Mie Atep atau dikenal juga Mie Belitong atau Mie Belitung adalah kuliner yang wajib Anda cicipi saat liburan ke Belitung. Rasa Mie Belitung berbeda dengan makanan serupa yang ada di sejumlah daerah di Indonesia. Sebab, Mie Belitung berbahan dasar udang laut yang dihaluskan. Inilah yang membuat makanan khas ini dicari-cari sejumlah wisatawan saat melancong ke Belitung. Warung mie paling legenda ini terletak di Jalan Sriwijaya Nomor 27, Tanjungpandan, Belitung.
Usaha kuliner ini sudah dirintis sejak tahun 1973 oleh Nyonya Verawaty alias Atep. Cita rasanya yang sudah terkenal, membuat warung ini sering disambangi oleh orang terkenal, mulai dari kalangan artis, tokoh politik, pejabat, hingga Presiden RI ke-5, Megawati Soekarnoputri. Hal ini bisa dilihat di dinding warung yang memajang foto sejumlah orang top yang pernah menikmati mie di warung ini. Untuk menjaga cita rasa, Nyonya Atep turun tangan langsung meracik bumbunya dan melayani pembeli sampai sekarang. Resep Mie Belitung ini ia dapat dari leluhurnya.
Mie Belitung adalah mie kuning yang disiram kuah udang dan ditaburi bakwan udang, irisan timun, potongan kentang rebus, udang rebus, emping melinjo dan taoge ini sangat khas rasanya karena tidak ada di kota lain. Cara penyajiannya, mie kuning ditata dengan taburan taoge, irisan timun, potongan kentang rebus, tahu goreng, bakwan, Setelah itu disiram dengan kuah berbahan udang yang sedikit kental. Beberapa potong udang pun tampak disajikan dibagian puncak sajian Mie Belitung. Kemudian ditambah emping melinjo yang menambah kelezatan Mie Belitung.
Aroma kuah kaldunya yang berbau udang sangat menggugah selera apalagi dimakan saat panas. Rasa Mie Belitung yang membuat nikmat adalah kuahnya. Karena berasal dari kaldu udang asli dengan bumbu-bumbu. Kuahnya kental dan segar cocok untuk makan siang rasanya terasa pas mengalir di lidah. Seporsi Mie Belitung Atep dihargai Rp 15 ribuan. Sebagai pendamping, untuk minumannya Anda bisa memesan es jeruk kunci, harganya Rp 5 ribu. Hampir kebanyakan pengunjungnya adalah wisatawan dari luar kota yang telah mendapat rekomendasi.
Sumber: https://ksmtour.com/wisata-kuliner/kuliner-belitung/mie-belitung-atep-segarnya-kuah-udang-khas-belitung.html
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara