.jpg)
Sumber: jalanjalan.co
Museum Anatomi Unika Atma Jaya adalah museum yang dimiliki Universitas Katolik Atmajaya yang memiliki koleksi berbagai anatomi tubuh manusia dengan menggunakan peraga asli.
Sebagai salah satu museum sejenis yang terlengkap di Indonesia, Museum Anatomi Atma Jaya merupakan museum pertama milik perguruan tinggi yang dibuka untuk umum.
Museum Anatomi Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya telah dibuka untuk umum sejak awal diresmikan pada tahun 1995. Artinya, bukan hanya para calon dokter saja yang dapat belajar mempelajari bagian tubuh manusia lewat cadaver atau mayat.
Para pengunjung museum dapat melihat bagian tubuh manusia mulai dari kerangka, otot, peredaran darah, pernapasan, sistem indera, pencernaan, urinaria, reproduksi dan syaraf yang diawetkan dengan terpajang disana.
Selain berasal dari tubuh manusia asli, museum tersebut juga memamerkan koleksi dalam bentuk manekin. Museum tersebut saat ini juga dilengkapi dengan citra tubuh manusia dalam bentuk foto radiologi, agar anatomi dapat dipelajari dengan lebih nyata.
Museum ini memiliki 3 lantai yang menyediakan ruang bacaan untuk pengunjung yang ingin ruang bebas berisik. Dan di ruangan lain disediakan ruangan khusus untuk berdiskusi, agar tidak mengganggu pembaca lain.
Kini Universitas Katolik Atmajaya (Unika Atmajaya) terus menambah koleksi museum anatominya. Kini museum yang terbuka untuk umum tersebut memiliki setidaknya 150 koleksi organ tubuh manusia mulai dari otot, hati, otak jantung hingga tengkorak.
Museum ini sangat bagus untuk anak-anak yang ingin tahu lebih jauh anatomi manusia. Bahkan ada tubuh manusia lengkap tanpa kulit yang memamerkan organ tubuh, otot-otot serta tulangnya dengan berdiri tegak.
Selama ini kita hanya tahu pengawetan dilakukan dengan merendam di cairan pengawet. Tapi ternyata ada yang menggunakan cara tertentu dengan menyedot seluruh cairan dalam tubuh lalu menyuntikkannya kembali dengan cairan silikon. Ada juga beberapa anggota tubuh yang dipotong sedemikian rupa sehingga kita bisa melihatnya dengan sangat rinci sekali.
Untuk kunjungan perorangan, silahkan konfirmasi dulu via Whatsapp ke nomor 0882 10020151 karena supaya tidak bentrok dengan kunjungan rombongan atau jadwal praktikum para Mahasiswa Kedokteran Universitas Atmajaya di museum tersebut.
Berbeda antara kunjungan perorangan dan kunjungan rombongan adalah kalau perorangan hanya ditemani / didampingi oleh petugas museum Anatomi. Sedangkan bila kunjungan rombongan akan ditemani oleh Dokter untuk menjelaskan.
Disarankan minimal usia anak untuk bisa masuk ke museum adalah kelas 3 SD ke atas karena isi museum ini mayoritas adalah organ tubuh manusia asli. Dikhawatirkan bila dibawah kelas 3 SD akan merasa takut, namun bila tetap ingin melihat, boleh masuk asalkan orangtuanya sudah mengkondisikan dan menjelaskan kepada anak.
sumber : http://www.liburananak.com/id/kids-holiday-spots/16-museums/831/museum-anatomi-fakultas-kedokteran-universitas-atmajaya#.XCm41mmyS00
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...