Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita rakyat Papua Pedalaman Papua
Meraksamana
- 25 Desember 2018
Meraksamana adalah seorang pemuda yang tinggal di pedalaman Papua. Ia mempunyai saudara bernama Siraiman. Ke mana pun pergi, mereka selalu bersama dan selalu saling membantu. Suatu ketika, Meraksamana memperistri seorang bidadari dari kahyangan. Namun, tidak berapa lama setelah mereka menikah, istrinya diculik oleh seorang raja yang tinggal di seberang laut bernama Raja Koranobini. Mampukah Meraksamana merebut kembali istrinya dari tangan Koranobini? Ikuti kisahnya dalam cerita Meraksamana berikut ini!
 
 
Dahulu, di sebuah kampung di pedalaman Papua, hiduplah dua pemuda yang bernama Meraksamana dan Siraiman. Sehari-hari mereka mencari kayu, berburu, dan mencari ikan di rawa maupun di sungai. Mereka, dan juga penduduk kampung lainnya melakoni pekerjaan tersebut karena memang daerah di sekitar mereka memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah.
 
Suatu malam, Meraksamana terlihat sedang berbaring berbaring di lantai rumahnya yang beralaskan daun-daun kering. Badannya terasa lelah setelah seharian bekerja. Pemuda itu tidak kuat lagi menahan rasa kantuk hingga akhirnya terlelap. Selang beberapa saat kemudian, Meraksamana tiba-tiba terbangun dan mengusap matanya.
 
“Oh, aku baru saja bermimpi melihat puluhan bidadari sedang mandi di telaga,” gumamnya.
 
Meraksamana merasa mimpi itu seperti nyata. Karena penasaran, malam itu juga ia segera menuju ke telaga yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Di bawah temaram cahaya bulan, ia berjalan menyusuri jalan setapak menuju telaga. Alangkah terkejutnya ia saat tiba di tempat itu, ia melihat sepuluh bidadari dari kahyangan sedang mandi sambil bersenda-gurau di tengah-tengah telaga. Ia pun segera bersembunyi di balik sebuah pohon besar dan mengawasi gerak-gerik para bidadari tersebut dari balik pohon.
 
“Ternyata, mimpiku benar-benar menjadi kenyataan,” kata Meraksamana, “Bidadari-bidadari itu sungguh cantik dan mempesona.”
 
Meraksamana terpesona melihat kecantikan para bidadari itu. Saat asyik mengintip, ia dikejutkan oleh kehadiran seorang perempuan tua yang tiba-tiba berdiri di dekatnya. Ia tidak tahu dari mana datangnya nenek itu.
 
“Hai, anak muda! Sedang apa kamu di sini?” tanya nenek itu.
 
“Sa... sa... saya sedang mengawasi bidadari-bidadari itu, Nek,” jawab Meraksamana dengan gugup.
 
Nenek itu tersenyum, lalu berpesan kepada Meraksamana.
 
“Jika ingin memperistri mereka, sebaiknya kamu ambil pakaian mereka yang diletakkan di atas batu besar sana!” ujar nenek itu sambil menunjuk ke tempat di mana pakaian para bidadari itu diletakkan, “Mereka pasti tidak akan bisa terbang kembali ke negerinya.”
 
“Baik, Nek,” jawab Meraksamana.
 
Dengan mengendap-endap, pemuda itu mendekati batu besar yang terletak di tepi telaga. Setelah dekat, ia berhenti sejenak dan bersembunyi di balik semak-semak. Begitu para bidadari itu lengah, dengan cepat Meraksamana menyambar salah satu pakaian milik bidadari tersebut lalu segera kembali ke tempat persembunyiannya. Ketika ia sampai di balik pohon besar itu, si Nenek sudah tidak ada. Meraksamana pun kemudian kembali mengawasi para bidadari tersebut.
 
Saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur, para bidadari telah selesai mandi dan bersiap-siap untuk kembali ke kahyangan. Satu per satu mereka mengenakan pakaian masing-masing. Namun, salah seorang dari mereka tampak kebingungan mencari pakaiannya.
 
“Kak, apakah kalian melihat pakaianku?” tanya bidadari itu.
 
“Memang kamu letakkan di mana pakaianmu, Bungsu?” bidadari yang sulung balik bertanya.
 
“Tadi aku meletakkannya di dekat pakaian kalian,” jawab bidadari bungsu.
 
Rupanya, bidadari yang kehilangan pakaian itu adalah si Bungsu. Ia dan kakak-kakaknya sudah mencarinya ke mana-mana, tapi belum juga ditemukan. Akhirnya, si Bungsu ditinggalkan oleh kakak-kakaknya karena hari sudah hampir pagi.
 
“Kakak, kenapa kalian meninggalkan aku sendirian di sini. Aku takut sekali,” ratap si Bungsu.
 
Melihat bidadari Bungsu itu bersedih, Meraksamana segera menghampiri dan menghiburnya.
 
“Hai, gadis cantik. Kamu siapa dan kenapa menangis?” tanya Meraksamana pura-pura tidak tahu.
 
“Aku Bidadari Bungsu dari kahyangan. Aku tidak dapat pulang bersama kakak-kakakku karena pakaianku hilang entah ke mana,” jawab si Bungsu.
 
Meraksamana tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Ia pun mengajak Bidadari Bungsu pulang ke rumahnya. Sejak itu, Bidadari Bungsu tinggal bersama dengan Meraksamana. Selang beberapa waktu kemudian, pemuda itu mengajaknya menikah. Si Bungsu pun tidak bisa menolak ajakan itu. Selain karena ia tidak bisa lagi kembali ke negerinya, hidupnya bergantung pada Meraksamana yang telah menolongnya. Akhirnya, mereka menikah dan hidup bahagia. Meraksamana pun semakin giat bekerja.
 
Suatu hari, Meraksamana terlihat sedang memperbaiki umpan dan kail bersama Siraiman. Rupanya, mereka hendak pergi memancing ke sungai. Seperti biasanya, sebelum pergi, ia selalu berpesan kepada istrinya.
 
“Dinda, jagalah dirimu baik-baik di rumah,” pesan Meraksamana.
 
“Baik, Kanda. Kanda pun sebaiknya berhati-hati di sungai. Kalau sudah mendapatkan ikan yang banyak, segeralah kembali,” ujar Bidadari Bungsu.
 
“Baik, Dinda,” jawab Meraksamana.
 
Setelah berpamitan, Meraksamana ditemani Siraiman pun berangkat ke sungai. Hari itu, mereka sangat beruntung karena ikan-ikan di sungai sedang doyan makan. Setiap kali mereka melemparkan umpan, ikan-ikan langsung menyambar. Tidak sampai setengah hari, mereka telah mendapatkan hasil tangkapan yang cukup banyak. Mereka pun memutuskan untuk pulang. Setiba di rumah, Meraksamana segera memanggil istrinya.
 
“Dinda, Kanda sudah pulang. Cepatlah keluar, Kanda membawa ikan yang banyak sekali!” seru Meraksamana.
 
Beberapa kali Meraksamana memanggil istrinya, namun tak ada jawaban. Ia pun mulai khawatir.
 
“Siraiman, kenapa istriku tidak keluar-keluar juga?” tanyanya kepada Siraiman dengan cemas, “Padahal biasanya, sekali saja aku memanggilnya dia sudah datang menyambutku.”
 
“Barangkali istri kakak sedang tidur” jawab Siraiman dengan santai.
 
“Tidak mungkin. Ia tidak pernah tidur sebelum aku pulang,” sanggah Meraksamana.
 
Meraksamana pun semakin cemas. Ia segera masuk ke dalam rumah. Namun, istrinya tidak juga terlihat. Ia kemudian mencarinya di sekitar rumah dan bertanya kepada tetangga, tapi tak seorang pun yang melihatnya. Akhirnya, ia bersama Siraiman segera mencarinya ke luar perkampungan. Dalam perjalanan, mereka menemukan seorang laki-laki sedang tergantung di pohon dengan tangan terikat.
 
“Hai, kamu siapa dan kenapa digantung?” tanya Meraksamana.
 
“Aku Mandinuma dari Negeri Koranobini yang berada di seberang laut,” jawab laki-laki setengah baya itu, “Aku dihukum oleh rajaku karena aku suka makan banyak sehingga banyak merugikan orang lain.”
 
Meraksamana kemudian menanyakan perihal istrinya kepada Mandinuma.
 
“Apakah kamu melihat seorang wanita lewat di sini?” tanyanya.
 
“Ya, tadi aku wanita cantik seperti bidadari lewat di sini. Tapi, ia bersama dengan Raja Koranobini yang telah menghukumku,” jawab Mandinuma.
 
“Hai, kenapa istriku bisa bersama dia?” tanya Meraksamana bingung.
 
“Ketahuilah, Meraksamana! Raja Koranobini adalah raja yang bengis dan kejam. Walaupun sudah mempunyai istri banyak, ia suka mengganggu wanita-wanita cantik dan kemudian memperistrinya,”  jelas Mandinuma, “Aku akan membantu kalian, tapi dengan syarat lepaskan dulu jeratan tali ini.”
 
Meraksamana bersama Siraiman segera melepaskan tali yang menjerat tubuh Mandinuma dan kemudian menurunkannya dari pohon.
 
“Terima kasih karena telah membebaskanku,” ucap Mandinuma, “Sesuai dengan janjiku tadi, maka aku akan segera membebaskan istrimu dan membawanya kembali ke sini.”
 
Mandinuma segera berlari menuju ke laut dan diikuti oleh Meraksamana dan Siraiman. Setiba di pantai, ia langsung menghirup air laut hingga laut itu menjadi kering. Kedua orang bersaudara itu hanya terbengong-bengong melihat kesaktian Mandinuma.
 
“Kalian tunggu di sini saja,” ujar Mandinuma, “Biar aku sendiri yang menghadapi Raja Koranobini yang bengis itu dan segera membawa istrimu kemari.”
 
Mandinuma yang sakti itu dengan cepat berlari menuju istana Koranobini melewati jalan yang sudah menjadi daratan. Setiba di istana, ia mendapati Raja Koranobini sedang tertidur pulas. Tanpa sepengetahuan para penjaga, ia segera mencari keberadaan Bidadari Bungsu. Tak berapa lama kemudian, ia pun menemukannya sedang menangis di dalam sebuah kamar.
 
“Jangan, takut Putri! Aku Mandinuma, sahabat suamimu. Aku ke mari untuk menyelamatkanmu,” ujar laki-laki sakti itu.
 
“Sekarang suamiku ada di mana?” tanya Bidadari Bungsu.
 
“Suamimu sedang menunggumu di seberang lautan sana. Ayo, cepat kita tinggalkan tempat ini!” ujar Mandinuma seraya menarik tangan istri Meraksamana itu.
 
Setelah melihat keadaan sudah aman, keduanya pun segera pergi meninggalkan istana tanpa sepengetahuan Raja Koranobini. Alhasil, mereka berhasil sampai di seberang lautan. Meraksamana dan Siraiman pun menyambut kedatangan mereka dengan gembira. Mandinuma segera memuntahkan semua air laut yang telah dihirupnya sehingga jalan yang dilaluinya tadi kembali menjadi lautan yang luas.
 
Meraksamana tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada Mandinuma yang telah menyelamatkan wanita yang amat dicintainya itu. Ia pun amat bahagia karena dapat bertemu kembali dengan istrinya dan hidup seperti biasanya. Namun sayang, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Bidadari Bungsu meminta izin kepada suaminya untuk kembali ke kahyangan karena malu selalu diejek oleh masyarakat sekitarnya bahwa ia manusia yang tidak dikenal asal-usulnya dan tidak jelas keturunannya.
 
Walaupun berat hati, Meraksamana terpaksa mengizinkannya. Ia tidak ingin melihat istrinya terus menderita karena setiap hari dihina. Meraksamana pun terpaksa menyerahkan kembali pakaian istrinya yang disembunyikan di dalam rumahnya. Maka tahulah Bidadari Bungsu bahwa pakaiannya yang dulu hilang di tepi ternyata disembunyikan oleh suaminya. Meskipun begitu, ia tidak mempermasalahkannya. Ia malah berterima kasih kepada Meraksamana yang telah menolongnya selama dirinya tinggal di bumi.
 
Setelah mengenakan pakaiannya, Bidadari Bungsu segera terbang menuju kahyangan. Meraksamana pun melepas kepergian istrinya dengan hati sedih. Sejak itu, Bidadari Bungsu itu tidak pernah lagi kembali ke bumi menemui suaminya.
 


 

Demikian cerita Meraksamana dari Provinsi Papua. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas dalah bahwa segala sesuatu yang diperoleh dengan mudah dan cara yang tidak jujur akan mudah pula lenyap dari tangan kita.

Sumber : http://lestariceritapapua.blogspot.com/2014/09/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker
Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu