Saya ingin sedikit bercerita soal pengalaman saya dan teman-teman saat pertama kali berlatih memainkan gambang kromong. Awalnya hal ini tidak pernah terlantas di pikiran kami semua, bahkan kamipun tidak tahu sama sekali mengenai alat musik tradisional ini, padahal alat musik ini merupakan kesenian daerah saya dan beberapa teman yang lain.
Saat SMP, saya dan teman-teman tergabung dalam suatu grup yang tertarik dengan seni, terutama seni musik. Lalu guru pembimbing kami mengatakan bahwa akan ada perlombaan musik tradisional yang akan dimulai pada tingkat kecamatan, kotamadya, provinsi, dan nasional. Karena itu lah beliau mengajak kami ke suatu tempat pelatihan khusus seni betawi yaitu Balai Latihan Kesenian Jakarta Barat (karena kami berdomisili di Jakarta Barat). Bukan hanya di JakBar, BLK ini terdapat di masing masing kota yang ada di Provinsi DKI Jakarta. Di tempat itu lah kami benar-benar berlatih musik gambang kromong dari nâol. Awalnya memang kami sedikit ragu dan tak yakin kalau kami bisa, karena lomba nya dilaksanakan sebulan setelah kami berlatih.
Lalu kami berlatih sekitar 3 kali dalam seminggu untuk menyiapkan 1 buah lagu lengkap dengan intro dan outro yang dapat bebas diaransemen selama +/- 5 menit. Di tempat itu, kami seringkali mendapat pujian dari pengurus maupun rekan-rekan seni lain dikarenakan biasanya yang mau dan bisa bermain gambang kromong adalah kalangan usia 25 keatas. Dan kami pun pada saat itu notabene masih berumur 13-14 tahun.
Sebulan setelah itu, dengan segala latihan yang kami lakukan tibalah kami berlomba di tingkat Kotamadya, karena tim kami adalah satu-satunya di Kota Jakarta Barat jadi tidak perlu ada seleksi kembali di tingkat Kecamatan. Semua berjalan mulus saat perlombaan, dan akhirnya kami mendapatkan juara 2, dan juara 1 nya adalah dari Kota Jakarta Selatan yang menurut kami memang merekalah yang menjadi lawan besar dikarenakan musik gambang kromong sangat terdengar disana. Karena disana banyak SMP-SMP yang meletakkan musik gambang kromong ke dalam program ekstrakurikuler, jadi tidak begitu sulit untuk menemukan anak-anak yang mau dan bisa bermain alat musik tersebut. Hal ini berbanding terbalik di Kota Jakarta Barat yang jarang sekali meletakkan alat musik tersebut sebagai program di sekolah.
Hal ini sedikit menjawab pertanyaan besar saya sejak dulu, bahwa banyak muncul perspektif mengenai musik gambang kromong adalah musik kalangan usia keatas. Hal itu bisa sedikit terbantah dikarenakan sudah mulai muncul perlombaan musik tradisional dari mulai jenjang SMP, SMA maupun Perguruan Tinggi. Tentunya hal ini akan menciptakan generasi muda yang bangga dengan musik gambang kromong.
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...