Satu lagi kuliner khas Palembang yang harus di ketahui dan tentunya di cicipi, namanya adalahmie celor. selama ini kita mungkin mengenal palembang dengan empek-empek atau yang sudah saya tampilkan sebelumnya yaitucelimpungan. Ternyata palembang juga memiliki kuliner khas lain yang berbahan dasar mie dan di beri nma mie celor.
Mie dari mie celor ini terbuat dari mie basah biasa. Yang berbeda adalah kuahnya. Kuahnya agak kental dan diberi udang. Yang khas dari mie celor adalah irisan telur rebus plus toge rebus yang dimakan bersama mie dan kuah udang tadi. Rasanya agak hot sedikit karena dicampur dengan cabe merah. Tapi biasanya wong Palembang akan makan dengan cabe hijau halus yang telah tersedia di masing-masing meja restoran karena kurang pedas, katanya. tapi bagi yang kurang suka dengan pedas mie celor juga sudah cukup pedas.
Selain itu, di setiap meja makan disediakan kerupuk ikan palembang atau rempeyek kacang. Tentunya tidak gratis, harus bayar terpisah tergantung jumlah kerupuk atau rempeyek yang dimakan. Harga seporsi mie celor adalah Rp 10.000, jadi anda tidak perlu "pusing " setelah menyantap salah satu kuliner khas palembang ini.
untuk kita yang tinggal jauh dari palembang tidak perlu khawatir tidak bisa menikmati kuliner khas ini, karena kita bisa membuatnya sendiri di rumah. bahan yang di gunakan relatif mudah di dapat dan membuatnya pun tidak susah-susah baget. silahkan klik disini untuk melihat resep dan cara membua mie celor khas palembang ini.
Salah satu restoran atau tempat makan mie celor asli Palembang yang terkenal terletak di Jalan Pasar 26 Ilir. Restorannya tidak begitu besar dan sederhana, tetapi banyak pejabat negara yang mampir ke restoran ini untuk menikmati rasa mie celornya yang lezat. Dan konon restoran ini bahkan menjadi langganan gubernur Sumatera Selatan jika beliau atau keluarganya memiliki hajatan.
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara