindah ke Kota Malang.
Jadi, apa sebenarnya Nasi Buk itu? Menurut saya, secara sederhananya Nasi Buk itu adalah nasi campur khas Malang dengan lauk-lauk yang khas dan lezat. Pada waktu saya ke Malang, saya mendatangi salah satu tempat makan yang berjualan Nasi Buk. Setelah penjual mengambilkan nasi di piring saya, saya boleh memilih lauk-lauk apa saja sesuai selera saya. Lauk-lauk itu diantaranya adalah babat, jantung, ayam, dadar jagung, paru, ati, dan banyak lagi. Selain itu, juga bisa ditambah dengan sayur-sayuran lodeh atau rebung. Yang juga unik dari makanan ini adalah kripik parunya, yang rasanya lezat ( walaupun saya kurang suka).
Tetapi setiap tempat makan bisa saja menyajikan lauk-lauk tertentu yang tidak disajikan di tempat makan lainya. Itu dikarenakan banyaknya orang yang berjualan Nasi Buk ini, sehingga mungkin sudah beragam tipenya. Namun walaupun begitu, tetap saja Nasi Buk ini adalah makanan yang resepnya telah diturunkan dari generasi ke generasi sejak puluhan tahun yang lalu dan merupakan salah satu ciri khas makanan dari Malang.
refrensi:
https://www.kompasiana.com/majawati/576cc19dd27e619e04da10d0/nasi-buk-kuliner-suku-madura-yang-ngetop-di-malang
#OSKMITB2018
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...