Meleladan
Bali dikenal dengan pulau seribu pura dan memiliki banyak tradisi yang diadakan di setiap pura di Bali yang tidak diketahui oleh semua orang. Hanya orang di sekitaran daerah pura yang bersangkutan yang mengetahui tentang tradisi tersebut. Salah satunya adalah tradisi meleladan yang berasal dari Mengwi, Badung. Upcara ini biasanya dilaksanakan di Pura Mengwi dan jatuh pada anggara kliwon wuku medangsia dan diadakan 6 bulan sekali (210 hari sekali).
Meleladan merupakan sebuah tradisi yang dilakukan di Mrajan Puri Ageng Mengwi, yang merupakaran rangkaian dari Upacara Padudusan Agung. Meleladan sudah ada sejak berdirinya kerajaan Mengwi pada tahun 1734 dan merupakan tradisi turun temurun sejak abad ke 17 silam. Tradisi ini dihadiri oleh masyarakat disekitaran wilayah kecamatan Mengwi. Di Bali, tradisi ini termasuk ke dalam rangkaian upacara Dewa Yadnya, upacara Dewa Yadnya ini dalam agama Hindu merupakan upacara persembahan kepada Sang Pencipta. Masyarakat biasanya membawa berbagai macam haturan ke Puri Ageng Mengwi sebagai persembahan pada upacara Dewa Yadnya ini. Persembahan juga biasanya diberikan oleh keluarga Puri Agung Mengwi dan akan dipersembahkan kepada Sang Pencipta. Tradisi meleladan dilaksanakan oleh masyarakat dengan berjalan beriringan dan berbaris panjang sambil membawa gebogan (susunan buah, sesajen, serta banten ), pajeng, penjor, serta haturan lainnya ke Puri Ageng Mengwi. Tradisi ini juga biasanya diiringi oleh gong (gamelan Bali) serta kidung (nyanyian suci).
Tradisi meleladan ini menurut pemuka adat di Bali bertujuan untuk menciptakan keseimbangan serta keselamatan bagi seluruh masyarakat kabupaten Badung. Selain itu tradisi ini juga memiliki simbol menyatunya pemimpin (penguasa) dengan rakyat (warganya).
#OSKMITB2018
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara