Indonesia terkenal dengan suku bangsa yang begitu banyak dan menarik. Masing-masing suku bangsa itu pun memiliki adat dan budaya yang begitu banyak dan menarik pula. Lais adalah salah satu dari banyaknya budaya menarik tersebut.
Seni Lais merupakan salah satu kesenian khas sebuah daerah di Indonesia yaitu Garut. Nama "Lais" berasal dari nama seorang pemanjat pohon pada masa kolonial Belanda yang bernama Laisan. Laisan berasal dari Kampung Nangka Pait, Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut. Laisan sangat terampil memanjat pohon. Karena keahliannya, Laisan selalu ditonton masyarakat ketika memetik buah kelapa. Biasanya, para penonton bersorak sembari menabuh benda yang ada disekitarnya untuk menyemangati Laisan. Karena kebiasaan inilah, para tokoh kesenian di daerah tersebut meminta agar keterampilan ini dimodifikasi untuk dipentaskan di depan khalayak ramai.
Seni Lais sendiri adalah sebuah seni pertunjukan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang terdiri dari 8 orang. Delapan orang tersebut memiliki peran-peran tertentu, seperti beberapa pemain dogdog, pemain lawak, dan pemain terompet. Kesenian ini ditampilkan dengan menggunakan dua galah sepanjang dua belas sampai tiga belas meter yang dihubungkan dengan seutas tali tambang di ujungnya yang kemudian direntangkan dengan jarak kurang lebih 6 meter. Lalu, tetabuhan pun dimulai sebagai tanda pertunjukan telah dimulai. Seorang pemain akan mulai memanjat galah bambu dan berdiri dengan santai di ujung atasnya. Ia akan melakukan aksi-aksi akrobatik diiringi tetabuhan musik tradisional yang memukau penonton di atas tali, dari mulai berjalan, tidur, bahkan sampai membelah kelapa dengan golok. Pemain juga sering melakukan aksi lucu dan menegangkan, seperti pura-pura hendak terjatuh dari tali untuk membuat penonton kaget atau menelungkup di atas galah bambu sambil menirukan gaya berenang. Karena pertunjukan Seni Lais tidak dilengkapi pengamanan apapun, tentu saja pemain yang melakukannya haruslah seorang yang mahir.
Dengan segala keunikannya, sayang sekali belum ada pertunjukan seni Lais yang dilakukan secara rutin. Seorang pegiat Lais, Ade Dadang, ketika diwawancarai detikcom selepas acara pembukaan Gebyar Pesona Budaya Garut 2018, di Lapangan Ciateul, Tarogong Kidul, Kamis (22/2), mengatakan bahwa tidak banyak kalangan muda Garut yang mengetahui tentang seni atraksi ini. Ia mengatakan bahwa penyebabnya adalah minimnya kesempatan untuk mempertunjukkan Lais. Ia bilang bahwa seni Lais hanya ditampilkan saat peringatan hari jadi Garut saja. Hal itu pun berdampak pada tidak adanya regenerasi dari para pegiat seni Lais. menjelaskan kurangnya acara untuk mempertunjukkan Lais menjadi penyebabnya.Ade khawatir Lais akan diklaim daerah lain dan punah dari Garut. Ade berharap agar pemerintah yang berwenang bisa kembali menggiatkan seni Lais di Kabupaten Garut. Ia juga meminta pemerintah untuk memperhatikan seni-seni lain yang berasal dari Garut.
Indonesia terkenal dengan suku bangsa yang begitu banyak. Masing-masing suku bangsa itu pun memiliki adat dan budaya yang begitu banyak pula. Namun, beberapa adat dan budaya dengan mudahnya tergantikan seiring berkembangnya zaman. Lais adalah salah satu diantara banyaknya budaya tersebut yang hampir tergantikan. Hal ini menandakan bahwa Lais harus secepatnya dikenalkan kembali ke seluruh masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda. Hal ini penting demi menghargai kerja keras para pegiat Lais terdahulu dan kelestarian budaya Indonesia.
Referensi :
http://jelajahgarut.com/seni-lais-seni-akrobatik-khas-garut/
https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-3886082/seni-lais-tergerus-zaman-ini-harapan-para-seniman-di-garut
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara