Meongmpalo adalah sebutan untuk kucing belang tiga atau berwarna tiga, dan Meongmpalo Karellae adalah kucing belang tiga berjenis kelamin jantan pada masyarakat Bugis. Kucing belang tiga umumnya berjenis kelamin betina, jantan sangat jarang atau bahkan langka. Jikapun ada biasanya memiliki cacat dan tidak bertahan lama karena adanya kelainan pada kromosom. Kelangkaan kucing belang tiga berjenis kelamin jantan, akhirnya dikaitkan dengan mitos di berbagai budaya. Bagi masyarakat bugis, Meongmpalo Karellae adalah pengawal setia Sangiang Serri (Dewi Padi), yang kisahnya terdapat dalam kitab Sureq Lagaligo.
Dahulu, pembacaan kisah Meongmpalo Karellae dilakukan pada upacara Maddoja Bine, yaitu upacara penyemaian bibit padi. Dipercaya bahwa, jika si pencerita kisah ini merasakan kegembiraan saat membacanya, maka menjadi pertanda bakal baiknya hasil panen, pun sebaliknya. Pembacaan cerita Meongmpalo Karellae sudah jarang dijumpai saat ini. Kalaupun ada biasanya hanyaseremonial saja, dan tidak lagi menjadi bagian budaya yang hidup di masyarakat.
Ringkasan cerita Meongmpalo Karallae sebagai berikut:
Ketika Meongmpalo Karellae tinggal di daerah Tempe dan bermukim di Wage (sekarang Kabupaten Wajo) kehidupannya senantiasa bahagia, senang, tenteram, tanpa pernah mengalami penderitaan hidup dan siksaan batin. Pemilik rumah yang ditempatinya sangat penyabar, berbudi luhur, dan bijaksana. Akan tetapi penguasa langit menimpakannya nasib buruk sehingga Meongmpalo dibawa ke Soppeng, kemudian ke Bulu, dan akhirnya menetap di Lamuru. Di tempat itu dia mulai merasakan penderitaan dan kepedihan.
Suatu waktu, tuannya yaitu pemilik rumah yang ditempatinya, pulang dari pasar membawa ikan ceppek-ceppek dan diambilnya seekor yang cukup besar. Tuannya marah dan memukulnya dengan gagang parang. Meompalo karellae menjerit merasakan kepalanya serasa mau pecah dan penglihatannya berkunang-kunang. Saking sakitnya dia berlari terbirit-birit menuju ke arah Enrekang, dan sampailah di Maiwa. Di tempat itu ia pun mendapatkan perlakuan yang sama seperti di Lamuru.
Di sebuah rumah, dia makan kerak nasi dan tulang ikan, sang tuan pemilik rumah melemparinya dengan sakkaleng (sepotong papan yang biasa dijadikan alas untuk membersihkan ikan). Meongmpalo lari menghindar hingga naik ke atas rangkiang(lumbung padi) tempat bersemayamnya Sangiang Serri (Dewi Padi). Mendengar keributan, Sangiang Serri terbangun dan menjadi sangat murka atas perbuatan penghuni rumah kepada Meongmpalo dan memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Sangiang Serri dan Meongmpalo meninggalkan tempat tersebut dan mencari tempat yang baik, namun tidak menemukan satu pun tempat yang menurutnya nyaman untuk ditinggali.
Akhirnya Sangiang Serri memutuskan untuk kembali ke langit dengan diantarkan oleh halilintar dan disertai kilat. Sesampainya di benua langit, mengadulah Sangiang Serri kepada ayahandanya perihal perilaku masyarakat di bumi. Mendengarkan pengakuan putrinya, Batara Guru menasihatinya dan memintanya untuk kembali ke dunia. Dengan berat hati, Sangiang Serri kembali ke dunia di tengah malam buta, diantarkan halilintar dan guntur, dan sampailah dia di tanah Barru.
Di daerah Barru, Pabbicara (juru bicara) bersama orang Barru berkumpul bersama menyambutnya secara adat dan melakukan peghormatan yang seharusnya kepada Sangiang Serri. Sambutan dan pelayanan yang baik yang dilakukan oleh Pabbicara (juru bicara) dan rakyat Barru, diterima dengan senang hati oleh Sangiang Serri. Oleh karena itu, Sangiang Serri menyatakan niatnya untuk tinggal di daerah Barru dengan syarat bahwa Pabbicara dan masyarakat Barru mau menerima dan mengamalkan amanah dari Batara Guru, yaitu: Janganl bertengkar pada saat menjelang malam atau pagi, begitu pula pada saat tujuh malam, utamanya malam Jumat. Nyalakanlah pelita pada saat menjelang malam, dan nyalakan api di dapur pada waktu malam. Usahakan periuk dan tempat air minum senantiasa terisi pada waktu malam. Usahakan pula tempat beras senantiasa berisi, dan jangan sampai kosong. Jika mengambil nasi jangan sampai terhambur, jangan pula berbicara pada waktu makan. Jangan melakukan perbuatan curang dan mengambil barang-barang yang bukan milikmu. Jangan makan secara diam-diam di dapur, jangan pula makan makanan yang tidak halal. Bilamana akan menabur benih, duduklah tafakkur menghadap pelita seraya menantikan petunjuk dari lubuk hatimu. Batasi pembicaraanmu, tingkah lakumu, keinginan, dan nafsumu. Batasi pula matamu dari sesuatu yang jelek atau buruk. Bilamana padi sudah tua atau masak, panenlah seikat demi seikat agar tidak terhambur, dan simpanlah di lumbung, dan usahakan jangan ditempatkan bersama buah-buahan yang dapat busuk karena bisa merusak padi. Demikianlah masyarakat Barru bersedia mengamalkan amanah tersebut, dan atas janji mereka maka Sangiang Serri bersama rombongan tinggal menetap di Barru.
Sumber ringkasan Meongmplao Karallae di atas diperoleh dari salah satu kumpulan tulisan hasil penelitian Balai Pelestarian Nilai Budaya Makassar yaitu, Bosara Nomor 19 Tahun VIII/2001, Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Makassar.
https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbsulsel/meongmpalo-karellae/
Aunu Senebre: Kelezatan Tersembunyi dari Tanah Papua Identitas Kuliner Aunu Senebre merupakan makanan pendamping tradisional yang berasal dari Papua [S1]. Hidangan ini dikategorikan sebagai kuliner khas Papua yang mulai dikenal dalam percakapan kuliner nasional, meskipun popularitasnya belum menyamai papeda atau ikan bakar Manokwari [S1][S3]. Secara definisi, Aunu Senebre adalah masakan tradisional berbahan dasar nasi atau singkong parut yang dicampur dengan ikan teri goreng, dan terkadang menggunakan ubi jalar sebagai variasi [S2]. Penyebutan "Aunu Senebre" sendiri merupakan istilah lokal yang melekat pada hidangan ini di tanah Papua [S1]. Sayangnya, belum ada sumber yang mengungkap secara spesifik asal-usul etimologis nama tersebut maupun daerah sentra produksi yang lebih terperinci di wilayah Papua. Keberadaan Aunu Senebre sebagai makanan tradisional Papua juga tercatat dalam daftar kuliner khas Indonesia dari 38 provinsi, yang menegaskan statusnya sebagai warisan k...
Congklak: Lebih dari Sekadar Permainan, Warisan Budaya Nusantara Identitas dan Asal-Usul Congklak merupakan permainan tradisional yang dikategorikan sebagai permainan papan dan biji, dikenal dengan beragam nama di berbagai wilayah Nusantara. Di Jawa, permainan ini lazim disebut congklak, dakon, dhakon, atau dhakonan [S1]. Sementara itu, di wilayah Sumatra dan Kalimantan yang berkebudayaan Melayu, nama yang digunakan adalah congkak [S1]. Variasi penamaan juga ditemukan di Lampung sebagai dentuman lamban, serta di Sulawesi dengan sebutan Mokaotan, Maggaleceng, Aggalacang, dan Nogarata [S1]. Keberagaman nama ini menunjukkan luasnya persebaran dan kuatnya akar permainan ini dalam tradisi lisan masyarakat Indonesia. Sejarah permainan congklak memiliki lintasan yang panjang dan tidak sepenuhnya terpusat di satu titik asal. Bukti menunjukkan bahwa permainan ini diduga mulai tersebar dari Afrika sebelum akhirnya masuk dan membudaya di Indonesia [S2]. Pendapat ini diperkuat oleh fakta ba...
Congklak: Lebih dari Sekadar Permainan, Warisan Nusantara Identitas dan Asal-Usul Congklak, juga dikenal sebagai Dakon, adalah permainan tradisional yang memiliki berbagai sebutan di seluruh Indonesia. Permainan ini termasuk dalam kategori permainan papan dan telah ada sejak zaman kuno, menjadikannya salah satu permainan tertua di dunia. Congklak dikenal dengan nama yang berbeda di berbagai daerah, seperti dhakon di Jawa, dentuman lamban di Lampung, dan makaotan di Sulawesi, menunjukkan keberagaman budaya yang ada di Nusantara [S2][S3][S4]. Sejarah Congklak menunjukkan bahwa permainan ini telah dimainkan oleh nenek moyang di Indonesia sejak lama, dengan bukti bahwa istilah dan variasi permainan ini muncul di berbagai daerah, termasuk di Sumatera dan Kalimantan yang memiliki kebudayaan Melayu [S3][S4]. Dalam konteks ini, Congklak tidak hanya menjadi sekadar permainan, tetapi juga mencerminkan warisan budaya yang kaya dan beragam di Indonesia. Bahan yang digunakan dalam permaina...
Jamu: Warisan Budaya Takbenda UNESCO dan Kebanggaan Indonesia Identitas dan Asal-Usul Jamu tradisional merupakan warisan kesehatan asli Indonesia berupa ramuan herbal yang diracik dari bahan-bahan alami [S1][S3]. Sebagai sistem pengobatan tradisional, jamu telah dipraktikkan secara turun-temurun selama berabad-abad oleh masyarakat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya nasional [S1][S2]. Praktik ini mencakup pengetahuan meracik, filosofi kesehatan, hingga aspek sosial-budaya yang menyertainya. Sejarah jamu berpusat di Jawa, dengan Kota Surakarta (Solo) sebagai salah satu episentrum utama yang masih aktif memproduksi dan melestarikan tradisi ini [S4]. Akar tradisi jamu dapat ditelusuri hingga era Kerajaan Mataram, di mana pengetahuan pengobatan herbal telah menjadi bagian dari kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi [S6]. Hingga kini, Jawa tetap menjadi daerah asal dan pusat budaya jamu yang paling kuat [S2][S6]. Bukt...
Tenun Sumba: Simbol Kehidupan dalam Setiap Helai Benang Identitas dan Asal-Usul Tenun Sumba merupakan kain tradisional yang berasal dari Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur [S1][S2]. Kain ini dikenal sebagai wastra yang diolah menggunakan pewarna alami dengan proses pengerjaan yang cukup panjang, berkisar antara enam bulan hingga tiga tahun [S3]. Keberadaan tenun Sumba tidak hanya sebagai karya seni tekstil, tetapi juga menjadi simbol identitas masyarakatnya yang mencerminkan kearifan lokal setempat [S2]. Sejarah tenun Sumba berkaitan erat dengan tradisi lisan masyarakatnya yang tidak mengenal tradisi tulis di masa lalu [S5]. Berdasarkan sastra lisan yang diwariskan turun-temurun dalam kepercayaan Marapu, nenek moyang masyarakat Sumba diyakini sebagai pendatang yang memasuki pulau ini secara bergelombang melalui beberapa titik, seperti Tanjung Sasar, Muara Sungai Pandawai, Muara Sungai Wulla, dan pantai selatan Pulau Sumba [S5]. Dalam Lii Marapu (sabda leluhur), diungkapka...