Uut sagu yang sangat jarang kita dengar merupakan camilan khas dari Kota Kupang, ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur. Meskipun nama makanan ini mengandung kata sagu namun sama sekali tak terdapat bahan makanan sagu dalam camilan ini. Di Kota Kupang kita tidak akan menemukan tanaman sagu karena sagu hanya terdapat di daerah Papua dan Maluku, namun Kupang memiliki banyak tanaman jagung dan bahkan digunakan sebagai makanan utama selain nasi. Camilan unik ini merupakan perpaduan antara jagung dan kelapa.
Camilan ini bisa dengan mudah dibuat di rumah kapanpun seperti yang kita inginkan. Bahan untuk dapat membuat makanan ini antara lain adalah jagung yang sudah tua atau kering bisa jagung berwarna kuning maupun putih, namun umumnya digunakan yang berwarna putih; kelapa parut yang semakin banyak akan menambah gurihnya camilan ini; serta gula pasir jika ingin menambah rasa manis.
Cara membuat makanan ini pertama-tama bersihkan jagung dan ambil bijinya, dan rendam di air selama 24 jam. Setelah itu tumbuk jagung sampai halus seperti terigu dengan alu dan lesung kemuudian campurkan hingga merata dengan kelapa yang sudah di parut dan disangrai atau dipanaskan tanpa minyak di atas wajan. Setelah itu sagu ini sudah dapat dinikmati dan dapat dikonsumsi dengan gula pasir bila ingin menambah rasa manis.
Camilan ini memiliki cita rasa yang gurih, dan manis serta memberikan kekuatan dan tenaga lebih bagi yang mengkonsumsinya. Hal menarik lain dari uut sagu ini memiliki masa kadaluarsa sekitar 1 bulan bila disimpan dengan baik di wadah/toples. Semoga kuliner Indonesia dari Sabang sampai Merauke dapat lebih dikenal oleh masyarakat luas terutama negara kita Indonesia sebagai budaya di bidang kuliner bahkan hingga masyarakat dunia.
#OSKMITB18
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara
Hubungi Call Center AyoPinjam Resmi Di Nomor ☎ 0831•6926•5049, Kontak WhatsApp Cs AyoPinjam 📞0857•5833•7054 Layanan Bantuan Kendala. Live Chat AyoPinjam Menyediakan Layanan Kontak Percakapan Atau Live Chat Yang Terdapat Pada Aplikasi AyoPinjam. Layanan Ini Tersedia Setiap Hari Online 24 jam.