Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Mistis Jawa Barat Depok
Misteri Jembatan Panus
- 8 Agustus 2018

Depok merupakan salah satu kota yang ada di Jawa Barat atau tepatnya berada di sebelah selatan wilayah Jakarta, wilayah kota ini asalnya merupakan daerah kekuasaan VOC (17 April 1784). Seorang mantan pejabat VOC bernama Cornelis Chastelein membeli tanah yang luasnya mencakup Depok, wilayah Jakarta Selatan dan kabupaten Bogor dengan total luas wilayah 1.244 hektar pada tahun 1684. Ketika Cornelis Chastelein wafat, ia mewariskan tanah tersebut kepada para pekerjanya yang terbagi menjadi 12 marga, Jonathans, Leander, Bacas, Loen, Samuel, Jacob, Laurens, Joseph, Tholens, Isakh, Soediro, dan Zadhok. Banyak sekali bangunan bangunan peniggalan orang Belanda yang masih berdiri kokoh bahkan digunakan untuk fasilitas umum hingga sekarang, salah satunya adalah jembatan Panus. Jembatan Panus merupakan jembatan yang membantu masyarakat Depok melintasi sungan Ciliwung. nama "jembatan Panus" diambil dari seorang keturunan Belanda bernama Stephanus Leander yang di anggap warga setempat sebagai orang yang membangun jembatan tersebut pada tahun 1917-1918.

Tidak sedikit saya mendengar cerita cerita aneh dari warga setempat tentang penampakan makhluk halus yang pernah terlihat di jembatan Panus, salah satunya adalah seringnya muncul penampakan Opa Panus (sebutan Stefanus bagi warga Depok)  dan istrinya sambil membawa seekor anjing putih pada malam hari yang sedang melintasi jembatan tersebut, juga penampakan seorang wanita yang konon melakukan bunuh diri di jembatan Panus, bahkan menurut cucu dari Stephanus mengatakan pada era 1980-an beredar cerita di kalangan masyarakat tentang empat pendekar ghaib berbaju hitam yang muncul saat air sungai Ciliwung naik/banjir. warga Depok selalu mengatakan jika ingin melintasai jembatan Panus(menggunakan kendaraan), kita harus membunyikan klakson terlebih dahulu. Waktu itu Ayah saya juga mengatakan bahwa dahulu, orang orang sering menggunakan jembatan ini sebagai pesugihan kepada makhluk halus, mereka melempar sesajen berupa kelapa dan pakaian. seorang warga setempat juga mengatakan pernah melihat dua orang pria sedang membuang mayat ke sungai Ciliwung.

Mungkin banyak orang yang tidak percaya kepada cerita cerita yang berbau mistis, namun bagaimanapun juga, kita harus menghargai suatu tempat terutama bangunan bersejarah, seringkali saya melihat orang orang yang membuang sampah mereka ke sungai Ciliwung, akibatnya banyak sekali sampah yang tersangkut pada tiang tiang jembatan Panus, lingkungan sekitar pun menjadi kumuh dan tidak terawat.

#OSKMITB2018 

 

Sumber referensi 

https://kumparan.com/potongan-nostalgia/asal-usul-berdirinya-kota-depok

http://arwanamin.blogspot.com/2016/04/jembatan-panus-depok.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker